33 Komentar Tulisan

Berobat Ke Luar Negeri Kuras Devisa Rp 100 trilyun • penulis: liwung, 04 Maret 2011 08:58:47 • Penting +7

Yang miskin nggak diurusin, yang kaya hamburin devisa.

Menampilkan 1 - 30 dari 33 komentar.
Rajawali  @liwung: rumah sakit kita buat yang miskin, biar dokter, perawat, bidan bisa njutekin si miskin :D
04 Maret 2011 09:09:00
liwung  @Rajawali: yang miskin puskesmas saja, kalau ke rumah sakit harus siap habiskan tabungan/cari utangan ;))
04 Maret 2011 09:21:00
liwung  @Rajawali: nggak ada utangan harus siap ditaruh di emperan ;))
04 Maret 2011 09:22:00
Rajawali  @liwung: dan harus siap dijadikan praktek calon perawat! mereka tidak sadar kalau yang mereka tangani adalah MANUSIA sama seperti mereka. :|
04 Maret 2011 09:39:00
pras Hahahaha susah juga ya ngurusin rumah sakit, tenologi, sdm dan pelayanan payah hahahahahaha gue mah biar mahalan dikit mending ke swasta hahahahaha
04 Maret 2011 09:52:34
botaksakti yang miskin itu dibiarin juga hiang sendiri ntar:D(mencoba berpikir ala pemerintah)
04 Maret 2011 09:54:00
Cynic  @liwung: memang susah si. beberapa RS ku perhatikan mencoba 'berbenah' dgn membeli alat alat canggih padahal yg juga sangat penting adalah the person behind the gun.

cuma mau curhat, aku pernah cari second opinion ke dokter lain di RS yg sama, tapi yg ku dapat adalah seorang dokter yg berlagak 'bodoh' dalam memberikan diagnosa simply karena dia merasa gak enak kalo mesti bicara 'buruk' ttg koleganya di RS itu.

talk about being profesional.....
04 Maret 2011 10:06:00
botaksakti  @Cynic: mungkin kita perlu pekerjakan dokter robot.
04 Maret 2011 10:12:00
Felipe  @Rajawali: calon perawat, calon dokter, itu masing-masing ada Clinical Instructur (CI)-nya, Oom.
CI ini yang bertanggung jawab pada pasien kelolaan mereka. Lagi pula sebenarnya setiap mahasiswa kesehatan yang datang ke klinik, ada requirement khusus untuk target mereka. Ada batasan tindakan, mana yang boleh mana yang tidak boleh dilakukan. Kalau sampai salah prosedut, maka CI ini yang bisa dituntut malpraktek. Cuma sayangnya, penghitungan tenaga kesehatan seringkali masih tidak sesuai dengan jumlah pasien yang datang. Kalau sampai overload, serba salah juga untuk menolak pasien. Jadilah staff2nya kerja rodi (buat yang masi idealis si), kalau gak ya jadi kerja sekenanya.
Masalahnya lagi, CI yang kompeten juga masih kurang. Belum lagi dikaitkan sistem pendidikan kesehatan. Banyak lah masalahnya hahaha..
:|
04 Maret 2011 10:13:00
Cynic  @botaksakti: hehehehe, robot yg di program untuk jadi manusiawi ? boleh juga tuh soalnya susah kayaknya mengharapkan beberapa (if not all) manusia di negri ini untuk jadi manusiawi
04 Maret 2011 10:16:00
Felipe  @Cynic: oh ya benar, masalah second opinion ini memang penting.
Kemaren ada kenalan saya yang istrinya hamil, lalu dapat diagnosa blighted ovum (anembryonic gestation/ kehamilan kosong tanpa embrio atau kadang juga disebut janin tidak tumbuh). Beberapa obsgin (dokter kandungan) menyarankan untuk digugurkan saja. Namun rekan saya itu kekeuh untuk mencari pendapat dokter lain. 3 dokter menyarankan hal yang sama, hingga sampailah ia ke seorang dokter ahli fetomaternal USG 4 dimensi, dan dinyatakan janinnya tumbuh, secara anatomis baik.
Sekarang bayinya sudah lahir, cantik pula. Coba kalau waktu itu jadi digugurkan :(
04 Maret 2011 10:24:00
Rajawali  @Felipe: yang saya maksud 'calon' itu para mahasiswa praktek, entah ada pengawasnya atau tidak, tapi pada kenyataan yang dialami teman saya jauh dari kata memuaskan!!!
04 Maret 2011 10:28:00
Felipe  @Rajawali: tergantung mahasiswa mana memang sih, bisnis pendidikan kesehatan termasuk bisnis yang prospektif sepertinya. Terbukti dengan makin menjamurnya Akper dan STIKES yang kualitasnya dipertanyakan. Inilah yang saya sampaikan di lapak http://politikana.com/baca/2011/03/02/salah-sendiri-miskin.html , salah satunya karena ketidakkompakkan Kemenkes dengan DIKTI. Carut marut dunia kesehatan memang masih banyak, so mau nggak mau memang harus jadi konsumen yang cerdas. Begitulah :(
04 Maret 2011 10:38:00
Rajawali  @Felipe: gak penting masalah mahasiswa darimana, yang jelas perlakuan berbeda yang diterima si MISKIN,
mau jadi konsumen cerdas darimana? mereka tak punya pilihan!!!
04 Maret 2011 10:48:00
Cynic  @Rajawali: bukannya merendahkan, jangankan si miskin lah yg punya duit banyakan aja masi gak dapat service beneran :(

pengen rasanya ada RS asli dari luar negri di jakarta. pasti ku pake de jasanya.

logikanya si, sejak adanya pom bensin Shell dan sejenisnya, pertamina jadi tahu diri kalo dia gak bisa bikin pom bensin ala kadarnya. mungkin hal yg sama bisa terjadi kalo ada RS murni PMA di negri ini
04 Maret 2011 10:53:00
Felipe  @Rajawali: hehehe..ampun, Oom.
Saya kan cuma mau sedikit share kondisi lapangan. Siapa tahu nemu solusi bersama. Peace Oom :)
04 Maret 2011 10:53:00
I wrote SYN not Tragedies yahh selama kualitas rumah sakit dan kompetensi dokter kita masih kalah dibandingin dokter dan layanan rumah sakit di luar sono...

ya devisa bakal ngalir terus keluar

coba rumah sakit kita bagus dalam arti mampu memberikan layanan yang memuaskan, didukung dengan tenaga dokter yang handal kan bukan gak mungkin malah nambah devisa

dengan asumsi bule2 pada berobat ke indonesia...

*on 2nd thought, kok malah lucu ya... tapi sebenernya ada juga kok bule2 yang berobat ke indonesia, sayang...bukan ke rumah sakit... tapi ke dukun :)) :)) :)) . . dasar bule gila*
04 Maret 2011 10:56:00
Felipe  @Cynic: [pengen rasanya ada RS asli dari luar negri di jakarta]
dengan ditandatanganinya MRA bukan hal yang gak mungkn Oom, sampai tenaga-tenaganya juga asli luar negeri. Semoga sih Indonesia juga bs bersaing secara sehat
04 Maret 2011 10:56:00
Striding Cloud  @Felipe:

dasar neolib!!
04 Maret 2011 10:59:00
as That's why I fuckin' hate Indon—

*ah, sudahlah*
04 Maret 2011 11:05:00
Rajawali  @Felipe: iya deh saya ampuni!
*sambil ngelus ngelus kepalamu :))*

saya sih memaklumi kok bro, mungkin memang anda tidak pernah melihat secara langsung perlakuan perlakuan tersebut :)

@Cynic: tetap saja, si MISKIN gak akan bisa menjangkau

@Striding Cloud: :))
04 Maret 2011 11:10:00
Felipe  @Rajawali: [mungkin memang anda tidak pernah melihat secara langsung perlakuan perlakuan tersebut ]

yakin?? ;)

@Striding Cloud: wow!! sehebat itukah? :))
04 Maret 2011 11:15:00
Apprayo  @Felipe:
[mau nggak mau memang harus jadi konsumen yang cerdas]

Member milis sehat? :D
04 Maret 2011 11:24:00
Felipe  @Apprayo: salah satunya, Oom :)
selain menambah pengetahuan, juga menambah koneksi, termasuk koneksi petugas kesehatan.
Ini salah satu trick berobat, biasanya RS lebih hati-hati jika kita ngaku kenal petugas kesehatan atau pengacara ;))
04 Maret 2011 11:31:00
Rajawali  @Felipe: MUNGKIN :))
04 Maret 2011 12:50:00
Mahfud MD namanya jugapemerintahan Indonesia....
04 Maret 2011 12:56:00
Maximillian  @Felipe: Ya, yang Anda sampaikan itu, seperti yang saya alami sendiri, ketika membantu kawan, direktur RS khusus daerah, kamarnya 50, dan yang beliau lakukan, adalah efisiensi dan transparansi, untuk setiap transaksi, dari semua komponen : Jasa Medis, Farmasi, Peralatan Penunjang, dan Sistem Operasinya.

Nilai efisiensi mencapai 12 M dalam 6 bulan, dan manajemen sendiri kaget setelah melihat nilai kebocoran, yang terjadi dalam manajemen RS sebelum mereka. Ketika ini dilaporkan ke DPRD, malah direktur yang dimarahi, karena dibilangnya, RS daerah, tidak boleh mengambil untung :))

Dan itu pun, yang dilaporkan belum keseluruhan jumlah angka efisiensi yang bisa diselamatkan dari kebocoran sistem operasional, baru setengahnya. Karena kalau dilaporkan semua, yang kena KPK, adalah manajemen RS yang sebelumnya.

Itu, masih di aspek efisiensi dan efektivitas, belum ke urusan produktivitas dan profitabilitas. Dua aspek terakhir, pasti harus melakukan optimasi di kualitas pelayanan pasien, yang menjadi konsumen utama RS.

Kalau hemat saya sih, RS ini ada irisan dengan model bisnis perhotelan, properti, dan pelayanan kesehatan, yang Anda bilang prospektif itu, saya sepakat. Tapi, untuk yang di Indonesia, urusan skala ekonomi tetap harus jadi pilihan pertama ya :)
04 Maret 2011 13:14:00
Rivan Mubaroq SH  @liwung: (berobat keluar negeri kuras devisa Rp 100 triliun),masalah WNI berobat keluar negeri adalah hak individu warga indonesia,berhak mendapatkan pelayanan rumah sakit yg berkualitas di tempat dia berobat,jika WNI jarang sekali berobat di rumah sakit dalam negeri yang perlu diketahui adalah pelayanan mutu rumah sakit tsb kepada pasiennya,serta memperhatikan hak-hak pasien untuk mendapatkan kesembuhan dari para dokter maupun perawatnya.contoh yg sering terjadi pada pasien yg berobat ke rumah sakit yaitu Mal Praktek,bagaimana dokter atau perawat tsb harus bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukannya kpda pasien dg membayar ganti rugi dalam bentuk perhatian rumah sakit tsb atas hak-hak pasien,bukankah, pasien yang asli indonesia merupakan WNI juga berhak mendapatkan apa yg menjadi tuntutannya, yaitu kesembuhan serta pelayanan kualitas dari dokter atau perawat. jika pun dokter yg lalai dalam melakukan tugasnya tentunya ada sanksi sesuai dg kode etik kedokteran,bisa pencabutan akreditasi gelar dokter tsb dicabut.
04 Maret 2011 13:20:00
GaraMata Kok Dr Sardjito Yogyakarta contohnya ya? Bukannya pelayanan rumah sakit tersebut jelek ya?
04 Maret 2011 13:24:00
Maximillian  @GaraMata:

Jeleknya relatif Oom :)

Kalau yang dijadikan contoh saja, adalah "jelek" dalam standar Anda, maka bisa diukur skala untuk jenis RS yang lain kan ? ;))
04 Maret 2011 13:29:00
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »