49 Komentar Tulisan

Belajar • penulis: jamur, 03 Maret 2011 07:55:44 • Inspiratif +9

Setuju?

Menampilkan 1 - 30 dari 49 komentar.
jendela hooh..:D
03 Maret 2011 08:00:00
alakazam nah, setuju sekali ini...

#sigh, mengingatkan sama rekan kita yang itu, dikeluarkan dari pesantren lalu.. arrgghh...
03 Maret 2011 08:01:00
jamur  @alakazam: atau kebalikannya, dikeluarkan dari sini lalu masuk pesantren? ;))
03 Maret 2011 08:05:00
jamur  @jendela: ayo senyam senyum mikirin apa ini :D
03 Maret 2011 08:06:00
96 Setuju.
Tapi itu mungkin tugas sampeyan.
Saya nggak minat jadi guru sapa-sapa. ;))
03 Maret 2011 08:08:00
jamur  @96: :)) padahal maksud gw....kalo poin ceritanya dibawa ke....forum tercinta ini..... ;))
03 Maret 2011 08:10:00
96  @jamur: Jiaah. Saya nangkeplah sejak pertama juga. dan justru itu maksud saya.

Di sini saya hanya bersikap sebagai member biasa yang justru belajar. Mencoba menjaring banyak ilmu dari orang lain. Caranya? Justru dengan mengajukan argumentasi. Supaya bisa tahu apakah apa yang ada di otak saya sudah benar, proses pikirnya punya konsep dan dasar yang benar, atau masih ngawur.

Nggak ada minat untuk ngajarin orang atau mendidik orang. Biarin aja yang mau belajar ya bagus, nggak juga gak papa.

Saya menjunjung hak orang. People have the right to remain stupid. Saya ogah disuruh bertanggungjawab terhadap kebebalan orang lain.

Tanggungjawab di rumah dan lingkungan sudah cukup membebani. Itupun masih keteteran.

Iya kan?
03 Maret 2011 08:24:00
botaksakti kalau akhirnya mengeluarkan dirinya sendir?:D
03 Maret 2011 08:28:00
Rajawali  @jamur: gimana kalau kata kata murid itu diganti santri?
kalau kiai muda diganti ustadz?
kalau kiai tua, tetep juga boleh!
Biar nuansanya beneran PESANTREN :D
03 Maret 2011 08:33:00
Felipe  @botaksakti: fenomena alam, Pak Bot. Yang nggak mampu beradaptasi akan punah
03 Maret 2011 08:34:00
Rajawali Pak @botaksakti: sampean rumongso pak :D
03 Maret 2011 08:36:00
jamur  @96: ahahahaha. ini yg gw tunggu, tp udah gw duga lo bakal ngmg dini, den.

jd kyknya lo lebih setuju dgn komennya @The Crow kmrn ya, bersikap 'adil'.

summoning mbah @mbahellextr ah

@botaksakti: keluar jg bagian dari sensasi kan pak dhe. eh ya gak sih? ;))
03 Maret 2011 08:38:00
jamur eh @boiga
03 Maret 2011 08:40:00
botaksakti  @Felipe: betul:D
@Rajawali: rumongso pa? gw cuma mbisiki, eksekusi di tangan doi:D
@jamur: betul, apa lagi ribut menjelang keluarnya itu:D
03 Maret 2011 08:41:00
emina ada seorang perempuan luar biasa yang membuat saya belajar banyak. Yang sering 'memecut' saya dengan kesinisannya. Untung juga saya masih tidak dikatai hewan semacam dog atau monkey.

Beliau berkata begini pada saat saya pamer ultah : kek gitu bangga ultah? buat apa klo sikap ga berubah. mending ga usah hidup sekalian.

dan itu bukan konteks bercanda. Lalu di fesbuk juga beliau berkata : tulisan kamu bukan jenis tulisan yang pengen saya baca. jadi ga usah nge-tag lagi atau terpaksa saya blok.

Then, apa yang terjadi? saya makin mencintainya. Karena saya tak punya alasan utk membenci dia, krn dia mengatakan kebenaran ttg diri saya -walau dengan caranya sendiri, yang dianggap ekstrim oleh kebanyakan orang. Saya bisa terus belajar darinya, hanya itu alasan sederhana saya tak pernah bisa membenci beliau dan sangat senang bisa mengenalnya :)

Kita bisa belajar dari siapapun. Karena kadang kearifan itu kita temukan dari orang -orang yang mungkin tidak menyukai kita. Belajar dari sudut pandang dia, membuat saya tahu bahwa ada banyak hal baik dari beliau yang sesungguhnya bisa membuat kita berkembang
03 Maret 2011 08:57:00
Rajawali Pak @botaksakti: :))
03 Maret 2011 09:08:00
96  @jamur: [jd kyknya lo lebih setuju dgn komennya The Crow kmrn ya, bersikap 'adil'. ]

Ya kurang lebih begitu.
Waktu saya pertama debat rada kenceng di sini bapak @The Crow bilang : Trust me, some people had to learn it the hard way here.

Mungkin terkesan agak rancu kata belajar di atas kalau dihubungkan dengan poin saya sebelumnya "tidak mau jadi guru siapa-siapa".

Tapi memang orang belum tentu kepingin "ngajarin", karena pembelajaran in hard way itu maksudnya lebih ke pengalaman yang keras. dari satu pengalaman debat yang keras, yang belajar bisa kedua pihak. Gak ada yang kepingin mengajari, tapi satu sama lain saling belajar. pengalamannya yang jadi guru. orang lain cuma mengantarkan.

Di sisi lain, ya adil dalam bersikap. Jangan karena gadis menye-menye dengan poto profil memikat lalu bisa seenaknya mengumbar kata-kata umpatan, fitnah, dsb, tanpa kena resiko setimpal, atau bahkan tanpa dikatakan terus terang padanya kalau kata-katanya itu fitnah, ad-hominem, dsb.

@TTTH jarang atau nggak pernah disemprot bukan karena fotonya saya kira. ;))
03 Maret 2011 09:19:00
emina  @96: pak, anda sehatkah? semoga anda sehat2 saja.... :D
03 Maret 2011 09:23:00
96  @emina: sehat. alhamdulillah. :D
03 Maret 2011 09:26:00
pras hahahahahahaha
belajar itu harus menyenangkan

kalau nggak percaya tanya pak @botaksakti:
hahahahahahaha

bagi saya P ini cukup menyenangkan
hahahahahahahaha
03 Maret 2011 09:27:00
Maximillian Analogi organisasi pesantren/ institusi pendidikan, dalam kasus mendidik personal/ individu, dengan Politikana, yang model operasinya user generated content, dimana kontributor tidaklah memiliki komitmen beririsan secara tegas, cukup jauh, kalau dalam pandangan subjektif saya Oom @jamur :)

Di sini, pemilik fungsinya adalah moderasi sistem. Budaya warga negara, kelas sosial, konflik antar aliran kelas sosial, pembantaian opini, diskusi konstruktif bertema, adalah bentuk dinamisnya sebuah sistem jurnalisme warga. Ada yang tetap bertahan dengan identitasnya, dan ada yang hilang tewas karena dinamisnya budaya warga, itu lazim dengan sistem yang dibangun di sini.

Di sini, warga bersahabat secara pemikiran, dan berkonflik juga dalam pemikiran. Pemikiran disini adalah bentuk obyek, ada budaya obyektif yang menjadi ciri khas diskusi egaliter semacam Politikana. Jika kemudian sampai dibawa ke ranah subyektif, ke urusan personal, tukeran kopi, film, atau persahabatan di dunia offlline, maka itu adalah efek ikutan dari forum Politikana, dan bukan fungsi utamanya.

Itu pendapat subyektif saya, tentang budaya obyektif yang menjadi salah satu semangat di Politikana :)
03 Maret 2011 09:31:00
rephemera  @96: [Supaya bisa tahu apakah apa yang ada di otak saya sudah benar, proses pikirnya punya konsep dan dasar yang benar, atau masih ngawur.]

ngawurnya njenengan itu ngawurnya ngawur? ndak juga saya rasa...
*tapi kalau "ngawur" yang anda utarakan itu logis, kenapa enggak...?
:D
03 Maret 2011 09:33:00
pras debat nggak pernah menang mah biasa
nggak usah ditangisi
dibikin ngakak aj
hahahahahaahaha
03 Maret 2011 09:33:00
Whispering Wind  @emina: [ada seorang perempuan luar biasa yang membuat saya belajar banyak. Yang sering 'memecut' saya dengan kesinisannya.]

inisial-nya PP ya?
03 Maret 2011 09:35:00
The Crow  @jamur: @96: @Maximillian: It's never really right to kick-out a student out of a school, especially if the student actually wants to better himself/herself. It's another matter entirely if the student actually refuses to learn anything and chooses to be satisfied with his/her own little world.

Comparing Politikana to a formal school is not really a matching comparison. I'd rather see it as a virtual world. And the world, although not a formal one, is your final school. The final school is where you are your own teacher, and the other people's thoughts are your books. You may read the books or not, it's your own choice.
03 Maret 2011 09:43:00
96  @pras:

Yang menang malah yang kalah.
Mumet kan. ;))

*Ini ngawur maning* :D @rephemera
03 Maret 2011 09:44:00
jamur  @Maximillian: oke, nuhun. komennya khas sekali. saya setuju. tp kadang yg membuat keramaian itu reaksi2 spontan, antara emosi dan penasaran. :))

@emina: ada dua poin yg harus terjadi dulu berarti ya, pertama ketika anda menganggap pernyataannya yg sinis benar, dgn caranya. dan kedua anda bersedia belajar utk lebih baik darinya. yg pertama ini yg susah :D

@pras: merasa menang kan bisa :D
03 Maret 2011 09:45:00
Maximillian  @jamur: Saya memahaminya sebagai variabel kompleksitas Oom.

Ada warga yang selalu punya siklus estrus tiap bulan, disebutnya kalau di biologi : menstruasi. Dalam keadaan semacam ini, kondisi psikologi menjadi kurang stabil, dan itu berpengaruh juga ke cara untuk menyikapi argumen luar.

Ada warga yang lagi depresi, karena masalah pribadi, disebutnya : distres. Dalam kondisi semacam ini, rasionalitas cenderung menurun, dan emosionalitas cenderung meningkat, dan itu lagi- lagi berpengaruh ke cara menyikapi argumen.

Saran saya adalah :
1. Saat sedang membaca komentar di Politikana, dosis kafeinnya kalau bisa di ambang batas toleransi.
2. Pastikan tidak sedang dalam periode menstruasi
3. Selesaikan dulu masalah personal yang masih menggantung
4. Coba berlatih untuk memahami masalah dari sisi kontra
5. Berwudhu dulu, biar berpahala

Hehe :)
03 Maret 2011 09:52:00
pras  @96: @jamur:
hahahahahaha
yang menang nggak tambah ilmunya lho
yang kalah justru bisa belajar banyak

bisa: oooo gitu tho, ooooo hiya, ooooo dst
hahahahahahahaha
jadi aneh kalau tersudut jadi manyuuuunnn
hahahahahahahahha

03 Maret 2011 09:53:00
96  @pras: [yang menang nggak tambah ilmunya lho
yang kalah justru bisa belajar banyak]

Persis. Karena itu yang menang malah justru yang kalah, dan yang kalah justru yang menang.

Dan karena itu pula, debat itu jadi nggak tepat kalau diletakkan dalam konteks menang-kalah. Karena mumet sendiri nantinya. ;))
03 Maret 2011 09:58:00
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »