56 Komentar Tulisan

Ujian Nasional dan Menteri Baru; Mengecewakan • penulis: umbaran, 14 November 2009 03:43:50 • Penting +10

Banyak pakar pendidikan telah menyampaikan argumennya tentang UN. Anda tentu sanggup merangkumnya dan mengambil sikap secara benar dan cerdas

Menampilkan 1 - 30 dari 56 komentar.
mbeling UN = proyek nasional, kesempatan mengeruk untung besar..sayang dilepaskan begitu saja.

*)sori pakde, pagi2 dah lempar batu ....
14 November 2009 04:59:05
umbaran  @mbeling: UN=proyek, jika memang itu pangkal persoalannya, maka tidak akan pernah ada kemajuan dalam dunia pendidikan kita

karena ukuran berhasi atau tidak adalah seberapa besar nilai proyek yang didapat, itu saja


14 November 2009 06:20:05
umbaran  @ndableg: lama nggak kelihatan, sekolah lagi ya ?
14 November 2009 06:20:59
5150 semakin banyak yang tidak lulus, maka semakin besarlah dana yang dia dapat dari ujian perbaikan

*kata seorang pegawai diknas di sebuah warung"
14 November 2009 07:17:17
ndableg  @umbaran: abis sakit om
14 November 2009 07:51:30
ndableg  @umbaran: tq atas perhatiannya..
14 November 2009 07:52:20
umbaran  @ndableg: walah kok ya nggak ngabari to, kalau tau kan bisa tilik, nggak bisa tilik ya kirim jeruk, nggak bisa jeruk ya duren, nggak bisa duren ya salak gitu lho
14 November 2009 07:58:08
ndableg  @umbaran: ngabarin piye, lha wong bisanya cuman tergolek lemas di atas dipan reyot

kirim sekarang juga boleh, mumpung napsu makan dah balik normal :D
14 November 2009 08:02:42
Apprayo Kemarin baca di koran, keputusan memajukan UN ditandatangani oleh menteri sebelumnya, seminggu sebelum masa jabatannya berakhir.
14 November 2009 08:06:02
Nazil  @umbaran: ada program UN diulang pak... ini masih menjadi perdebatan.

Eh, tentang UN betul kami menolak. Alasannya jelas diskriminasi anak. Pernah kami sampaikan ke KPAI melalui organisasi, tapi pemerintah ogah-ogahan, ngotot-ototan, dasar!!

Eh tapi kami yakin anak-anak pintar dan cerdas meskipun tidak lulus UN.
14 November 2009 08:06:28
umbaran  @ndableg: nih tempatku sdg musim duren 10 ribu dpt 4 biji
http://lenguhansapi.files.wordpress.com/2008/10/duren.jpg
14 November 2009 08:16:19
mommyshafa Saya kok agak mendukung UN ya..maksudnya seorang anak memang harus punya standar minimal kelimuan yang dimiliki ketika lulus satu jenjang pendidikan. Tapi mungkin teknisnya yang perlu diperbaiki kali ya, agar tidak merepotkan. Karena sy sendiri ga mengalami UN jadi ga tahu seluk beluknya sih..maaf...
14 November 2009 08:19:03
umbaran  @Apprayo: menteri yg lama memang semprul, sudah mau diganti saja masih rese !!

@Nazil: UN ulang, akhirnya hanya untuk cuci gudang, kayak tahun 2005.
14 November 2009 08:21:50
Nazil  @umbaran: sepertinya pemerintah terlanjur berambisi ama malaysia tentang standar UN pak, jadi konsekuensi standar UN tidak mungkin turun, kalau kemarin 5,25 ya besuk 5,50 atau 6.00 sama kayak malaysia. Gak mungkin kembali jadi 4.00
kayak dulu.. Nah pa gak kasihan ama anak-anak.. diperas... setelah itu.. (silahkan ditanggapi dulu)
14 November 2009 08:26:21
umbaran  @Nazil: standar kelulusan dipatok berapa saja boleh, asal ...standar yang lain juga dipenuhi, ambil contoh tenaga pendidik saja, seperti pertanyaan saya di atas, gimana kalau nilai rata2 guru cuma 5, logiskah kita menuntut siswanya harus mencapai 5,5
kebijakan anti logika bukan ?
14 November 2009 08:38:39
Nazil  @umbaran: sebentar mas, sepertinya standar kelulusan guru ama siswa kan lain masalah.. (sertifikasi vs UN).. kedua-duanya juga masih menjadi perseturuan..
14 November 2009 08:46:19
Nazil  @umbaran: saya ingin melihat pada masalah UN. Misalkan ada input siswa dari sekolah A yang tergolong rendah segala-galanya, masuk ke sekolah lanjutan B. Ketika UN harus bertarung mati-matian untuk mendapatkan standar yang sama dengan siswa yang lain yang mungkin lebih kemampuan dari dirinya. Sebenarnya jika bisa mbok yang dipake adalah standar kemampuan saja. Lo dulu di sekolah A ia tidak bisa menulis 5 halaman artikel, ketika di sekolah B ia bisa, ya di luluskan. gitu maksud saya.. sederhana bukan, dari pada efeknya... (silahkan ditanggapi)
14 November 2009 08:51:24
Apprayo Ribut2 soal UN, jadi kepikiran, sejauh mana korelasi hasil UN terhadap kesuksesan seseorang (perlu didefinisikan dulu apakah kesuksesan itu sih..).
14 November 2009 08:58:51
umbaran  @Nazil: sorry aku rapat dulu
14 November 2009 09:10:18
Nazil  @Apprayo: Sesempit pikiran saya mas, UN dan Kesuksesan ada korelasinya. Sederhananya begini, jika ingin cepat kerja atau kuliah maka ia harus segera lulus sekolah. Nah yang menjadi permasalahan adalah (jika mau kita kaitkan dengan UN) banyak anak-anak yang tertunda lulus/sukses hanya gara-gara beberapa nilai pelajaran saja, (Matematika, bhs Indo, Bhs Inggris). Akhirnya pilihannya hanya dua, mengulang atau menganggur berstatus tamatan SMP/SD. Ya sudahlah..
14 November 2009 09:10:57
Nazil  @umbaran: siip pak..
14 November 2009 09:12:12
glagahputih jadi inget kuis pinter pinteran dengan anak kelas lima...
apa ya anak itu mesti dibuat overload pengetahuannya
sehingga meluber kemana mana
sampai sampai hanya sedikit yang tersisa ketika dia dewasa
14 November 2009 09:38:09
Nazil  @glagahputih: cerdas!!
14 November 2009 09:48:25
Apprayo  @Nazil:
"Sederhananya begini, jika ingin cepat kerja atau kuliah maka ia harus segera lulus sekolah"

Mungkin pertanyaan saya yang kurang tepat. Yang saya ingin tahu adalah, apakah tinggi rendahnya nilai hasil UN berkorelasi pada kesuksesan seseorang?

Maksudnya gini, dari antara semua anak yang lulus UN, apakah yang nilainya tinggi memiliki kecenderungan lebih sukses ketimbang yang lain? Dari pengalaman dan pengamatan saya pada teman2 saya, tidak ada korelasi. Yang mungkin ada korelasinya adalah, kreativitas seorang anak dalam menghadapi segala masalah di lingkungannya (entah di sekolah atau di rumah) itu berkorelasi dengan kesuksesannya di masa depan. Dan anak yang kreatif tidak mesti lulus dengan nilai2 yang terbaik, atau bahkan dengan nilai yang baik. Dengan kata lain, anak yang memiliki life skill yang baik, cenderung untuk berhasil.

Jika korelasinya semata dikaitkan hanya dengan bila lulus tidak, itu tidak mengukur apapun. Bisa dianalogikan begini, ujian SIM sangat berkorelasi dengan kemampuan seseorang dalam mengemudi nantinya. Kenapa? Ya karena kalo tidak lulus ujian SIM, mana bisa ia mengemudi? :)
14 November 2009 10:14:12
yusro Jadi inget, komentar @Ning: di sebelah. Keledai tidak akan terperosok pada lubang yang sama :)
14 November 2009 10:17:25
Smart Adanya halusinasi sistem UN membuat bangsa ini terlena. Sebab secara dunia sumber daya manusia kita masih dibawah. Lebih baik UN ini bersifat regional dan diserahkan kepada sekolah masing-masing.
14 November 2009 10:20:34
hamatamu  @yusro: wah bukan keledai ya? lantas, kalau akhirnya terperosok di lubang yang sama, apa namanya mas? :D

14 November 2009 10:29:44
Ning [..Mulailah kesibukan di kelas-kelas akhir..]
Bukan hanya murid, ternyata gurupun mungkin sudah tidak mampu mengatur waktunya.

Coba perhatikan mimik wajah anak ketika pulang sekolah ternyata PR yang dikerjakannya tadi malam tidak diperiksa oleh gurunya, betapa kecewanya dia dan semangatnyapun mengendor...
14 November 2009 10:39:19
kurit  @Apprayo: makanya kita hanya dihargai karena selembar kertas yg namanya ijazah. apakah itu menjadi jaminan sebuah kualitas? pendapat saya tidak, tetapi itulah yg dilihat dr sebuah institusi. dilihat dari segi formal. begitu keluar (lulus) dari institusi (pendidikan formal), cap formal itulah yg diminta.

setelah lulus sma, saya melamar ke universitas negeri terkemuka di indonesia. setelah tes masuk, saya diterima. sewaktu daftar ulang tetap saja diminta memperlihatkan ijazah sma. bukankah (dengan lulus tes masuk universitas) universitas tersebut sudah mengakui kemampuan saya? tp tetap saja cap formal itulah yg diminta
14 November 2009 10:54:34
Apprayo  @kurit:
Itu yang dulu saya singgung di http://tinyurl.com/ycfde5g :)
14 November 2009 11:03:48
 1 2 > 
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »