37 Komentar Tulisan

Politik Pendidikan: "Kemampuan bahasa" first, the rest are commentary • penulis: Wonggantenk, 14 Maret 2010 14:10:57 • Penting +7

Mathematics and Languages are the basic of General Education, the rest are commentary.

Menampilkan 1 - 30 dari 37 komentar.
alakazam __Memang, pelaksanaan UN/UAN banyak dikritik karena merangsang praktik kecurangan di sekolah. Namun, itu bukan salah UN/UAN-nya, tapi salah manusianya (guru, ortu dan murid). Ada rasa malu kalau sekolahnya gagal dalam UN/UAN, sehingga guru pun banyak yang jadi joki.__ ♥ this... :D

jenuh saya dari kemaren mendengar orang disekitar yang menganjurkan kecurangan hanya karena menilai bahwa UN itu salah...

well, saya orang yang setuju sebaiknya UN dihapus, tetapi lebih tidak setuju jika sikap ini digunakan untuk menghalalkan kecurangan dalam UN
14 Maret 2010 15:00:00
Wonggantenk  @alakazam: Kalau menurut saya, esensinya bukan menghapus UN, tetapi memotong dahulu jumlah pelajaran di sekolah yang terlalu banyak, sehingga siswa tidak fokus.

Cukup 3 pelajaran wajib (kemampuan berbahasa), + agama, dan 2 atau 3 lain pelajaran sesuai minat siswa dan sumber daya sekolah. Cukup 6 atau 7 subjek saja
14 Maret 2010 15:06:00
alakazam  @Wonggantenk: jumlah subjek ujian tak masalah bagi saya, bahkan UN sendiri sebenarnya bukan masalah bagi saya, hanya saja penyamarataan soal ujian untuk semua wilayah ini yang saya rasa kurang benar...

tentunya dengan perbedaan fasilitas antara kota2 besar dengan daerah yang jauh dari berbagai fasilitas akan mengakibatkan materi yg diterima siswa menjadi berbeda...

memang idealnya, dimanapun tempatnya, seharusnya pendidikan dan materi serta kemampuan menyerap materi harus sama, tapi kondisi sekarang masih jauh dari ideal....

IMHO mempersoalkan benar tidaknya UN tentu hanya akan menjadi buang2 tenaga jika tanpa diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, terutama di daerah yang jauh dari kota2 besar
14 Maret 2010 15:13:00
wawajie  @Wonggantenk:
berbakat pencitraan dan bahkan berbakat jadi koruptor dan sebagainya.
--------------------
:)) :)) :))
14 Maret 2010 15:40:00
Wonggantenk  @alakazam: [IMHO mempersoalkan benar tidaknya UN tentu hanya akan menjadi buang2 tenaga jika tanpa diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, terutama di daerah yang jauh dari kota2 besar] absolutely agree.

Nah, di sinilah kita harus berjuang. Pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Di sinilah sebaiknya fokus anggaran pendidikan itu.

UN hanya alat untuk scanning doang.
14 Maret 2010 15:47:00
Wonggantenk  @iloenx berpendapat bahwa try out dapat dipakai untuk melihat gambaran kualitas sekolah, dan hasilnya 10% yang lulus. Untuk apa UN? apa yang harus dibanggakan dari UN?

Yang menjadi masalah bukan UN-nya, tetapi sejauh mana kita siap menerima kegagalan dan bangkit. Bangsa ini menghadapi kegagalan dengan pencitraan. This is a mental disorder that has become an epidemics. Untuk menghilangkan kesan gagal, jawaban UN dipoles atau disedekahkan. Sekali lagi, di sini manusianya yang salah.


14 Maret 2010 16:08:00
TTTH  @Wonggantenk: Setuju...
http://politikana.com/baca/2010/01/18/pentingnya-bahasa-dan-logika-kiriman-teman

;))
14 Maret 2010 18:16:00
Wonggantenk  @TTTH: :D :D, untuk gambar no 1, kalau yang lain ngaku tampan, gua sih nggak keberatan juga, tapi salut untuk yang mengaku ada konflik dengan warung sebelah.

Bahasa (Inggris, Matematika, C++, Indonesia, Indonesia gaya ABG maupun bahasa ngaco kayak http://politikana…iriman-teman) semuanya adalah memiliki fungsi komunikasi dan pemrosesan informasi
14 Maret 2010 18:58:00
TTTH  @Wonggantenk: ["Bacalah"]

Ho'oh... btw membaca di situ maksudnya berbeda dengan melafalkah? :D
14 Maret 2010 19:49:00
Wonggantenk  @TTTH: intergrated bro, speech, write, and understand
14 Maret 2010 19:51:00
Wonggantenk Namun, yang unik, Al Qur'an diturunkan kepada Nabi yang sama sekali tidak pandai membaca, hanya pandai berhitung tanpa simbol tertulis, sebagai penggembala dan pedagang.
14 Maret 2010 19:54:00
botaksakti menurut hemat saya, pendidikan di negeri ini jadi tidak karuan karena penenu kebijakannya "maruk" ingin ambil sana- ambil sini, mereka lupa kalau kita punya "kepribadian"........
14 Maret 2010 20:56:00
pall [ Matematika bukan ilmu, matematika adalah bahasa ]

Matematika sepenuhnya rasionalisme. Sementara bahasa arbriter. Bagaimana mungkin anda menggambarkan keduanya sebagai sama?
16 Maret 2010 22:36:00
Wonggantenk  @pall:

Untuk buku berbahasa Indonesia, kalau nggak salah (udah lama banget nggak baca ini) ada buku "Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer" karya Jujun Suriamiharja dari IPB. Bisa juga baca buku buku Filsafat ilmu lainnya. Untuk referensi internet mungkin akan saya carikan, Insya Allah sebentar lagi, saya google dulu yah

By the way, anda akan menemukan banyak 'kejanggalan" yang sebenarnya tidak janggal kalau anda lebih lanjut menelaah filsafat ilmu, seperti mengapa Teknik Lingkungan mayoritas digolongkan sebagai bagian Teknik Sipil di sebagian besar kampus kampus dunia (populer dengan Civil and Environmental Engineering), padahal dari kontennya lebih mirip Teknik Kimia dan Ilmu Kesehatan. Hal ini karena penggolongan akademik masih mengacu ke filsafat dasar ilmu itu sendiri (termasuk pecahannya). Secara filsafat ilmu, teknik sipil, teknik lingkungan, teknik pengairan, bahkan rekayasa ekologi semuanya berfilsafat sama, yaitu bagaimana membangun lingkungan binaan yang aman dan nyaman bagi manusia, berbeda jauh dengan filsafat teknik kimia misalnya.



16 Maret 2010 23:02:00
Wonggantenk Kalau tulisan saya di atas, itu hanya berdasarkan pemahaman filsafat ilmu klasik yang mungkin sudah umum diketahui banyak mahasiswa, jadi tidak ada yang istimewa. Sebagai pembanding ada link sbb:

http://descmath.com/desc/language.html
http://www.cut-the-knot.org/language/MathIsLanguage.shtml
http://www.cut-the-knot.org/language/index.shtml

Wah, ternyata ada tulisan pakar Robert K. Logan, worth reading. Bahkan, doski mendefinisikan bahasa ada 6, bukan hanya matematika dan bahasa sehari hari seperti yang selama ini saya pahami.

http://www.utoronto.ca/mcluhan/ExtendedMindModelOriginLangCult.pdf

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:oHLIbkrwGIwJ:www.physics.utoronto.ca/undergraduate/courses/first-year/sci199y-logan/logan-books/the-sixth-language.pdf+sixth+language&hl=nl&gl=nl&pid=bl&srcid=ADGEESisP3LwixuA108rd8jS9XA5XegscxQFVpTa7KXm8xGY3yzlfw5HXTvdFE7n4I2vdm3wtJUpPWR2IBtAIeMU2XboSWDjodh_DWzE-vM9ttLJ1cVygDv6UV2Ku3KaSVj3WqwCQVqu&sig=AHIEtbRIHvhUYuNRyrxtCVTMTX61vZAdvQ

Logan mendefinisikan bahasa = komunikasi + informasi, jadi secara definisi kontemporer versi Logan pun, matematika = bahasa, bukan hanya secara bahasan filsafat klasik yang kita terima di kampus kampus. Selain itu, secara cerdas Logan menyimpulkan, mind (akal/pemikiran) = otak (mind) + bahasa.

Logan juga banyak menulis buku tentang bahasa. Mungkin bisa ditelusuri pdf-nya.

16 Maret 2010 23:35:00
Wonggantenk typo: Logan menyimpulkan bahwa pikiran (mind) = otak (brain) + bahasa (language)
16 Maret 2010 23:37:00
Subroto Dan menurut saya, pelajaran wajib sebaiknya pun hanya 3 dari SD sampai SMA, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

--------------

Mengapa harus bahasa inggris? Arab kan juga wajib la gurful hasyitonah
17 Maret 2010 01:05:00
Wonggantenk  @Subroto: Tiga aja dulu bos, kalau Arab bisa belajar di tempat mengaji. Selain Arab, bahasa Mandarin juga penting, mengingat posisi ekonomi China saat ini
17 Maret 2010 01:07:00
Subroto  @Wonggantenk: Sorry typo, maksudnya bahasa syaitan
17 Maret 2010 01:09:00
conscientizacao Ini komentar saya:

(1) http://politikana.com/baca/2010/01/02/literasi-setengah-hati

(2) http://politikana.com/baca/2009/11/26/menyoal-aspek-teknis-ujian-nasional

(3) http://politikana.com/baca/2009/11/25/ujian-nasional-harus-dibatalkan

(4) http://politikana.com/baca/2009/12/02/berkas-gugatan-un
17 Maret 2010 11:32:00
conscientizacao "Saya MENDENGAR dan saya lupa. Saya MELIHAT dan saya ingat. Saya LAKUKAN dan saya paham."

Confucius (551-479 SM), filsuf dan guru asal China "
17 Maret 2010 11:42:00
Wonggantenk  @conscientizacao:
Sudut pandang kita kan berbeda mas, dan saya juga bukan orang pendidikan, jadi hanya memandang dari segi filsafatnya saja.

Mengenai media literasi, penjelasan Robert K. Logan (dalam buku The Sixth Language) menurut saya sangat bagus, dan media literasi termasuk dari 6 jenis kompetensi bahasa yang harus dikuasai di zaman ini.
17 Maret 2010 11:43:00
Wonggantenk  @conscientizacao: Setuju dengan petuah Confusius itu mas, mungkin akan lebih lengkap lagi dengan hadis mengenai doa populer Nabi Muhammad mengenai agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat (dalam arti jangan sampai menuntut ilmu yang tidak ada manfaatnya)
17 Maret 2010 11:46:00
Cicak Bin kadal  @Wonggantenk: apa ada ilmu yg tidak ada manfaatnya ??...saya selama ini meyakini semua ilmu itu ada manfaatnya !!..mohon pencerahannya ??...
17 Maret 2010 11:48:00
Wonggantenk  @Cicak Bin kadal: The curse of knowledge. Hal ini umum. Ada beberapa jenis:
1. Kita tahu dan kita melupakan atau mengacuhkan
2. Kita tahu dan kita tidak melaksanakan/memanfaatkan
3. Kita tahu dan kita tidak memberi tahu

No 1 dan 2 adalah kesia-siaan, dan kemubaziran/kesia-siaan tidak baik.

Untuk yang no 3, dalam hadis Nabi Muhammad kepada Muadz bin Jabal, kategorinya dosa yang sangat berat, karena hak kemanusiaan untuk mendapat sebaran ilmu yang bermanfaat bagi manusia. Dalam Islam, dosa menyimpan ilmu

17 Maret 2010 11:55:00
Cicak Bin kadal  @Wonggantenk: jadi bukan ilmu nya yg tidak ada manfaat itu !!..tapi apakah ilmu itu berguna tidak bagi dirinya dan orang lain...begitu yg saya tangkap dari jawaban anda , betulkah ???...
17 Maret 2010 12:00:00
Wonggantenk  @Cicak Bin kadal: Ya, benar. Minimal berguna bagi diri kita sendiri dulu. Jangan menuntut ilmu yang tidak kita pakai
17 Maret 2010 12:01:00
hamatamu @prajnamu, gak ada rating telat ya? makanya klik rating basi :P
17 Maret 2010 12:04:00
Cicak Bin kadal  @Wonggantenk: ya pilih pilih lah .mana ilmu yg bisa kita gunakan mana yg tidak ..tentunya ilmu yg di anggap oleh kita tidak bermanfaat bisa jadi bermanfaat bagi orang lain, bahkan bermanfaat bagi alam semesta ini dan efek nya ke kita juga :D ....kalo menuntut semua ilmu ,,waduuuh gak sanggup lah ..ilmu itu luuaaaas gak terbatas...thx pencerahan nya.
17 Maret 2010 12:06:00
conscientizacao  @hamatamu: :P

@Wonggantenk: Saya tidak menganggap basi soal filsafatnya, tetapi soal UN/UAN. Kalau UN masih dengan paradigma-nya yang sekarang, maka saya tetap menolak. :D

Mengukur/mengevaluasi itu penting, tapi harus konsisten dengan programnya. Tidak mungkin mengevaluasi dengan cara yang bertolak belakang dengan paradigma kurikulumnya sendiri.
17 Maret 2010 12:08:00
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »