21 Komentar Tulisan

Solidaritas • penulis: ipool, 21 September 2011 05:46:29 • Menarik +4

Solidaritas bisa dibentuk dengan memberikan pengkondisian tertentu, mungkin.

Menampilkan 1 - 21 dari 21 komentar.
96 kayaknya masih ada sambungannya nih? ;))
21 September 2011 08:47:00
Nazil Ada 'sesuatu' kayaknya? ;)


21 September 2011 08:52:59
96  @Nazil: Ada Apa Dengan @ipool ?
21 September 2011 09:00:00
Nazil  @69 : :))

Pada judul sih kayaknya Mas. Atau pada sesuatu yang belum selesai??
21 September 2011 09:05:18
ipool  @Nazil @96 Sambungan artikel ini biarlah menjadi sesuatu saja. ;))
21 September 2011 09:12:35
I wrote SYN not Tragedies sesuatu banget, alhamdulillah yah...

:|
21 September 2011 09:14:00
Nazil Baiklah, lupakan sesuatu itu.

Kita bahas yang ini saja, solidaritas pada pendidikan militer. Mau dibudayakan lagi?? :)


21 September 2011 09:17:38
The Crow  @Nazil: [solidaritas pada pendidikan militer. Mau dibudayakan lagi?] I'd rather see boyscout movement explored and expanded further.
21 September 2011 09:29:00
ipool  @Nazil Tidak selalu dengan cara ala militer untuk menumbuhkan solidaritas. Ada banyak metode yang bisa digunakan untuk mengkondisikan keadaan emosi seseorang untuk mendapatkan ikatan emosi, dalam hal ini solidaritas. Semisal dengan memunculkan musuh bersama. Di sana akan ada kesamaan kepentingan dan ikatan emosi berupa amarah, semisal. ;))
21 September 2011 09:45:11
The Crow  @ipool: [Semisal dengan memunculkan musuh bersama.] Bad choice. When the common enemy's gone, they will turn on each other.

When Israel is finally eliminated, the Muslims all over the world will turn on the western countries. When the last of the western countries is eliminated, the Muslims all over the world will kill each other.
21 September 2011 09:48:00
Nazil (memunculkan musuh bersama) malah ngajak rame :))


21 September 2011 10:35:17
ipool  @The Crow Wah betul juga. Sama halnya dengan pasca-tergulingnya Soeharto. Semua sibuk dengan membuat saluran-saluran penyalur aspirasi. Ketika seluruh aspirasi telah memiliki jalurnya sendiri-sendiri, solidaritas luntur atau mungkin bertransformasi ke bentuk yang lain yang lebih kecil dan spesifik. Kemudian ketika awal peristiwa koin ibu Prita, Bibit-Chandra, Century, hampir bisa dikatakan di sana juga terdapat musuh bersama.

Hmm, jadi menurut Om @The Crow bagaimana? :D
21 September 2011 10:37:20
The Crow  @ipool: A common goal for a common benefit is a much better option than a common enemy.
21 September 2011 10:51:00
ipool  @The Crow Hmm, jadi bisa saya misalkan dengan: memberantas korupsi akan lebih bertahan lama daripada memusuhi koruptor. Memberatas korupsi adalah perlawanan terhadap "sesuatu" yang bisa jadi berasal dari budaya. Sedangkan melawan koruptor berkecenderungan lebih kepada "track record" buruk seseorang dari pada tindak korupsi yang dilakukan. Ide bagus.
21 September 2011 11:07:00
Icarus Maka, MOS = cuci otak? ;))
21 September 2011 11:07:00
ipool  @Icarus Entahlah. Tapi menurut pengalaman saya lebih kepada cuci isi dompet untuk benda-benda sekali pakai. :D
21 September 2011 11:10:50
Icarus  @ipool: [cuci isi dompet untuk benda-benda sekali pakai]

Bukan hanya cuci otak, tapi juga gladi mafiosi? Bukan main! :o
21 September 2011 11:23:00
96  @ipool : Menurut saya sih MOS/Pola pelatihan Militeristik di artikel itu justru menunjukkan variabel-variabel yg dibutuhkan utk menumbuhkan solidaritas (dan bukan hanya aspek emosional):

1. Adanya kepentingan bersama (lulus dari MOS atau dalam skup kecil menyelesaikan tugas/mengatasi sikon tekanan yg diciptakan dalam pelatihan)

2. Adanya tekanan yang dirasakan bersama (menimbulkan emosi sepenanggungan)

3. Adanya musuh bersama (baik instruktur yang kerap memposisiskan diri sbg "musuh" maupun tantangan/tugas yang jadi semacam "musuh abstrak")

Menciptakan kondisi spt itu secara lengkap akan menumbukan solidaritas.

Kasus pemberantasan korupsi jadi satu contoh bagus.
Dititik ini sering misleg, karena korupsi yg terlanjur membudaya dan berakar menyebabkan pelaku korupsi (dalam segala bentuk) hadir di sekeliling kita. Org yg kita kenal baik, tetangga, rekan kerja, kerabat, dll. Sehingga sering sulit memposisikan mereka sebagai "musuh" secara nyata. Misalnya, banyak deh yg punya temen polisi? ;))

Pemerintah mempropagandakan (juga KPK) dg mencitrakan korupsi sbg musuh bersama.

Masyarakat diberikan kesadaran bahwa korupsi merugikan kita secara bersama-sama (yg mana di titik ini yg ga sukses, karena strata masyarakat yg berbeda, tingkat ekonomi yg berbeda, dan transparansi yg ga jelas membuat banyak org sebetulnya "tidak merasa dirugikan" secara real oleh korupsi"

Tujuan bersama juga kerap dipropagandakan dg mendalilkan kalau korupsi diberantas fasillitas publik/atau secara umum pembangunan akan lebih maju. Ini juga gagal, karena transparansi tadi. Kita juga ga jelas betul kalau duit DPR ga dikorup lalu larinya kemana? Excuse "sudah dianggarkan" menjadi excuse umum bahwa itu bukan korupsi, dan kita mengamininya juga, karena sistem dan prosedurnya mengatakan demikian.

Rombak semuanya, mungkin bisa sukses.
21 September 2011 11:28:22
yusro Sebenarnya bukan hal yang gampang membangun solidaritas dalam arti positif.
21 September 2011 11:47:00
Maximillian  @ipool: Ada faktor internal yang harus diperhitungkan juga Oom : Usia Psikologis.

Pramuka/ Kepanduan/ Scout, itu salah satunya mengajarkan (pengalaman) bekerja dalam tim, dengan kemampuan kerja mandiri dan kelompok. Menghargai skill dan kapasitas orang lain, sejalan juga dengan menjaga moral kolektif tim.

Hanya, Pramuka/Kepanduan itu mulai gegar saat usia 14 - 17 tahun, itu usia pencarian jati diri. Mereka ( kita ) dibenturkan dengan upaya pembentukan eksistensi diri, sifat egosentris memuncak biasanya di usia itu. Kalau sebelumnya di usia SD- SMP sudah pernah mengikuti Pramuka/ ekskul lain yang membutuhkan kerja tim, mungkin nggak akan parah, yang parah, kalau sama sekali belum pernah bekerja dalam kelompok, egosentrisnya berlebihan.

Meme ( gagasan) sekunder terkuat dalam semesta manusia, adalah : 1) Menjadi berbeda dibanding orang lain, 2) Menjadi bagian dari sebuah kelompok, sehingga mendapatkan eksistensi identitas diri.

Keduanya, akan terus tarik menarik.

Begitu sih ;)
21 September 2011 14:47:00
ipool  @96 Melawan yang "abstrak" memang susah.

@yusro Iya Pak, tapi pasti bisa dengan kesadaran pribadi masing-masing.

@Maximillian Wah iya, benar juga. :D
21 September 2011 15:47:58
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »