Yang miskin nggak diurusin, yang kaya hamburin devisa.
Yang miskin nggak diurusin, yang kaya hamburin devisa.
pras Hahahaha susah juga ya ngurusin rumah sakit, tenologi, sdm dan pelayanan payah hahahahahaha gue mah biar mahalan dikit mending ke swasta hahahahaha
botaksakti yang miskin itu dibiarin juga hiang sendiri ntar:D(mencoba berpikir ala pemerintah)
Cynic @liwung: memang susah si. beberapa RS ku perhatikan mencoba 'berbenah' dgn membeli alat alat canggih padahal yg juga sangat penting adalah the person behind the gun.
Felipe @Rajawali: calon perawat, calon dokter, itu masing-masing ada Clinical Instructur (CI)-nya, Oom.
Cynic @botaksakti: hehehehe, robot yg di program untuk jadi manusiawi ? boleh juga tuh soalnya susah kayaknya mengharapkan beberapa (if not all) manusia di negri ini untuk jadi manusiawi
Felipe @Cynic: oh ya benar, masalah second opinion ini memang penting.
Felipe @Rajawali: tergantung mahasiswa mana memang sih, bisnis pendidikan kesehatan termasuk bisnis yang prospektif sepertinya. Terbukti dengan makin menjamurnya Akper dan STIKES yang kualitasnya dipertanyakan. Inilah yang saya sampaikan di lapak http://politikana.com/baca/2011/03/02/salah-sendiri-miskin.html , salah satunya karena ketidakkompakkan Kemenkes dengan DIKTI. Carut marut dunia kesehatan memang masih banyak, so mau nggak mau memang harus jadi konsumen yang cerdas. Begitulah :(
Cynic @Rajawali: bukannya merendahkan, jangankan si miskin lah yg punya duit banyakan aja masi gak dapat service beneran :(
I wrote SYN not Tragedies yahh selama kualitas rumah sakit dan kompetensi dokter kita masih kalah dibandingin dokter dan layanan rumah sakit di luar sono...
Rajawali @Felipe: iya deh saya ampuni!
Felipe @Rajawali: [mungkin memang anda tidak pernah melihat secara langsung perlakuan perlakuan tersebut ]
Maximillian @Felipe: Ya, yang Anda sampaikan itu, seperti yang saya alami sendiri, ketika membantu kawan, direktur RS khusus daerah, kamarnya 50, dan yang beliau lakukan, adalah efisiensi dan transparansi, untuk setiap transaksi, dari semua komponen : Jasa Medis, Farmasi, Peralatan Penunjang, dan Sistem Operasinya.
Rivan Mubaroq SH @liwung: (berobat keluar negeri kuras devisa Rp 100 triliun),masalah WNI berobat keluar negeri adalah hak individu warga indonesia,berhak mendapatkan pelayanan rumah sakit yg berkualitas di tempat dia berobat,jika WNI jarang sekali berobat di rumah sakit dalam negeri yang perlu diketahui adalah pelayanan mutu rumah sakit tsb kepada pasiennya,serta memperhatikan hak-hak pasien untuk mendapatkan kesembuhan dari para dokter maupun perawatnya.contoh yg sering terjadi pada pasien yg berobat ke rumah sakit yaitu Mal Praktek,bagaimana dokter atau perawat tsb harus bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukannya kpda pasien dg membayar ganti rugi dalam bentuk perhatian rumah sakit tsb atas hak-hak pasien,bukankah, pasien yang asli indonesia merupakan WNI juga berhak mendapatkan apa yg menjadi tuntutannya, yaitu kesembuhan serta pelayanan kualitas dari dokter atau perawat. jika pun dokter yg lalai dalam melakukan tugasnya tentunya ada sanksi sesuai dg kode etik kedokteran,bisa pencabutan akreditasi gelar dokter tsb dicabut.
GaraMata Kok Dr Sardjito Yogyakarta contohnya ya? Bukannya pelayanan rumah sakit tersebut jelek ya?
Maximillian @GaraMata: