40 Komentar Tulisan

Peta Persoalan Kurikulum Kita • penulis: liwung, 07 April 2011 08:39:19 • 2 Berita Foto • Penting +5

Soalnya kemarin ada yang menulis ttg pendidikan dasar dan kurikulum.

Menampilkan 1 - 30 dari 40 komentar.
Coulrophobia waduh puyeng
07 April 2011 08:44:00
Maximillian Siapa "Kita" dan siapa "Mereka", kalau di slide itu, maksudnya ?
07 April 2011 09:45:00
conscientizacao Content, Learning, Student VS Content, Technology, Pedagogy. >> TPACK?

IMO, bahkan untuk yang versi "Kita", masih sering tersesat juga kok :D
07 April 2011 10:19:00
conscientizacao Oh ya, isi artikelnya baca aja di sini: http://learning-unplugged.blogspot.com/2010/10/my-understanding-of-tpack.html

:D
07 April 2011 10:21:00
liwung  @conscientizacao: :D :D
gue asal comot itu gambar dr sini kang
http://www.waseda.jp/DLI2008/program/proceedings/pdf/session6-4.pdf

@Maximillian: (Siapa "Kita" dan siapa "Mereka", kalau di slide itu, maksudnya ?)

kita ya kitalah ;))
mereka itu banyak bung, pionir tentu AS, lalu Eropa bikin itu proyek rame2, Kanada, Aussie, lalu Jepang, Korea, Singapura bahkan Malaysia

07 April 2011 10:43:00
liwung  @Maximillian: msh ttg mereka, bisa ditengok di sini bung
http://portal.unesco.org/ci/fr/files/15750/10845283191ICT_and_Education_Policy_review.pdf/ICT+and+Education+Policy+review.pdf

yg juga seru di Eropa bisa ditengok di sini
LEARNING, INNOVATION and ICT
Lessons learned by the ICT cluster
Education & Training 2010
programme (mau cari linknya males).

07 April 2011 11:06:00
botaksakti  @liwung: bu, sebenarnya kurikulum kita itu mau disusun berdasarkan kebutuhan siswa atau potensi siswa to?
07 April 2011 12:50:00
Minoritas  @botaksakti: kebutuhan pemilik modal :D
07 April 2011 15:17:00
botaksakti  @Minoritas: pembuat kurikulumnya berarti memang hamba kapitalis, ya?(membara)
07 April 2011 15:23:00
conscientizacao  @botaksakti: uiih... Emang kurikulum kayak baju yang bisa dipesan ke tukang jahit ya? :P
07 April 2011 15:52:00
Icarus  @conscientizacao: @botaksakti: Terima partai ato eceran doang? :|

#nyamberngaco
07 April 2011 15:58:00
Maximillian  @liwung: Baik Ma'am, menuju TKP :)
07 April 2011 17:11:00
botaksakti  @conscientizacao: iyalah, buktinya kan ngikutin tren doang:D
@Icarus: bahkan terima upah potong kok:D
07 April 2011 18:47:00
botaksakti Carut-marutnya mutu pedidikan di Indonesia tidak terlepas dari pemahaman yang sempit tentang kurikulum,yaitu kurikum hanya dimengerti sebatas silabus saja. Pemahaman yang salah ini berkonsekuensi pada kebijakan pemerintah di bidang pendidikan termasuk menjamurnya sekolah-sekolah berlabel internasional.
Sebut saja kebijakan penutupan sekolah guru seperti ASPG dan PGSD. Kedua institusi ini cepat dan murah dalam konteks pengadaan guru-guru SD dan SMP ,karena berada di setiap kabupaten. Alasa penutupannya adalah bahwa guru-guru lulusan SPG dan PGSD hanya pandai mengajar dan tidak menguasai materi. Kalaupun alasan ini betul, mengapa tidak dilakukan saja penguatan penguasaan materi pada SPG dan PGSD sehingga menjadi lebih lengkap tanpa menutup kedua institusi itu? Dengan menutup SPG dan PGSD dan merekrut guru dari lulusan sekolah umum menandakan bahwa kebijakan pemerintah terjebak dalam pemikiran bahwa guru yang bermutu adalah guru yang menguasai materi (saja) yang tentu saja konsekuensi dari pemikiran sempit bahwa kurikulum sama dengan silabus atau materi pelajaran saja.
Sebut lagi kebijkan sertifikasi dengan mengharuskan semua guru bergelar S-1. Selain pemerintah mengingkari hakekat profesionalisme itu sendiri, juga terkandung pemahaman bahwa asalkan guru bergelar S-1 (baca: menguasai materi) maka persoalan mutu selesai. Dengan memberikan pelatihan berupa ceramah akta IV atau akta V dalam dua minggu saja maka seseorang sudah dapat ditahbiskan menjadi guru. Manakala IKIP pemilik LPTK tidak mampu berproduksi guru bergelar S-1 akibat daya tampung yang rendah, maka rekrutmen guru dilakukan membabi buta: “siapa saja yang mau akan dibaptis menjadi guru dengan predikat guru kontrak atau guru bantu”. Persoalannya, lulusan S-1 dari sekolah non-keguruan kebanyakan menaruh minat pada pekerjaan non-guru yang menjanjikan penghasilan tinggi. Artinya menjadi guru bagi lulusan sekolah non-keguruan adalah pilihan terakhir atau tempat terdampar secara terpaksa. Ke depan, setelah guru-guru tamatan SPG dan PGSD pensiun seluruhnya, bangsa ini sedang menyerahkan anak-anaknya untuk diajar oleh guru-guru yang sebelumnya tidak pernah “bermimpi menjadi guru.”
---------------------------------------------
http://kebamoto.blogspot.com/
07 April 2011 19:20:00
pras  @botaksakti: nggak semua guru yg blm S1 lebih jelek dr guru yg sudah S1, betuul, tp ini jg berlaku sebaliknya toh. Guru hrs S1 dan hrs punya sertifikat pendidik sesuai digariskan UU itu adl kemajuan besar krn meletakkan pengadaan guru pd track yg bener di masa depan. Memang program sertifikasi profesi guru di LPTK masih jd PR besar kita. Btw Spg dan Pgsd nggak usah ditangisi deh, yg lalu biarlah berlalu, masih banyak spg2 lain yg cantik2 .... Loh kok???
07 April 2011 19:56:18
botaksakti  @pras: Artinya menjadi guru bagi lulusan sekolah non-keguruan adalah pilihan terakhir atau tempat terdampar secara terpaksa.
------------------------------------------------------------
sampeyan tahu artinya ini?
07 April 2011 19:59:00
alakazam [Artinya menjadi guru bagi lulusan sekolah non-keguruan adalah pilihan terakhir atau tempat terdampar secara terpaksa.]

ngeri, kalo kek gini mendingan anakku tak sekolahin di rumah aja, minimal nenek dan bibinya beneran guru yang dari awal sekolah pendidikan guru...
07 April 2011 20:08:00
pras Nggak juga bung. Jgn pesimislah, munculnya tunjangan profesi guru adalah kebijakan yg bagus krn ada jaminan thd kesejahteraan guru. Moga2 ini bisa menarik output2 terbaik dr sma2 kita. Denger2 fak pendidikan skrg ini laris manis kan? Apalagi jd guru di jkt, hhhmmm lumayanlah nggak lagi perjuangan dan penuh pengorbanan.
07 April 2011 20:15:38
alakazam  @botaksakti: tapi memang guru yang berasal dari lulusan non pendidikan guru lebih menguasai materi yang diajarkan, minimal pengalaman waktu sma dulu seperti itu. Tapi menguasai materi bukan berarti mampu menjadikan siswa menguasai materi juga, bahkan guru yang "pintar" cenderung membuat siswa rendah tingkat pemahaman materi dari pelajaran yang diterima.

#miris jika ingat belasan teman lulusan FMIPA yang terdampar jadi guru sekolah negeri...

btw, ketemu nih pak : http://i51.tinypic.com/m3seb.jpg :D
07 April 2011 20:16:00
botaksakti  @pras: adalah kebijakan yg bagus krn ada jaminan thd kesejahteraan guru
----------------------------------------------
kebijakan bagus belum tentu beroutput bagus kan? Implementasinya bung!
07 April 2011 20:19:00
botaksakti  @alakazam: karena 'pembelajaran' berbeda secara substansi dengan 'pengajaran':D

btw, "ngeri, kalo kek gini mendingan anakku tak sekolahin di rumah aja, minimal nenek dan bibinya beneran guru yang dari awal sekolah pendidikan guru.." ini masih mending. Seorang teman yang bisa membaca situasi tapi tak mampu mengeluarkan isi hati malah sampai pada niat untuk tidak punya anak. Piye jal?:D
07 April 2011 20:22:00
alakazam  @pras: oh, saya sudah pesimistis bahkan sejak saya SMP, sejak debat dengan guru PPKn soal ada tidaknya aturan tentang menyanyikan lagu Indonesia Raya harus sambil berdiri dalam sikap tegak yang berakhir dengan hukuman membersihkan kamar mandi selama 3 hari dengan alasan "meremehkan guru".

saya sudah pesimistis ketika saya dengan santainya membaca komik di kelas waktu pelajaran karena guru kimia lulusan universitas ternama di Surabaya lebih sibuk menulis rumus dan bercumbu dengan papan tulis daripada memperhatikan siswanya. Dan ini berlangsung selama 3 tahun selama saya SMA...

Kalau sudah seperti ini, bagaimana tak pesimis saya...

#cuma, sebelumnya mau nanya, ijasah Paket C bisa buat ngelamar cewek ga ya, kasihan ntar anakku :D
07 April 2011 20:23:00
botaksakti  @alakazam: gw kira link apaan. Masih bercumbu dengan pamor to?:D

@alakazam: ijasah Paket C bisa buat ngelamar cewek ga ya,
--------------------------------------------
tentu ceweknya juga paket C:D
07 April 2011 20:25:00
pras @faza: hax3 trauma masa silam rupanya, nggak semua guru seperti guru anda dulu, sepertinya orangtua anda dulu salah memilih sekolah. Mmg sejarah jgn sampai terulang pd anak anda, pandai2lah anda memilihkan sekolah anak anda. Cari info yg banyak, dtg lihat dan diskusilah dgn pimpinan atau staff pengajarnya, bila perlu minta jaminan pd hal2 yg sungguh anda inginkan. Banyak sekolah2 bagus yg dgn senang hati akan melayani anda. Jgn salah pilih bu.
07 April 2011 20:35:00
alakazam  @pras: oh, dulu saya memilih sekolah sendiri, dan itu sekolah nomer satu di kota saya. Ya, walau cuma kota kecil tapi kedua sekolah saya itu sekarang sudah jadi sekolah "mahal", RSBI, jadi saya kira ndak salah-salah amat.

gara2 pengalaman saya ini, akhirnya adik-adik saya sekolah di sekolah swasta yang lebih mementingkan 'pendidikan' daripada 'pengajaran'...
07 April 2011 20:54:00
Felipe  @liwung: Masih setia nguplek2 [Learning knowlegde base & student knowledge base]

iya juga :|

@Minoritas: [kebutuhan pemilik modal]
pendidikan formal sebagai media manipulasi yang tidak disadari? istilahnya labor market atau pasar tenaga kerja :D

@botaksakti: [sebenarnya kurikulum kita itu mau disusun berdasarkan kebutuhan siswa atau potensi siswa to?]
ah, itu tergantung aliran filsafat pendidikan yang dianut, Pak :D
http://en.wikipedia.org/wiki/Philosophy_of_education
07 April 2011 21:08:00
botaksakti  @Felipe: manusia paripurna=manusia pragmatis:D
07 April 2011 21:13:00
Felipe  @botaksakti: :))

pahala setiap amal tergantung niat katanya, Pak :D
07 April 2011 21:23:00
botaksakti  @Felipe: menunggu kurikulum Tuhan kalau begitu:D
07 April 2011 21:27:00
Felipe  @botaksakti: :))
wah bakal panjang kalau bahas Tuhan di sini.

katanya lagi, pertolongan Tuhan datang melalui tangan-tangan hambaNya, Pak. Jadi (jika masih percaya akan Tuhan) - mungkin - kurikulum Tuhan juga akan terbentuk melalui orang-orang yang berniat baik membenahi kurikulum seperti pak Bot ;)
07 April 2011 21:42:00
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »