7 Komentar Tulisan

Butir-butir • penulis: kakilangit, 26 Februari 2010 15:01:47 • Bagus +3

Sisa-sisa kejayaan masa lalu

Menampilkan 1 - 7 dari 7 komentar.
Apprayo Yang 45 butir ya? Dulu saya hapal yang 36 butir, karena waktu itu harus hapal.
26 Februari 2010 15:04:00
ipool menarik, meski saya agak sangsi dengan urut-urutannya (sila ke 4 dan ke 5) ;))

http://politikana.com/baca/2010/02/21/pancasila-pro-kesejahteraan-hmm
26 Februari 2010 15:58:00
Mr Blues jadi maksud penulis apa dengan memaparkan detail butir2 pancasila tersebut.
ada tugas menghapal niy.. he..he.. jadi ingat masa sekolah dulu... trus kpn kita maju hapalannya.. ha..ha..

26 Februari 2010 16:24:00
pall [ Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa ]

Ada sebuah artikel semasa Orba yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan 'manusia Indonesia' di dalam GBHN.

Di kitab haluan negara jaman orba itu hanya disebutkan bahwa manusia Indonesia semestinya punya karakter lahir batin yang bisa 'selaras, serasi, dan seimbang'.

Sangat tidak operasional. Dan lucu sebenarnya.

Tapi bagaimana dengan sekarang, apakah ada lagi yang pernah bicara tentang bagaimana berproses menjadi manusia Indonesia yang ideal?

Sama sekali tidak ada.
26 Februari 2010 17:57:00
Mr Blues memang pall ini contoh manusia yg ideal..
yg tak selaras,tak serasi dan tak seimbang..
oh kebalik ya.. he..he..
26 Februari 2010 18:00:00
pall Oya, itu sebuah buku kumpulan artikel yang saya temukan di sebuah toko buku usang di dekat Slamet Riyadi Solo.

Sebab semasa Orba pertukaran informasi amat ketat, anda akan mendapati sangat menarik bagaimana artikel semasa itu mencoba mengkritik sekaligus tak mengkritik.

Sebuah artikel harus dibaca berulang-ulang untuk menangkap apa pesan tersembunyi di baliknya.

Bandingkan sekarang. Orang-orang seperti @fadjroel rachman bisa sesuka hati teriak ini itu tanpa tedeng aling-aling, tapi gak ada isinya sama sekali.
26 Februari 2010 18:01:00
kakilangit  @Mr Blues: cuma ngasih spoiler, biar seru
26 Februari 2010 21:19:00
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »