bungtje @
boiga @
as:
Seperti yang dikatakan @harlaner, "Teriak[k]an saja terus, apapun medianya." Musik adalah alat bagi musisi untuk menyuarakan apa saja, termasuk kepeduliannya untuk masa depan bangsa dan dunia. Yang ditawarkan kompetisi ini adalah kesempatan menunjukkan pada dunia, bahwa meski Indonesia mengidap penyakit korupsi, masih banyak anak muda (dalam hal ini, musisi) yang peduli dan melakukan apa yang dia bisa untuk mengobati negaranya.
Di Nairobi, para musisi akan berkolaborasi membuat lagu antikorupsi bersama. Juga akan aktif ikut dalam forum antikorupsi pemuda, di mana mereka bisa berbagi dan belajar tentang gerakan antikorupsi di negara lain: kegagalan, kesuksesan, kerja keras, kiat-kiatnya, dan masih banyak lagi. Semua peserta forum itu didorong memelihara jejaring barunya tersebut, dan nantinya pasti jejaring itu berguna, kok. *hakul yakin*
@
yusro:
Yuuk maree... *bergema :D
@
mbah joebir:
Saya nggak tahu persis kenapa nggak ada band Indonesia yang ikut dalam kompetisi tahun lalu. Tapi dugaan saya sih itu masalah publikasi yang kurang saja.
Saya percaya semua orang dengan caranya sendiri bisa melawan korupsi. Musisi bisa melalui lagu, seperti Slank. Saya yakin masih banyak yang mau dengar *ngacungin jari sendiri*
Kampanye antikorupsi itu tetap penting lho, dan bisa diwujudkan melalui seni. Apa yang kita dengar dari musik atau lihat dari film bukan tak mungkin menancap lebih kuat di otak dan nurani ketimbang himbauan resmi yang lebih sering membosankan dari pemerintah atau buku teks.
Wartawan dan netizen bisa urun serta dengan memberitakan upaya antikorupsi, pencegahan dan penindakan korupsi, hukuman bagi koruptor, ataupun membuat berita yang mendorong (juga menghajar) penegak hukum untuk serius menghukum koruptor *lagi-lagi ngacung*
Kewajiban paling besar untuk memberantas korupsi tentu ada di pundak presiden beserta segenap pembantunya (menteri, kepolisian, kejaksaan), KPK, dan juga lembaga peradilan...
Dan yang penting, sekecil apapun bentuknya, kita harus ikut aktif dalam pertempuran melawan korupsi ini. Kritis boleh, tapi pesimistis jangan, ah. Meski perlahan, perubahan menuju yang masa depan itu ada kok. Sedang kita lakukan bersama kan? :)
03 Januari 2011 13:04:00