Tidak jarang apa yang disebut rasional sebenarnya hanyalah irasional, atau yang irasional justru rasional, persis syair Majnun dalam menjawab Khalifah.
Tidak jarang apa yang disebut rasional sebenarnya hanyalah irasional, atau yang irasional justru rasional, persis syair Majnun dalam menjawab Khalifah.
The 7 Perintah pertama adalah disuruh membaca, bukan menelan.
Alhuda IQ gua jongkok,... tapi artikelnya menarik...
Harlan Eryandi @Alhuda: pencorot.:)) bisa terbantu dgn EQ & SQ.
iloenx Begitu juga kita dalam keyakinan, tunjukkan bahwa kita mampu menunjukkan rasionalitas kebenarakeyakinan yang kita yakini itu. Jika tidak, kita tidak jauh beda dengan Majnun. Ada dua kemungkinan, taklif buta dan nafsu!.
Lailatul 'Ursy @yusro: Untuk orang majnun artikel ini pasti tidak menarik
Lailatul 'Ursy ada istilah Arab yang sangat masyhur,
Lailatul 'Ursy @Nazil: he'e .. pas gua ada waktu yang lain pada rekreasi... gua sendirian sepertinya.. :))
anti-fenomena Laela majenun versi yang ini baru tau gw, setau gw kisahnya cuma salah satu cara sufi untuk mengajarkan jalan cinta.
pall [tunjukkan bahwa kita mampu menunjukkan rasionalitas kebenarakeyakinan yang kita yakini itu]
NOS Dalam khazanah sufisme, kisah Laila Majnun digunakan sebagai metafora kesetiaan total seorang sufi kepada Yang Maha Indah.
Black Horse @pall: Yach..... setiap yang rasional pasti benar. Hanya saja kadang dan kerap kali kenapa yang rasional menjadi tidak rasional karena 1. adanya kesalahn dalam memahami kaedah berfikir yaitu dalam menyusun premis2nya. 2 kaedah yang dipake benar, tapi bahan atau materi yang dipake tidak benar.
Black Horse @anti-fenomena: @NOS: ada perbedaan antara cinta buta dengan cinta sejati. seorang Arif (irfan/bukan sufi) memahami cinta dengan muqaddimah/tahapan2 yang disertai dengan pengetahuan ilmu akal (logika) dan falsafah dasar agama dan fiqih. Nah dari sini mereka memulai perjalanan cintanya (syeir suluk) dengan bimbingan seorang mursyid. Sementara dalam Sufi tahapan-tahan seperti ini tidak ada, mereka hanya memperbanyak ritual-ritual keagamaan tanpa didasari ilmu terhadapnya, dengan harapan banyaknya ritual menambah makrifat
Black Horse @iloenx: (maaf yang saya maksud adalah taqlid buta dalam akidah dan kepercayaan) ini yang tidak bisa diterima akal sekaligus syariat
Black Horse @pall: kalau kita sepakat bahwa kebenaran adalah sesuatu yang nyata dan jelas (berkorespondensi) maka, hanya dengan rasionalitas yang bisa menghubungkan fenomena akal (mental) dengan kenyataan (realitas) kecuali adanya dikotomi di tengahnya. jadi saat manusia menggunakan akalnya, yaitu menyusun fenomena akal (mental) untuk mendapatkan ketetapan yang riil. dan inilah realitas, tanpa ini manusia tidak akan mengenal kebenaran atau kita mau sepakati tidak ada kebenaran sama sekali (tidak ada nilai benar) sebagai mana tidak nilai salah, dan ini mustahil
Black Horse @Lailatul 'Ursy: "ada istilah Arab yang sangat masyhur,
Black Horse @Alhuda: makasih pak huda..... emang gw majnun kali, hehehhe
Black Horse @Wonggantenk: Cak..... permasalahnnya ini bukan cap dan stempel mazhab-mazhab. Ini sama sekali tidak bersangkutan dengan faham-faham mazhab. Ini permasalahan mengetahu kebenaran cak...... sebagaimana Sampeyan berkeyakinan atas kebenaran agama yang saat ini sampeyan yakini kebenenarannya. apakah keyakinan terhadap kebenaran agama yang sampeyan miliki itu di dasari dogma ataukah rasionalitas..?
hamatamu @olas, untuk mengetahui itu bung, sesekali harus di'gegar'kan, agar iman tumbuh jadi dewasa ;)
Black Horse @Wonggantenk: bagus......:)
pall @Black Horse: [realitas, tanpa ini manusia tidak akan mengenal kebenaran atau kita mau sepakati tidak ada kebenaran sama sekali]