54 Komentar Tulisan

DAYAK FREE SEX ITU DIMANA PROF??? • penulis: anti-fenomena, 08 Januari 2011 12:13:37 • Penting +10

Jika professor itu salah, saya rasa tidak cukup hanya dengan meminta maaf, dia sudah bisa dikenai sanksi hukum adat untuk menunjukan itikad baiknya

Menampilkan 1 - 30 dari 54 komentar.
emina de javu dengan perkataan seorang profesor tentang TKI ;))
08 Januari 2011 13:53:00
The Crow  @emina: And a minister's comment on the Merapi refugees.

"klenteng-klenteng-klenteng"
08 Januari 2011 13:55:00
emina  @The Crow: kenapa ya pak, para professor suka sekali mengeluarkan statemen yang aneh2 ? *eh itu statemen ttg free sex di dayak aneh juga kan? saya sendiri ga terlalu paham budaya dayak soalnya :D

klenteng ? itu tempat ibadah kong hucu kan ya? :D
08 Januari 2011 14:05:00
NOS Thamrin Amal Tamagola memang kadang error. Mungkin yg dia maksud bukan Dayak, tapi Pataya.
08 Januari 2011 14:13:00
'YC' lebih baik ganti kata professor jadi provokator... Kalau begini bisa menjadi masalah SARA yang tak kunjung usai [-(.
08 Januari 2011 14:39:00
anti-fenomena  @NOS: [Thamrin Amal Tamagola memang kadang error. Mungkin yg dia maksud bukan Dayak, tapi Pataya]

Saat diklarifikasi Kompas, Si Prof itu masih keukeuh bilang penelitiannya tentang suku Dayak dan papua Om.


08 Januari 2011 14:54:00
anti-fenomena  @The Crow: @emina: parahnya, statement si prof itu pas harga cabay gila-gilaan (http://politikana.com/baca/2011/01/03/dicari-sembako-bajakan-atau-bm.html#comment-281190), benar-benar memancing emosi.
08 Januari 2011 14:59:00
anti-fenomena  @'YC': jangan-jangan account twitter @provokatrok milik doi?
08 Januari 2011 15:04:00
'YC'  @anti-fenomena: Mungkin kali ya. :))
08 Januari 2011 15:15:00
a stumbling journalist  @anti-fenomena: Maaf kepencet, mau rating PENTING malah kepencet jadi rating biasa.

Iya dari awal saya juga tidak setuju dengan pernyataan prof itu. Meskipun saya bukan orang Dayak, tapi saya juga nggak seneng tuh pas baca beritanya.

Prof itu emang harus belajar gimana caranya menyampaikan pendapat. Dan kalau memang hasil riset ya berarti ada data-data valid yang seharusnya bisa ditunjukkin. Kalau nggak, yah, apes deh dia sama orang Dayak.
08 Januari 2011 17:25:00
jaloe Cerita teman saya di buku barunya terkait kasus video mirip artis juga mengungkap sisi budaya suku Wana di pedalaman Taman Nasional Morowali. Malah sang penulis bertutur bahwa ia menuliskan cerita kegiatan seksual itu sebatas contoh pemuliaan sebuah suku terasing terhadap ritual seks. Dan cerita yang diungkapkan itu pun menunjukkan kemulian ibadah itu yang tertutup dan tidak free.

Profesor, kali ini Anda salah kavling. Kasus Ariel dan dua nona maninya jangan disandingkan dengan etnografi seksual suku mana pun. Dijamin tidak akan pernah sama dan bias.

Profesor, kali ini Anda keliru.
08 Januari 2011 17:52:00
Maximillian Thamrin Amal as professor ? In what discipline ? Please check his credential ;))

Please, no more Roy Suryo like ! :((
08 Januari 2011 17:56:00
anti-fenomena  @a stumbling journalist: nyantai aja om, P bukan sekedar rating semata :)

Betul om, mengingat sub suku Dayak itu banyak sekali, jadi masih ada kemungkinan statement itu berdasarkan data yang valid, semoga saja si prof itu benar-benar punya. Jika tidak, si prof harus gentlement mengakuinya dan menerima sanksi hukum adat berdasarkan hasil rapat besar di Tumbang Anoi tahun 1894, yang diakui seluruh suku dayak.



08 Januari 2011 18:05:00
anti-fenomena  @jaloe: @Maximillian: numpang tanya om, yg berhak nentuin saksi ahli itu, pengadilan atau tim pembela Ariel ya om?


08 Januari 2011 18:13:00
Maximillian Oom @pashery, untuk soal penunjukan saksi ahli, coba konfirmasi ke Oom @Last Man Standing deh, beliau ahlinya.

Hanya, sepehaman saya, Oom TA Tamagola ini, baru selesai mengambil gelar doktoral sosiologi dari UI, dan belum bergelar profesor. Hanya, beliau memang seringkali "nampak" sering ditanggap sama media, dan laris....

Oleh karena itu, mohonlah pengadilan lebih hati- hati kalau memilih saksi ahli, dan kawan jurnalis, mohonlah selektif memilih narasumber...

Begitulah Oom ;))
08 Januari 2011 18:32:00
Maximillian  @anti-fenomena: Marahin aja orang semacam itu, jangan sampai ada manusia- manusia macam KRMT lagi [-(
08 Januari 2011 18:33:00
Maximillian  @anti-fenomena: [dan menerima sanksi hukum adat berdasarkan hasil rapat besar di Tumbang Anoi tahun 1894,]

Diapain nih sanksinya ? ;))
08 Januari 2011 18:53:00
anti-fenomena  @Maximillian: belum bergelar profesor tho? beberapa media nyebutin doi prof. Makin aneh si TA Tamagola ini....

*lepas ikat kepala merah, ganti dengan koyo cabe*
08 Januari 2011 19:09:00
Marshall Rommel  @anti-fenomena: pa kabar bro? masih inget ane?

*jadicabemerahitupedas*

:D
08 Januari 2011 19:11:00
anti-fenomena  @Maximillian: menurut saya bisa dikenakan jipen (denda) yang cukup besar, biar kapok. Kalo doi orang Dayak sanksi pengucilan seumur hidup dari komunitas masyarakat, mungkin bisa terjadi.
08 Januari 2011 19:14:00
Black Horse  @anti-fenomena: [*lepas ikat kepala merah, ganti dengan koyo cabe*]

;)) ;))
08 Januari 2011 19:15:00
anti-fenomena  @Marshall Rommel: inget banget om, aspirasi ane tentang cabe dah nyampe mana om? :D
08 Januari 2011 19:17:00
Black Horse  @Marshall Rommel: [pa kabar bro? masih inget ane?]

Bukannya bapak adalah deklarator partai NASI itu toh? :D

08 Januari 2011 19:17:00
Marshall Rommel  @anti-fenomena: dah sampe meja Yang Mulia Paduka ...

tunggu disposisi mau diarahkan kemana ..

ke Mentan, kayaknya lagi sibuk ngurusin beras

ke Mendag, lagi pusing ama beras impor

tau dah mo dibawa kemana ... :))
08 Januari 2011 19:19:00
Marshall Rommel  @Black Horse: ya kalee .... :D NASInya baru dimasak nih ..

nungguin cosmos mateng

:D
08 Januari 2011 19:29:00
anti-fenomena  @Marshall Rommel: tolong terus digiring om, kalo tembus, ada.. lah sedikit-sedikit ucapan terima kasih dari si bos. :)) #eh?



08 Januari 2011 19:29:00
Maximillian  @anti-fenomena: Lah, KRMT Roy, kan ber"gelar" ahli telematika, itu akreditasi siapa yang kasih :))

Cuma, beliau "sukses" menjadi anggota Partai D, bahkan jadi Anggota Dewan, salah satunya kan, dengan modal selebritas "Ahli Telematika"

Nggak habis pikir saya, serius Oom :o
08 Januari 2011 21:17:00
anti-fenomena  @Maximillian: [Lah, KRMT Roy, kan ber"gelar" ahli telematika, itu akreditasi siapa yang kasih?]

yg pasti bukan @Marshall Rommel: atau @The Crow:, saya yakin om. :D
08 Januari 2011 21:37:00
yusro Mulutmu harimaumu :D

*nglirik @ndableg dan @Nazil
08 Januari 2011 22:14:00
mbah joebir  @anti-fenomena: [Jika professor itu salah, saya rasa tidak cukup hanya dengan meminta maaf, dia sudah bisa dikenai sanksi hukum adat untuk menunjukan itikad baiknya, atau..... ? ]

Wah... Dr. TA Tamagola mesti harus tanggap dan waspada nih. Kalau tidak... bisa 'lepas' tuh kepala doi.

*hasil penelitian ethnografi yg tak jelas konteksnya malah dijadikan acuan penilaian kasus pornografi. buktinya orang Dayak aja gak ada yag tahu tuh ada free sex di kalangan orang Dayak*
08 Januari 2011 22:37:00
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »