21 Komentar Tulisan

Perlontean Politik: Kisah Persaudaraan Romantis Dari Aceh Di Balik Pilkada 2012 • penulis: Alex©, 02 Februari 2012 19:47:06 • Penting +5

"Saya siap jadi tim sukses Partai Aceh."

Menampilkan 1 - 21 dari 21 komentar.
TTTH Pertamax ah
03 Februari 2012 05:39:33
The Crow  @TTTH: http://multiply.com/mu/sepunten/image/1/photos/54/1200x1200/21/n01s9pb74943d82lmyfg.jpg?et=hHHzVY2siHRpGp9NtWLJIw&nmid=371760332
03 Februari 2012 07:52:00
TTTH  @The Crow: https://lh5.googleusercontent.com/Wk5ikXWivUmB2deeoXxN1Jvkmr28O5mUmQA7Wu67wQ-W__J9r2sE5uoOEyQomuQNJHTVQ6zSZfRxDecM1bWXctXfn_Ei2ccFGKWXRXlDFcdaLPk19XE
03 Februari 2012 08:17:07
The Crow  @TTTH: True, and that's me.
03 Februari 2012 08:32:00
sawung gue ke summon :D.
ada joke dikalangan loreng. berangkat operasi bawa M16pulang bawa 16 M :D
03 Februari 2012 08:57:00
The Crow  @sawung: Should we summon @leksa, too?
03 Februari 2012 09:01:00
Maximillian  @sawung:

hee, datang juga :D
03 Februari 2012 09:05:00
pradaksina Weh, para senior ngumpul.. :D
03 Februari 2012 10:50:00
mbah joebir Hal pertama yang muncul dalam pikiran saya ketika usai baca artikel ini adalah:

1. GAM solid di "hutan" dan pecah di "kota". Apakah bagi GAM politik itu hanya sebatas angkat senjata dan bergeriliya di hutan? Mengapa ketika rekonsiliasi tercapai dan status DOM dicabut yang terjadi para pemimpin GAM seperti tampil gagap mengikuti proses politik yang mestinya bisa dimanfaatkan untuk membawa Aceh lebih otonom (kalau bukan merdeka).

2. Rezim politik nasional masih beroperasi dengan cara-cara lama yg manipulatif, korup dan naif. *lucu dan sekaligus menjengkelkan*

3. Apakah eksistensi GAM itu sebenarnya sama saja dengan eksistensi PA? *maksudnya sama-sama punya 'saudara' di pusat* :D
03 Februari 2012 13:33:00
The Crow  @mbah joebir: A common enemy unites disputing parties. Once the common enemy's gone, the dispute continues and sometimes even more fiercely.
03 Februari 2012 13:49:00
Alex©  @sawung: 16 M itu bisa dari hasil palak, bisnis keamanan (misal jadi bekingan saudagar yang terancam dipalak baik oleh pemberontak atau oleh sesama aparat), jual-beli peluru dan senjata (ini sebab banyak beredar senjata pindad bernomor seri dulunya), juga bisa dari ganja loh. Hehe.

Soal senjata pindad ini, adalah hal menarik juga kalau kita ingat pemusnahan 840 pucuk senjata dimusnahkan pasca-damai dulu, banyak yang rakitan daripada yang produkan. Logikanya, jika pun kita asumsikan satu pucuk senjata dipakai 2 atau 3 tentara GAM seperti tentara Sovyet dalam pelem Enemy At Gates, maka dengan jumlah personil GAM itu 5000-an, (silakan cek http://acehpedia.org/GAM ), maka mestinya lebih dari itu jumlah senjata. Sekitar 1666 pucuk. Kemana yang lainnya? :D
03 Februari 2012 14:44:00
Alex©  @mbah joebir:

Untuk poin 1, cenderung demikian memang. GAM itu lebih ke sayap militer dari dulu. Meski awal pemberontakan ada unsur kepentingan Hasan Tiro, di penghujung 90-an, GAM itu representasi dari kemarahan massa, apalagi pasca kejadian seperti pembantaian Arakundo, Simpang KKA dan Rumoh Geudong oleh ABRI. Kecenderungan politiknya kurang di lapisan bawah. Di periode ini, GAM baru dianggap jihad fi sabilillah. Euforia massa yang berpaut dengan euforia referendum. Latihan digelar dimana-mana. Para pemuda ramai ikut, bahkan pelajar SMA sepertiku. Latihan militer dasar: bongkar-pasang senjata, menembak, bikin bom sederhana, sandi radio dan latihan dasar sejenisnya. Tidak/belum ada politik saat itu. Termasuk ketika referendum.
Ketika rekonsiliasi terjadi, yang gagap ini elit GAM sendiri. Beberapa bertahan dengan idealisme mereka, meski melunak soal kemerdekaan (prinsip mereka: give it a try, dan mereka sadar bahwa mungkin akan jadi Daud Bereueh ke sekian). Tapi yang model begini kalah dan cenderung minoritas. Ada yang kembali jadi guru atau kembali ke kampung saja. Salah satu dari panglima sagoe di Rukoh, Banda Aceh, yang dekat denganku pasca selamat dari pemboman OV 10 Bronco TNI di kawasan Cot Keueng, malah memilih buka neuheun (tambak) kecil di kampungnya. Orang-orang begini di Aceh dikenal dengan sebutan “awak geulam beuso”, alias petempur beneran. Bukan elit politik.
Dulu di akhir 90-an itu juga sempat ada konflik dalam tubuh elit GAM. Pernah dengar penembakan T. Don Zulfahri? Ini: http://to.ly/c4Ug Dia ini merupakan tokoh dari MP-GAM yang berseberangan dengan elit GAM Swedia. Pengaruhnya cukup besar, dan lebih anti-Indonesia (setidaknya saat itu) serta konon tak memilih jalur politik. Tapi ada tuduhan bahwa MP-GAM ini susupan intelijen di Aceh saat itu. Ini beredar di masyarakat. Jadi pernah terbelah juga, sampai kemudian vakum dan agaknya kembali melebur. (Meski kalau kukira-kira, kelompok GAM di masaku dulu cenderung juga kepada MP-GAM ini, yang kemudian ketika damai, cenderung menolak untuk terlalu lunak pada pusat juga menolak gabung dengan elit GAM lainnya, tidak begitu percaya dengan bulus pusat soal perdamaian).
Di masa rekonsiliasi, prediksi orang2 seperti Don Zulfahri dulu ada benarnya. Lihat saja sikon terkini. Kepentingan banyak sekali bermain. Ambil misal BRR. Meski kepala BRR itu Kuntoro, dan dalam eselon atasnya ada kecenderungan nepotis dan sukuis memilih pejabat , dominan dari Jawa (baik suku Jawa atau bukan), namun proyek-proyek di lapangan “berbagi hasil” dengan elit GAM yang menjelma jadi KPA (dan kemudian jadi Partai Aceh). Elit-elit ini memiliki massa sendiri yang (seperti artikelku ini) tak mau jadi kuli tapi maunya pegang proyek, walau cuma parit sekali pun. Mereka tak peduli pekerjanya orang Jawa atau orang Yahudi. Jika ada kecemburuan sosial, itu cuma antar elit, baik dengan orang luar (seperti dengan deputi-deputi BRR yang aneh memang diletakkan orang luar yang tak paham sikon Aceh) atau dengan sesama mereka (misal kasus –kasus demo ke BRA yang dipimpun M. Nur Djuli, tokoh GAM sendiri, oleh mantan GAM (atau bayaran?) lainnya).
Dalam perkembangan soal UUPA ini, konflik kepentingan itu juga agaknya berpengaruh pada kebijakan. Nur Djuli sendiri menertawakan isu UUPA itu harga mati yang dihembuskan elit GAM lainnya. Silakan cek http://is.gd/ZGW8Ay ini. Dia faham ada kepentingan dalam soal ini. Ada proyek jangka panjang dengan menjegal calon independen dulunya. Dan, seperti prediksi Don Zulfahri dulu, tahu akan pecah-belah ini. KKR Aceh yang dulu pernah kutuliskan di sini, memang tak pernah itu disebut-sebut oleh elit GAM, sementara kalangan GAM lain justru ramai juga mendesak soal ini, seperti mengingat kasus pengadilan koneksitas Teungku Bantaqiah yang cuma menumbalkan kroco-kroco ABRI. Otonom itu bukan opsi bagi sebagian kalangan mantan GAM dulu. Meski tak merdeka penuh, mungkin jika diadakan polling, mereka akan memilih merdeka dalam bentuk negara bagian. Atau jika pun Otsus, adalah Otsus yang berpegang benar-benar pada MoU, bukan UUPA yang banyak dikebiri itu.

Poin 2 memang menjengkelkan. Believe it or not, saat jelang hari H pemilu, aparat yang di masa kampanye seolah-olah menekan Partai Aceh, justru jadi lebih longgar. Babinsa turun ke TPS-TPS dan sekuriti di TPS yang seharusnya dijaga oleh sipil seperti Hansip dan Kamra, dengan backup kepolisian, malah cuma di luar pagar. Benar, ada terpola campur-tangan elit nasional di sini.
3. Apakah eksistensi GAM itu sebenarnya sama saja dengan eksistensi PA? *maksudnya sama-sama punya 'saudara' di pusat*  ini pertanyaan menarik. Bisa ya, bisa tidak. Sukar diterobos sampai level atas soal ini. Tapi ada kecenderungan menarik memang, misalnya soal “persaudaraan” mantan Panglima GAM dan mantan Pangdam itu (yang KEBETULAN mantan Danjen Kopassus dan jadi Pangdam ketika Danjen Kopassus dijabat famili Presiden). Atau soal “diamnya” elit GAM di Partai Aceh atas para tapol/napol GAM yang anti pada Jakarta di penjara Jakarta sana. Salah satunya seperti kelompok Teungku Ismuhadi, yang dulu ditahan dengan jeratan UU Terorisme karena dituduh mengebom BEJ tahun 2000. Yang ribut soal sisa-sisa tapol/napol GAM ini justru mahasiswa dan aktivis politik di Aceh, serta kalangan GAM akar rumput. Dengan kata lain: GAM tidak selalu memiliki persamaan eksistensi dengan Partai Aceh. Toh Partai Aceh sendiri sepertinya mati-matian –meski berkesan plinplan- menghapus atribut GAM dari diri mereka, dalam artian, melepas imej “partainya GAM” dari diri mereka. Dan juga tanpa sungkan-sungkan melupakan, memecat atau menyingkirkan para kombatan GAM yang tidak sehaluan dengan arah politik mereka :D
03 Februari 2012 15:28:00
Alex©  @mbah joebir:

Untuk poin 1, cenderung demikian memang. GAM itu lebih ke sayap militer dari dulu. Meski awal pemberontakan ada unsur kepentingan Hasan Tiro, di penghujung 90-an, GAM itu representasi dari kemarahan massa, apalagi pasca kejadian seperti pembantaian Arakundo, Simpang KKA dan Rumoh Geudong oleh ABRI. Kecenderungan politiknya kurang di lapisan bawah. Di periode ini, GAM baru dianggap jihad fi sabilillah. Euforia massa yang berpaut dengan euforia referendum. Latihan digelar dimana-mana. Para pemuda ramai ikut, bahkan pelajar SMA sepertiku. Latihan militer dasar: bongkar-pasang senjata, menembak, bikin bom sederhana, sandi radio dan latihan dasar sejenisnya. Tidak/belum ada politik saat itu. Termasuk ketika referendum.

Ketika rekonsiliasi terjadi, yang gagap ini elit GAM sendiri. Beberapa bertahan dengan idealisme mereka, meski melunak soal kemerdekaan (prinsip mereka: give it a try, dan mereka sadar bahwa mungkin akan jadi Daud Bereueh ke sekian). Tapi yang model begini kalah dan cenderung minoritas. Ada yang kembali jadi guru atau kembali ke kampung saja. Salah satu dari panglima sagoe di Rukoh, Banda Aceh, yang dekat denganku pasca selamat dari pemboman OV 10 Bronco TNI di kawasan Cot Keueng, malah memilih buka neuheun (tambak) kecil di kampungnya. Orang-orang begini di Aceh dikenal dengan sebutan “awak geulam beuso”, alias petempur beneran. Bukan elit politik.

Dulu di akhir 90-an itu juga sempat ada konflik dalam tubuh elit GAM. Pernah dengar penembakan T. Don Zulfahri? Ini: http://to.ly/c4Ug Dia ini merupakan tokoh dari MP-GAM yang berseberangan dengan elit GAM Swedia. Pengaruhnya cukup besar, dan lebih anti-Indonesia (setidaknya saat itu) serta konon tak memilih jalur politik. Tapi ada tuduhan bahwa MP-GAM ini susupan intelijen di Aceh saat itu. Ini beredar di masyarakat. Jadi pernah terbelah juga, sampai kemudian vakum dan agaknya kembali melebur. (Meski kalau kukira-kira, kelompok GAM di masaku dulu cenderung juga kepada MP-GAM ini, yang kemudian ketika damai, cenderung menolak untuk terlalu lunak pada pusat juga menolak gabung dengan elit GAM lainnya, tidak begitu percaya dengan bulus pusat soal perdamaian).

Di masa rekonsiliasi, prediksi orang2 seperti Don Zulfahri dulu ada benarnya. Lihat saja sikon terkini. Kepentingan banyak sekali bermain. Ambil misal BRR. Meski kepala BRR itu Kuntoro, dan dalam eselon atasnya ada kecenderungan nepotis dan sukuis memilih pejabat , dominan dari Jawa (baik suku Jawa atau bukan), namun proyek-proyek di lapangan “berbagi hasil” dengan elit GAM yang menjelma jadi KPA (dan kemudian jadi Partai Aceh). Elit-elit ini memiliki massa sendiri yang (seperti artikelku ini) tak mau jadi kuli tapi maunya pegang proyek, walau cuma parit sekali pun. Mereka tak peduli pekerjanya orang Jawa atau orang Yahudi. Jika ada kecemburuan sosial, itu cuma antar elit, baik dengan orang luar (seperti dengan deputi-deputi BRR yang aneh memang diletakkan orang luar yang tak paham sikon Aceh) atau dengan sesama mereka (misal kasus –kasus demo ke BRA yang dipimpun M. Nur Djuli, tokoh GAM sendiri, oleh mantan GAM (atau bayaran?) lainnya).

Dalam perkembangan soal UUPA ini, konflik kepentingan itu juga agaknya berpengaruh pada kebijakan. Nur Djuli sendiri menertawakan isu UUPA itu harga mati yang dihembuskan elit GAM lainnya. Silakan cek http://is.gd/ZGW8Ay ini. Dia faham ada kepentingan dalam soal ini. Ada proyek jangka panjang dengan menjegal calon independen dulunya. Dan, seperti prediksi Don Zulfahri dulu, tahu akan pecah-belah ini. KKR Aceh yang dulu pernah kutuliskan di sini, memang tak pernah itu disebut-sebut oleh elit GAM, sementara kalangan GAM lain justru ramai juga mendesak soal ini, seperti mengingat kasus pengadilan koneksitas Teungku Bantaqiah yang cuma menumbalkan kroco-kroco ABRI. Otonom itu bukan opsi bagi sebagian kalangan mantan GAM dulu. Meski tak merdeka penuh, mungkin jika diadakan polling, mereka akan memilih merdeka dalam bentuk negara bagian. Atau jika pun Otsus, adalah Otsus yang berpegang benar-benar pada MoU, bukan UUPA yang banyak dikebiri itu.

Poin 2 memang menjengkelkan. Believe it or not, saat jelang hari H pemilu, aparat yang di masa kampanye seolah-olah menekan Partai Aceh, justru jadi lebih longgar. Babinsa turun ke TPS-TPS dan sekuriti di TPS yang seharusnya dijaga oleh sipil seperti Hansip dan Kamra, dengan backup kepolisian, malah cuma di luar pagar. Benar, ada terpola campur-tangan elit nasional di sini.

3. Apakah eksistensi GAM itu sebenarnya sama saja dengan eksistensi PA? *maksudnya sama-sama punya 'saudara' di pusat*  ini pertanyaan menarik. Bisa ya, bisa tidak. Sukar diterobos sampai level atas soal ini. Tapi ada kecenderungan menarik memang, misalnya soal “persaudaraan” mantan Panglima GAM dan mantan Pangdam itu (yang KEBETULAN mantan Danjen Kopassus dan jadi Pangdam ketika Danjen Kopassus dijabat famili Presiden). Atau soal “diamnya” elit GAM di Partai Aceh atas para tapol/napol GAM yang anti pada Jakarta di penjara Jakarta sana. Salah satunya seperti kelompok Teungku Ismuhadi, yang dulu ditahan dengan jeratan UU Terorisme karena dituduh mengebom BEJ tahun 2000. Yang ribut soal sisa-sisa tapol/napol GAM ini justru mahasiswa dan aktivis politik di Aceh, serta kalangan GAM akar rumput. Dengan kata lain: GAM tidak selalu memiliki persamaan eksistensi dengan Partai Aceh. Toh Partai Aceh sendiri sepertinya mati-matian –meski berkesan plinplan- menghapus atribut GAM dari diri mereka, dalam artian, melepas imej “partainya GAM” dari diri mereka. :D
03 Februari 2012 15:29:00
Alex© Btw, macam mana cara ngapus komen dabel? :D
03 Februari 2012 15:30:00
The Crow  @Alex©: [Btw, macam mana cara ngapus komen dabel?] You can't. Only the admin can do that.
03 Februari 2012 15:43:00
GusBushTom nes inpoh agan. saya coba kombinasikan dg beberapa data lain. So inspiring. :) #SalamAKUBISA
03 Februari 2012 16:53:00
Leksa  @The Crow: summon me?
haha..

Ini si @Alex© sebelum posting saja sempat nanya cara dapat password ke saya kok :))

well, ini sudah dokumen lengkap. Isi kepala, isi hati yang sepenuh nya identik dgn yg saya rasa.
Alex lebih gampang menjelaskannya dengan gamblang..
Kalau saya mungkin cuma bisa berputar-putar saja dengan segala idealisasi teori sosial :D

Mungkin beberapa yg pernah nyangkruk bareng saya, seperti @sawung, om @The Crow, om @orsuy tahu kegundahan hati kita-kita ini yg memang "aceh pungo"..

Ini si @Alex© udh/akan sering beberapa kali maen ke jawa.. bisa ditodong untuk mendengar isi kepalanya langsung kapan sempat :)

05 Februari 2012 01:50:00
Leksa Ada sedikit kisah lucu dari saya.

Tersebutlah sebuah program dari pemerintah yang tujuannya memperlancar rekonsiliasi dan proses komunikasi militan GAM dgn NKRI (kembali).

Saya lupa nama program itu.

Tapi yg saya ingat program itu lengkap semua sentuhannya, dari soal pelajaran P4 sampai pendampingan psikologi pun juga ada (draft roadmapnya)

2 -3 tahun kemudian, saya bertemu kenalan yg juga sempat mengurusi program ini dalam skala lokal di sebuah daerah, yg justru dulu jadi salah satu kawasan paling ditakuti TNI.
Disini, saya melihat banyak buku. Buku yang sudah tercetak rapi, layak masuk Togamas atau gramedia. Segudang garasinya penuh oleh buku2 ini.

Dia bercerita,
Buku2 ini adalah catatan karya2 tulis, puisi, gambar dari para mantan petempur, selama mereka menjalani program.

Saya ambil sebiji, saya baca semalaman sambil menginap di rumah nya.

Buku yg unik, ada puisi dari salah seorang "inong bale" (anggota pasukan tempur wanita), yg justru dia mengisahkan kegelisahannya soal janji utk disekolahkan oleh para petinggi militernya..
ada juga kisah amarah kenapa para petinggi mereka seperti "kacang lupa kulit", dan banyak lainnya sejenis serupa tapi tak sama..
Cuma bahasa rakyat yg biasa, biasa ditemukan di seluruh pelosok Indonesia..
Tidak ada kebanggaan mengangkat senjata, tidak ada pula berkisah keren karena menembak berapa jumlah tentara, tidak ada yg menulis apa pengalaman keren mereka di hutan.

Besok paginya saya tanya ke kenalan saya itu, apakah buku ini mau diterbitkan?
Dia jawab, semestinya begitu, karena rencana dari program ini ya memang ada klausul itu.
Tapi kenyataanya gudangnya masih dipakai menyimpan berkardus2 buku itu. Dan ini cuma salah satu gudang titipan..
Buku itu tdk akan pernah di terbitkan..

Tragis sekaligus lucu..
05 Februari 2012 02:23:00
mbah joebir  @Alex©: Maaf baru terbaca penjelasannya..... dan saya mulai sedikit faham. Sekarang izinkan saya menyampaikan harapan :)

OK... GAM lebih pada sayap militernya. Tapi bukankah ini gerakan untuk mencapai kemerdekaan? Tentu akan terasa janggal kalau persoalan konseptual (ide/gagasan) berkenaan bentuk negara, ideologi dan sistim pemerintahan tidak disusun secara cermat dan mengisi kesadaran GAM seluruhnya. Dalam kaitan ini --sebagaimana zaman perjuangan kemerdekaan RI dulu-- tentu dibutuhkan tokoh yg berperan sebagai "agitator" (ideolog) dan "organisator" (entah pada satu orang tokoh atau beberapa orang dgn masing2 peran) agar GAM sungguh bukan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan yg terkesan bertindak sporadis dan pragmatis).

Tapi dari tulisan dan penjelasan anda memang mengesankan bahwa GAM lemah pada sisi ideologi, program perjuangan dan cara (strategi) pencapaiannya (baik di masa perang maupun damai/rekonsiliasi). Kalau begitu apakah aksi perjuangan GAM selama ini akan berlalu begitu saja bagai mimpi belaka? Tidakkah ada upaya2 sistematis untuk membangun GAM secara lebih terorganisir dan terprogram? ------------- Tentu saya tidak betendensi melepas Aceh dari NKRI dengan menganjurkan agar GAM lebih efektif perjuangannya untuk merdeka. Bahkan saya berharap GAM pada akhirnya mampu menempatkan kembali NKRI ke dalam formatnya yang "bhineka tunggal ika" itu... ---- dan karenanya menginspirasi perjuangan anak bangsa ini di semua pelosok Indonesia Raya.

Bung @Leksa: Kisah anda menggambarkan ironi yang lain dari pemerintahan NKRI ini...., dan sekaligus memperlihatkan ambivalensinya. (*mungkin karena kemunafikkan elit penguasanya saja )
07 Februari 2012 11:33:00
The Crow  @Leksa: [Ini si Alex© udh/akan sering beberapa kali maen ke jawa.. bisa ditodong untuk mendengar isi kepalanya langsung kapan sempat] Interesting. Let me know the next time he visits Yogya.
08 Februari 2012 07:50:00
The Crow  @Leksa: You know it'll be interesting to learn how the Acehnese who work as government employees think about this issue. One thing I like about the Acehnese in Yogya is their solidarity as fellow Acehnese who are ready to assist each other. I say this is interesting because their solidarity stands beyond their diverse political views.

Someday soon I'll have to introduce you to Tazbir, the chief of Dinpar DIY, if you haven't known him already.
08 Februari 2012 07:55:00
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »