10 Komentar Tulisan

Etanol dan Kelaparan Itu • penulis: Rusdi Mathari, 18 Maret 2010 09:42:59 • Penting +6

Bila lahan yang biasa digunakan untuk produksi pangan kemudian digunakan untuk produksi bahan bakar, maka itu akan memengaruhi persediaan bahan pangan bagi masyarakat miskin dunia, yang secara dominan bergantung pada biji-bijian dan komoditas lain. Harus ada keputusan tegas, untuk segera membatasi lahan pertanian disulap menjadi gudang bahan bakar, dan etanol.

Menampilkan 1 - 10 dari 10 komentar.
botaksakti siapa tahu ada yang sedang melakukan penelitian "etanol" sebagai bahan makanan,Bang ???:D
18 Maret 2010 09:46:00
pradaksina di jambi & sumut, dan mungkin daerah lainnya, lahan padi sudah berubah menjadi lahan sawit
18 Maret 2010 10:01:00
wawajie Perebutan lahan antara bhan bakar dan pangan, Akhirnya benar2 kejadian.
@botaksakti kan udah pak etanol jd makanan :D
18 Maret 2010 10:11:32
wawajie 
18 Maret 2010 10:12:12
OddieBudiSantosa Saatnya kembali menengok KB, IMHO.
18 Maret 2010 10:13:00
em je paling tidak untuk diri, saya masih bisa berusaha untuk mencukupi kebutuhan pangan pribadi, saya kan petani di desa
18 Maret 2010 10:21:00
alakazam  @wawajie: CIU? :))

harga bahan pangan naik, tapi kok ya petani kita tetap miskin ya...

Jika di artikel ini jauh melihat di Haiti dan Somalia, sepertinya Indonesia sebentar lagi juga akan menyusul...

naiknya popularitas kelapa sawit sebagai bahan baku bahan bakar alternatif menyebabkan banyak dibuka dan beralihnya perkebunan/persawahan menjadi perkebunan kelapa sawit...

memang sekarang kita masih bisa berswamsembada pangan, tapi cadangan pangan kita hanya sedikit, sedangkan pertumbuhan penduduk luar biasa cepatnya...

**sedikit mikir, kalo harga beras masih saja murah, makin sedikit yang mau jadi petani padi, yg berakibat harga beras naik, duh, bingung, ayam telor dagh....
18 Maret 2010 18:30:00
Striding Cloud  @alakazam:

Karena ketika pangan masih disubsidi, petaninya sudah dimiskinkan terlebih dahulu, sehingga tidak sanggup untuk mempertahankan lahannya.

Disini nyata terlihat, betapa campur tangan pemerintah yang kronis, di masa depan, malah menghancurkan kehidupan golongan termisikin.

Kini yang bisa memanfaatkan naiknya harga pangan, adalah investor/spekulan jangka panjang, yang dulu sanggup mengeluarkan uang untuk membayari hutang daripada petani.
18 Maret 2010 18:33:00
alakazam  @Striding Cloud:

jika mendengar cerita orang-orang tua di kampung, sepertinya saya lebih menyukai istilah "pemerintah memaksa harga beras/padi selalu murah" daripada istilah subsidi di masa lalu... ;))

lantas sekarang bagaimana sebaiknya kita menyikapi isu kelapa sawit yang semakin naik popularitasnya. membatasi atau mengurangi lahan kelapa sawit tentu bukan pilihan yang akan diambil pemerintah, karena sektor ini memiliki potensi devisa yg sangat menggiurkan.

mungkin terlintas pikiran untuk mengekspor pangan dengan devisa yang dihasilkan dari sektor kelapa sawit, tapi aku sangat tak suka dengan ide ini. Jika entah karena sebab apa kita mengalami konflik dengan negara penghasil beras, dengan sangat mudah ketahanan pangan kita akan ambruk, yang secara pasti akan merembet ke ketahanan-ketahanan yg lain...
18 Maret 2010 18:56:00
Striding Cloud  @alakazam:

Solusinya, melek sejarah. Kita harus belajar dari masa lalu. Dimana pekebunan tebu, telah menghasilkan kelaparan di jawa.

Maka pemerintah harus memiliki semacam persawahan negara, bukan hanya perkebunan saja. Yang harga jualnya mengikuti pasar.

Alternatif lain adalah land re-distribution(eits, jangan tuduh saya pki dulu).

Fakta bahwa ada seorang calon wapres menguasai 3 juta tanah adalah amat outrageous! Bahkan di amerika yang amat kapitalis saja, kepemilikan tanah dibatasi jumlahnya per individu. Kenapa Indonesia menjadi teramat kapitalis untuk memperkaya calon wapres yang mengaku sosialis?
18 Maret 2010 23:36:00
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »