40 Komentar Tulisan

Kebebasan "Beragama Agama" • penulis: iloenx, 14 Juli 2010 11:48:57 • Menarik +5

Masalahnya, bukan pada butir hadits itu. Tetapi pada tafsir atas teks. Dan masalah yang lebih besar adalah ketika tafsir itu dipaksakan kepada orang lain yang berbeda mazhab. Dan itu rupanya sudah menjadi karakter mazhab mereka yang “beragama Agama” dari dulu sampai kini, dan mungkin esok..... Wallahu a’lam bishawab...

Menampilkan 1 - 30 dari 40 komentar.
iloenx harus hat-trick
14 Juli 2010 11:49:00
iloenx meskipun di lapak sendiri
14 Juli 2010 11:49:00
iloenx penting karena susah bikin hat-trick di lapak orang lain
14 Juli 2010 11:49:00
liwung  @iloenx: maksudnya hattrick di gawang sendiri, kalau di bola itu bener2 keterlaluan :D :D

ttg artikel; yah beda nggak papa, suka maksain itu yg bikin repot
14 Juli 2010 11:56:00
pradaksina [ada yang menjawab 11 rakaat, ada yang menjawab 23, ada yang menjawab lebih. Apapun jawaban dia, diakui atau tidak, itu mencerminkan mazhab yang dia ikuti.]

Kalau kadang 11 kadang 23?

;))


14 Juli 2010 12:01:00
The 7 Follow-up the shot :D

14 Juli 2010 12:03:00
iloenx  @liwung: Hey... jangan salah, aku bilang hat-trick di lapak sendiri, bukan di gawang sendiri (sprti) dalam sepak bola, ha....... :p
@pradaksina: tak bermzhab itu juga sebuah mazhab.....;))
@The 7: saatnya gelar tikar, ngupi, meski gak rokokan, ha.... :)
14 Juli 2010 12:50:00
jamur [Mestinya, kalau dia punya tafsir seperti itu, dia tak memaksakan tafsir itu kepada orang lain agar juga menerima dan mengamalkan tafsir itu. Orang lain bebas menafsirkan hadits itu secara berbeda.]

tafsir itu ngeri ;))
14 Juli 2010 13:03:00
Why Young  @iloenx: liberalisasi dalam keberagaman itu kog terasa aneh ya? liberalisasi yang saya maksud seperti, bermahzab tanpa mahzab, kemudian tanpa imam/panutan. lha terus ikut siapa tata caranya itu? apakah kompetensinya memadai utk melakukan penafsiran sikon yang ada, kerennya ber-ijtihad sendiri?
14 Juli 2010 13:15:00
TTTH  @iloenx: Jangankan menafsirkan ayat atau hadits. Menafsirkan makna atau nama suatu agama pun bisa ribut. ;))
14 Juli 2010 13:31:00
Coulrophobia  @pradaksina:
[Kalau kadang 11 kadang 23]

kalau seringnya ga berangkat?
14 Juli 2010 13:33:00
iloenx  @jamur: ngeri dan ngegirisi..... ;))

@Why Young: kalau dilihat secara sosiologis, terbentuknya mazhab tentu tak terhindarkan. Setiap ajaran, pasti mengalami difrensiasi pemikiran seiring dengan berjalannya waktu. jangan kata kita yang hidup setelah 14 abad, generasi awal Islam yang hidup di abad pertama saja sudah mengalaminya, meski kategorisasi mazhab mungkin baru dikenal dua-tiga abad kemudian.... Berijtihad sendiri, dalam perspektif Islib mungkin sebuah upaya membangun keberagamaan bebas mazhab, tetapi saya kira mereka tak lebih dari sebuah sindrom sysiphus.... ;))
14 Juli 2010 13:40:00
iloenx  @TTTH: :) itu betul.... maksud saya, tu empiris, ha...

@Coulrophobia: saya kira gak berangkat pun gak papa (baca bukan dosa, saya edit dikit naskahnya), ha.....
14 Juli 2010 13:42:00
pradaksina  @Why Young: Kalau dalam hal A mengikuti apa yg dikatakan ulama (mahzab) X, sementera dalam hal B mengikuti ulama (mahzab) Y, boleh gak?
14 Juli 2010 13:50:00
Why Young  @pradaksina: pertanyaan saya itu pertanyaan orang yang gak tahu...:P

@iloenx: tapi mestinya ada syarat dan ketentuan yang berlaku...:D kalau sekedar wacana barangkali sah-sah saja.

Untuk itu yang namanya Majelis Ulama harusnya menimbang hal-hal yang rancu atau hal-hal kontemporer dengan kelengkapan ilmu yang memadai.

14 Juli 2010 14:17:00
Why Young  @pradaksina: mestinya agama dilihat dalam dua sudut, sebagai lembaga dan tuntunan. sebagai lembaga atau organisasi sudah sepantasnya memiliki hierarki otoritas. dan dalam sisi yang lain sebagai tuntunan, agama adalah wilayah yang sangat privat. menjalankan atau mengabaikan tuntunan yang ada, adalah tanggung-jawab pribadi. sebagaimana titipan sepeda, hilang atau rusak diluar tanggungan...:D
14 Juli 2010 14:27:00
69 Masalahnya adalah... kalau ngomong jangan keras-keras.
Masuk artikel di P baru nyaho luh.
14 Juli 2010 14:42:00
yusro Bikin yang gampang aja. Ketika takziah, mau mendoakan yang meninggal, silakan, ndak ikut mendoakan ya monggo :)
14 Juli 2010 15:04:00
pradaksina  @yusro: Ntar sampeyan disebut @iloenx bermahzab 'tanpa mahzab'

:D
14 Juli 2010 15:06:00
yusro  @pradaksina: He he, mahzapnya "P", mau rating+komentar, silakan, rating aja, atau komentar aja monggo. Cuma baca doang sok aja :)
14 Juli 2010 15:22:00
69 Rasain lu.
Yang baca doang ga komen orang sok.
Begitu ya pa @yusro. Eh... :))
Wkwkwkwk
14 Juli 2010 15:41:00
iloenx  @yusro: @69: sok itu makhluk apa sih? jelaskan......... ;))
14 Juli 2010 15:58:00
69  @iloenx: itu dari kata sok breker saya kira.
14 Juli 2010 16:03:00
iloenx  @Why Young: [iloenx: tapi mestinya ada syarat dan ketentuan yang berlaku...:D ]
[... mestinya agama dilihat dalam dua sudut, sebagai lembaga dan tuntunan. sebagai lembaga atau organisasi sudah sepantasnya memiliki hierarki otoritas. dan dalam sisi yang lain sebagai tuntunan, agama adalah wilayah yang sangat privat. menjalankan atau mengabaikan tuntunan....]

=======
kalau dua komentar itu disatukan, maka yang dimaksud dengan syarat dan ketentuan itu tentu mengacu pada agama sebagai lembaga. Point saya juga di situ, dan mazhab itu sejatinya adalah bagian dari dan/atau sesuatu yang memperlihatkan agama itu sebagai lembaga. Pada wilayah mazhab, syarat dan ketentuan itu tentu berlaku. mestinya ada kesadaran toleransi antar mazhab, sebagaimana toleransi antar (umat) agama yang berbeda..... Fakta yang ngegirisi selama ini adalah ada mazhab dalam Islam yang tak memiliki toleransi itu, dan maunya mematikan mazhab yang lain....
Apakah tak ada solusi? mestinya ada. ya Merumuskan syarat dan ketentuan itu yang bersifat mengatasi semua mazhab, di mana semua mazhab itu mestinya menjadikan syarat dan ketentuan itu sebagai pedoman bersama. Saya kira hal ini bukan tak diupayakan, terbukti denga adanya dialog-dialog antar pemuka mazhab2 Islam yang berlangsung secara periodik, tetapi mungkin sosialisasinya yang tak berlanjut sampai ke akar rumput. padahal masa akara rumput ini yang paling mudah terbakar (dibakar?), apalagi jika rumputnya adalah rumput2 kering di bahwa tiupan angin kencang....

Selebihnya, pada level tertentu, agama sebagai tuntunan mestinya merupakan penjabaran dari implementasi syarat dan ketentuan tersebut, di mana kebebasan beragama secara personal mestinya dijamin, sehingga tak ada yang terlanggar hak-haknya, dan seluruh pertanggungjawaban setiap orang hanya akan dimintai pada hari pengadilan di alam sana.... tetapi apakah sebuah Front, misalnya, bisa menerima pandangan yang sebetulnya elementer ini?


14 Juli 2010 16:14:00
pall Setahu saya tuduhan bid'ah itu bukan dari hadits yang terputus amal kecuali tiga itu, tapi ayat Quran - saya lupa ayatnya - yang menyebutkan bahwa manusia memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri.

Tetapi mereka bersikap ganjil dalam memperlakukan ayat lain: 'wastaghfir lidzunbika walil mu'minin'

Padahal ayat itu mengafirmasi mengenai mendoakan kaum muslim - hidup atau mati. Katanya gak ada mekanismenya yang dicontohkan Rasul, makanya bid'ah. Bah!
14 Juli 2010 17:32:00
Why Young  @iloenx: "tetapi apakah sebuah Front, misalnya, bisa menerima pandangan yang sebetulnya elementer ini? "
kalau urusan bisa menerima atau tidak itu urusan hukum positip, hukum yang mengatur interaksi sesama warga negara. jadi sudah bukan lagi ranah private, karena adanya irisan kepentingan. dan mestinya negara bisa tegas.

14 Juli 2010 17:35:00
Cakrabuana Persoalan ibadah ritual tidak perlu dibuat repot, yang jadi soal itu ibadah aktual yang harus selalu kita pahami dan pelajari, karena setiap hari kita beraktifitas jika tanpa didasari spirit moral dan agama pastinya akan melenceng.
14 Juli 2010 17:42:00
The Crow  @iloenx: [tetapi apakah sebuah Front, misalnya, bisa menerima pandangan yang sebetulnya elementer ini?] It doesn't matter whether or not they can accept it. It does matter when that particular front chooses to bring their non-acceptance attitude into action.
14 Juli 2010 18:18:00
iloenx  @Cakrabuana: bisakah anda lebih detail dg yang dimaksud dengan ibadah ritual dan ibadah aktual? setiap kategorisasi tentu punya acuan, bukan?
15 Juli 2010 07:44:00
iloenx  @The Crow: setuju, pada analisis terakhir, persoalannya memang di level tindakan..... bukankah itu memang yang menjadi karakter front dimaksud? ;))
15 Juli 2010 07:47:00
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »