kampretable Masalahnya sangat jelas, jaminan pasokan energi. Green energy masih perlu waktu yang tidak menentu untuk bisa sampai ke level produksi yg memenuhi kebutuhan seluruh dunia. Disaat kebutuhan sumber energi ini masih harus dipenuhi oleh sumber energi fosil, China dan beberapa negara lain, sudah muncul menjadi konsumen energi yang semakin bersaing dalam tingkat permintaannya. Akibatnya, negara2 yang punya potensi jadi penghasil sumber energi fosil dan green energy jadi arena rebutan yang semakin panas (baik lewat jalur ekonomi - investasi dan belanja langsung, jalur intelejen - membina pion di berbagai level masyarakat, atau jalur meriam - biarpun kerepotan dan disoraki banyak pihak akibat kehadirannya Irak tapi AS berhasil menjamin kepentingan minyaknya di negeri ini).
Kita juga jadi ajang rebutan AS dengan negara2 lain karena potensi energi fosil kita (minyak bumi, gas dan batu bara), potensi green energy kita (sangat cocok untuk tanaman2 penghasil minyak), potensi kekayaan alam lainnya, potensi jumlah penduduk sebagai calon konsumen berbagai macam produk serta letak geografis kita. Jadi, sudah pasti banyak negara (terutama AS) melancarkan operasi intelejen di Indonesia.
AS dan negara2 lainnya belum memakai meriam di Indonesia karena bangsa kita memang tergolong unik. Kalau diserbu langsung justru jadi kompak dan alot untuk dihadapi. Bangsa manapun yang berniat menguasai kita secara militer harus menghitung dengan cermat potensi munculnya kekompakan kita disaat negara menghadapi kegentingan.
Tapi kita juga GAMPANG dibikin busuk dari dalam. Angka indeks korupsi kita sudah di atas SEMBILAN (horeeee!). Dan tingkat korupsi ini membuat kita rawan terhadap berbagai macam operasi intelejen dari berbagai negara (bukan hanya dari AS saja).
11 Maret 2010 19:45:00