3 Komentar Tulisan

Batalkan dan Tolak RPM Konten Sekarang juga • penulis: rachmad yuliadi nasir, 17 Februari 2010 20:20:23 • Menarik +0

Komisi I DPR-RI, Ramadhan Pohan mengatakan, “Agar Menkominfo Tifatul Sembiring untuk mengeluarkan peraturan-peraturan kontroversial yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

Menampilkan 1 - 3 dari 3 komentar.
The 7 Kita para neter kan dah cukup mengemukakan keberatan dengan alasannya, yang mana itu mestinya dipahami dalam kerangka pemikiran demokratis, bahwa mereka/pemerintah perlu mendengar masukan pemikiran rakyat , karena mestinya kan memang gitu sesuai nilai2 yang ada di Indonesia bahwa kebijakan publik mesti dimusyawarahkan.

Tapi kita lihat aja nanti apakah pemerintah tidak menggubris pemikiran kita, jika memang begitu kita bisa anggap nggak fair dan otoriter .

Kita juga bisa tunjukan kok, bahwa kita untuk urusan internet ,bisa berdiri independent dan tidak bisa diatur pemerintah , lihat saja nanti. mau ISP ditutup pun nggak masalah kalau emang pemerintah mau gitu, silahkan , kita lihat aja nanti.
17 Februari 2010 21:12:00
Rinaldiwati Tak ada yang perlu diatur pemerintah mengenai konten internet. Yang lebih tepat dilakukan adalah melakukan “self control”, baik pada para pengguna maupun penyelenggara. Masyarakat sudah cerdas, sudah bisa membedakan mana yang harus dikonsumsi dan mana yang tidak.

Sebuah mailinglist sebagai contoh, sudah ada moderator. Tak perlulah jauh-jauh konten porno, subversif, atau pelecehan agama, topik yang OOT pun bisa ditertibkan oleh moderator. Kalau member ybs tetap “ndableg”, bisa dipecat keanggotaannya. Paling minim, member tersebut akan diacuhkan oleh member yang lain yang masih ‘waras’. Ada semacam sanksi moral di sini.

Kalaupun sebagian besar member milis “ndablek”, termasuk moderatornya, sehingga berbagai postingan di milis tersebut tidak mutu, maka otomatis, member yang masih waras akan mengundurkan diri dan mencari mailinglist baru, yang waras dan serius. Sederhana saja sebenarnya.

Dalam kebebasan yang ada di internet semacam itu, ada semacam “seleksi alam”. Setiap orang berkumpul di komunitasnya. Yang hobi caci maki dan debat kusir, akan berkumpul dengan sebangsanya. Silahkan tumpahkan hasrat mencaci maki sampai puas, nanti toh bosan sendiri. Kalau sudah bosan, pasti dia akan merubah cara berpikirnya. Di sini ada semacam “edukasi alamiah”.

Hal ini bisa terjadi di forum manapun, entah itu Facebook atau situs diskusi online macam Kaskus. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dengan kebebasan yang demikian, masyarakat jadi dewasa dan memahami bagaimana pluralnya manusia.

18 Februari 2010 00:23:00
Subroto Ini cermin user inet Indo yg belum dewasa, atau pemerintahnya yang sulit dewasa :D
18 Februari 2010 00:59:00
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »