17 Komentar Tulisan

[copas] Kalla: Peristiwa Mei 1998 Bukan Soal Rasis • penulis: Chairman Mao, 05 Juli 2009 02:59:26 • Lucu +5

Open debate for all

Menampilkan 1 - 17 dari 17 komentar.
heriyadi Hmmm ngga ada yang salah. Peristiwa Mei itu memang terjadi karena tekanan ekonomi yang sangat berat.

IMHO, kalo lalu ada satu golongan ras yang menjadi korban lebih banyak harus diakui, tapi memang masalah utamanya bukan karena rasis, tapi karena masalah ekonomi, yang karena golongan tersebut menguasai sebagian besar ekonomi sehingga menjadi sasaran. Soal banyaknya masyarakat kecil yang mati terbakar juga benar, silahkan tanya orang2 yang berada disekitar daerah Tangerang pada masa itu.
05 Juli 2009 06:01:46
kalangwan Heriyadi:

Saya kira JK terlampau menyederhanakan soal dengan hanya "menyalahkan" persoalan ekonomi.

Sentimen rasialis itu nyata-nyata ada dalam kasus '98. Bukan hanya dalam soal pembakaran dan pembumihangusan properti milih warga keturunan Tionghoa, tapi juga pada "medan kesadaran kolektif" yang muncul saat itu.

Dengan cara pandang itulah kita bisa mengerti kenapa banyak sekali grafiti atau tulisan "WNI Asli", "Pemilik Toko Ini Islam Tulen" dan yang mirip2 dg itu sudah cukup menunjukkan sentimen rasialis itu ada. Dengan cara pandang melulu menyalahkan persoalan ekonomi, grafiti dan coretan2 itu sukar bisa dipahami kenapa bisa muncul.

Adalah faktual --bahkan hingga sekarang-- saat itu masih sangat kuat beredar stereotipe tentang warga keturunan Tionghoa sebagai "pelit", "tidak mau bergaul", "eksklusif", dll. Krisis ekonomi yang mencekik dan aksi intelijen bertemu dengan sentimen rasialis yang terpendam lama: semuanya seperti botol ketemu tutupnya, penaka api bersua bensin.

Jika JK paham sejarah Indonesia, ia juga tahu bahwa persoalan dan kesenjangan ekonomi, termasuk keunggulan warga etnis Tionghoa dalam berniaga yang mana toko2nya kelak banyak dibakar, itu juga adalah akibat panjang dari kebijakan rasialis pemerintah kolonial yang menerapkan segregasi masyarakat; yang sialnya masih juga diadopsi oleh pemerintah Indonesa pra-reformasi.

Untuk sesuatu yang kasat mata macam itu JK menyederhanakan soal, sementara untuk kasus pernyataan Mallarangeng JK tampaknya paham benar situasi dan perkaranya.

"Kita" memang pendek ingatan :D
05 Juli 2009 06:22:09
heriyadi  @kalangwan: Yap sentimen itu ada dimasyarakat.

Saya pertama kali pindah dari ke kota kecil ke salah satu ibukota provinsi saat masuk SMA sempat kaget melihat sentimen ini sesuatu yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Tapi sentimen ini memang dikarenakan kecemburuan sosial ekonomi yang kesenjangannya sangat terlihat, walau kalo mau jujur sebenarnya banyak juga golongan tersebut yang kehidupan ekonominya biasa-biasa saja dan bahkan kurang.

Jadi kalo mau menghilangkan ini menurut saya sih, beri kesempatan golongan ini untuk berkiprah disemua bidang termasuk pemerintahan, tentara, polisi, pegawai negeri.

Pembauran seperti ini akan lebih membuka mata bahwa bukan golongan yang menjadi masalah, lebih kepada pribadi orang per orang.

Soal JK saya juga sudah pernah mengkritiknya.
Silahkan lihat tulisan saya:
http://politikana.com/baca/2009/05/04/visi-dan-misi-jk-win-masih-perlukah-membedakan-pri-nonpri
05 Juli 2009 07:37:16
Chairman Mao  @heriyadi: Sentimen di kalangan masyarakat memang sangat nyata.. tapi seorang pemimpin negara ini tidak seharusnya memberi alasan seolah wajar saja hal tersebut terjadi, nobody to blame but yourself. dalam wawancaranya di MetroTV kemarin komentar beliau: ''Kalau pun ditambah 100 batalion tentara yang menjaga, kerusuhan pasti juga terjadi karena rakyat marah dan lapar''. kecemburuan kerena kesenjangan sosial dan buah dari kecemburuan tersebut harusnya direnungkan, kenapa? mayoritas etnis Tionghoa yang sukses hari ini dulunya juga mulai dari bawah, jadi supir, jadi sales,.. bos saya pinjem garasi orang di pinggir jalan. kenapa bisa sukes? harus dikaji dari keuletan, hidup berhemat dan semangat kerja mereka.. bukan dari warna kulit!

pembauran seperti yang anda bilang memang betul adalah solusi yang tepat.. namun yang saya ingin diskusikan bukanlah itu, melainkan statement JK yang tidak bijak: bukannya mengarahkan ke yang benar malah meng-konfirmasikan prilaku jahanam tsb.

yang paling kocak beliau membandingkan korban jarahan dengan korban yang mati karena menjarah.. WTF..
05 Juli 2009 10:24:45
hamatamu  @Chairman Mao: 'tapi seorang pemimpin negara ini tidak seharusnya memberi alasan seolah wajar saja hal tersebut terjadi' setuju
05 Juli 2009 10:33:12
jC saya sempat keberatan juga dengan jawaban JK ini, tapi yang dia katakan bukan semata-mata bukti ketidak-pedulian, atau ketidak-berpihakan. Dia cukup menekankan bahwa memang kejadian itu menyakitkan. Tapi perlu kita akui ada kebenaran yang ia sampaikan.

pendekatan ini saya pikir mirip dengan pendekatannya terhadap konflik poso, ambon bahkan aceh. Kesejahteraan ditingkatkan, kesenjangan ditiadakan.. masalah selesai.

Bagi kami kaum tionghoa di Makassar, kerusuhan seperti Mei 98 itu bukan cuma sekali, tetapi sudah beberapa kali. Dan harus diakui kaum tionghoa memang selalu berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial. Jangankan berbaur semeja, masuk sekolah negeri aja semua pada takut... :P
05 Juli 2009 14:31:40
kalangwan All:

Ada kata-kata menarik dari Hannah Arendt, penulis trilogi "Asal-usul Totalitarianisme". Kekasih Martin Heidegger itu sempat mengucapkan bahwa cara terbaik untuk belajar membuang rasisme adalah dengan mengakui secara terbuka bahwa potensi rasisme memang ada, dan bukan malah ditutup-tutupi.

Salah satu cara paling mudah dari menekan potensi rasis adalah dengan mempertipis kesenjangan ekonomi. Tapi adalah salah besar berharap kesenjangan ekonomi bisa mengenyahkan rasisme.

Rasisme adalah soal yang jauh lebih dalam dan mengakar ketimbang soal kesenjangan ekonomi. Kebencian terharap Yahudi, misalnya, disusun berdasar banyak lapisan, dari mulai soal teologi hingga ekonomi.

Peringatan Walter Lang, sutradara Amerika di di era 1920-an, menarik untuk disimak. Katanya, "Any concept of one person being superior to another can lead to racism."

Berlebihan mungkin, tapi tak ada salahnya kita menyimak itu dengan hati bening :)
05 Juli 2009 16:04:58
Leksa  @Politikus karbitan Zen,..

aku dari dulu juga setuju dengan pernyataan JK diatas,.. asal musalah kerusuhan ini dimulai dari konstelasi politik dan sosial yang mau meleduk saat itu. Istilah nya jaman orde lama "Ibu Pertiwi hamil tua"

dan kemudian konstelasi politik pula (dan para pelaku aka "penyelamat" nya ) yang bermain untuk memanfaatkan momen. Segala isu memang "harus" dihembuskan untuk mengawali perubahan. Entah itu rasisme pada masyarakat Tionghoa, ataupun kelanjutan2 pasca reformasi (termasuk Ambon dan Sampit) ..

Selain pengarahan isu untuk hal rasisme, juga ada pengarahan isu untuk penyelamatan tokoh2 militer dan tokoh2 nasional yang "peluang" eksistensi pasca reformasi nya masih lebih besar daripada Suharto Cs..

dan itu pun kalo Suharto Cs memang ada dalam kiblat tertentu. Bisa jadi sebenarnya tidak ada musuh dalam reformasi?


Itu analisa butut saya ... :D
05 Juli 2009 16:14:27
heriyadi  @Chairman Mao: Yap setuju soal itu juga, makanya ada tulisan saya yang mengkritik hal itu.
05 Juli 2009 16:17:31
Lady Meddy ..."Bahwa ada pelanggaran HAM ya, akan tetapi itu bukan soal rasis, bukan. Akan tetapi, soal krisis ekonomi seperti masalah pengangguran, harga-harga bahan pokok yang tinggi dan beban ekonomi lainnya," tandas Kalla....

*IMHO, yang jadi korban itu Rakyat Kecil - Jelata, entah itu dia Sunda, Jawa, Betawi, Batak, Ambon, Padang, Aceh, Papua, TiongHoa. Arab dst.... jadi kurang tepat juga kalau disebut rasis, sih.
05 Juli 2009 16:23:15
kalangwan Leksa & Med:

1998 saya ada di sudut kecil Cirebon, nama daerahnya Sindanglaut. Dengan seragam SMA dua hari saya "gentayangan" di antara massa yang kalap. Saya mengalami momen dua hari yang membumihanguskan puluhan toko dan rumah warga keturunan Tiongho itu. Sentimen rasial itu nyata-nyata ada, dan sungguh kuat.

Bahwa ada campur tangan kekuatan militer, intelijen, dll., itu juga sangat tepat.

Saya mencoba melihat ini dari perspektif korban. Dalam studi historiografi kontemporer dikenal istilah "rememoration" yang dikenalkan oleh Piere Nora dari Prancis. Inilah pendekatan dalam historiografi yang melihat peristiwa sejarah dari sudut pandang korban. Budiawan, Ph.D yang mengajar di Sadhar, sudah mempraktikkan pendekatan ini saat menlis disertasinya.

Nah, dari pendekatan "rememoration" inilah saya melihat situasi 1998. Hampir semua etnis keturunan Tiongho yang menjadi korban akan menggap bala yang menimpa mereka sebagai sebuah pengalaman rasialis.

Melihat peristiwa dari sudut pandang korban ini penting, apalagi jika si korban juga mencoba memahami sudut pandang orang yang bukan-korban. Kesalingpahaman macam inilah yang menjadi bibit paling bagus untuk rekonsiliasi.

Di posting lain di politikana, Gun sudah dengan bagus mengatakan --kira2-- "ia bosan terus menerus mereproduksi kesan sbg korban". Ini bagus sekali. Saya tahu makin banyak temen2 dari warga keturunan Tionghoa yang mencoba membicarakan situasi mereka tidak lagi sebagai korban yang minta dispesialkan.

Itu langkah bagus, sesuatu yang tidak pernah diambil oleh keturunan Yahudi pasca Genosida Auschwitz. Mereka selalu "merengek2" sebagai korban diskriminasi rasial yang berlangsung selama beradab-abad.

Sikap macam Gun itu, idealnya, disambut dengan sepadan dan mengakui bahwa sentimen rasial itu memang ada pada peristiwa bumihangus toko2 di Glodok, misalnya.

Dari situ, rekonsiliasi akan jauh dengan lebih mudah digelar.

Menurut saya sih begitu, mas ijal dan mbak med....

:D
05 Juli 2009 16:44:26
Leksa  @kalangwan: si gun udah capek mungkin ,.. lagian saya menganggap dia orang dayak, bukan orang cina .. :p

Saya paham apa yg dilontarkan Gun dengan quote-nya itu. Dulu juga ada org serupa dengan Gun dekat saya mencoba memahami kisah rasisme 98 dengan demikian,..

tapi lagi2 hasil tukar pikir kita, "rekonsiliasi lokal" -kalau boleh meminjam istilah Kang Zen, saya dan teman tersebut, membuahkan pemahaman seperti yang saya tulis diatas.

Memang dalam teori ilmu sejarahnya, perunutan masalah (seperti kata Kang Zen) bisa menjadi titik tolak perbaikan hubungan dengan kaum etnis minoritas di bangsa ini (disini Tionghoa, misalnya) ...

Namun dalam sudut pandang saya, "rememoration" tersebut pada awalnya bisa jadi sebagai awal merunut masalah dan cara mencari jalan keluar, tetapi akan lebih tepat "rememoration" untuk kasus bangsa ini tidak terhenti pada contoh kasus. Karena kebanyakan kasus, jalannya berasa dari sebuah skenario besar tersendiri (okelah saya dianggap sebagai penganut teori konspirasi disini).

Kaum minoritas Tionghoa pada saat reformasi jelas adalah korban yang terlihat, tetapi seharusnya dilihat kenapa mereka bisa menjadi titik tumpu perhatian massa mengamuk saat itu dan akhirnya dikorbankan. Seharusnya teori rememoration bisa berjalan sampai kesana kan? Bisa ga kang?

Kondisi2 sosial politik dimasa2 belakang, sebelum reformasi juga sama layaknya terjadi demikian, ada sebuah usaha menciptakan korban, boleh saya bilang tidak bahwa disana juga terjadi usaha serupa seperti 98?

Selain itu ada sebab lain dalam kehidupan berbangsa kita untuk soal rasisme yg sulit saya jelaskan, dan dengan entah dengan cara apa saya menjelaskannya dalam sebuah bahasa teoritis. Begini,...
Selain teman saya tadi dengan kisah perih 98-nya,.. ternyata juga kondisi sama dirasakan kakeknya dimasa lalu, masa pasca kemerdekaan.
Kakeknya dibui, sementara beliau adalah muslim asli -bukan mualaf, juga sekaligus pendukung perang kemerdekaan didaerahnya.



Eweuh nyak,.. lieur urang... :(
05 Juli 2009 17:23:19
Chairman Mao  @Leksa: [aku dari dulu juga setuju dengan pernyataan JK diatas _____]

Suatu saat anda kecopetan lalu anda melaporkan kepada polisi.. kemudian pak.polisi bukan menindak lanjuti laporan anda malah menjelaskan panjang lebar bahwa anda sebenarnya bukan korban copet melainkan akibat dari orang kecil yang hidup susah berkepanjangan.. jadi tolong dimaklumin aja deh yah~ bagaimana perasaan anda?

saya bukan "merengek2" sebagai korban.. tapi hanya butuh pengakuan gentlemen, khususnya kaliber pemimpin negara bahwa Mei 1998 adalah sebuah lembaran tragedi gelap untuk WNI etnis Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Sama seperti warga China meminta pengakuan dari pemerintah Jepang mengenai tragedi Massacre Nanjing.
05 Juli 2009 20:10:21
Leksa  @Chairman Mao: keren lah kalo ada polisi demikian,..
saya mungkin mengucap terima kasih buat pemahaman nya yang sudah jarang ditemui dari polisi2 kita.. ;;)


Sekali lagi Om Mao,..
kalau sekedar pengakuan gentleman , maka akan sangat banyak pengakuan gentleman serupa dibutuhkan oleh berbagai etnis dinegeri ini,..

anda boleh berhitung ada berapa...
06 Juli 2009 00:15:34
Chairman Mao  @Leksa: wow.. SUMPE LOE?!! apakah benar anda akan berbuat demikian? atau sekedar ga mau kalah sehingga sedikit "maksa" untuk counter logika saya?

namun kalau memang demikian, statement anda sungguh membuka mata saya! bagaimana jualan kecap cap "rakyat kecil" dapat dijadikan jaminan pengganti tanggung jawab dan kewajiban, bahkan untuk se kaliber pak.polisi.. hebatnya masih diberi apresiasi berupa ucapan terima kasih lagi!!.. WOW sungguh hebat khasiat mantra "rakyat kecil" ini.. maka terpecahkan sudah misteri yang dikepala saya selama ini: bagaimana mungkin orang yang "kosong" mampu mendapat dukungan rakyat sebagai capres hanya dengan teriak teriak "demi rakyat kecill! demi wong ciliikk!" berulang ulang? ternyata mindset anda membuktikan bahwa hal itu mungkin.. terima kasih bung @Leksa: atas pencerahannya. :D
06 Juli 2009 15:35:54
mendoan  @Chairman Mao:
setuju kerusuhan mei adalah masalah SARA yang sebenarnya bersumber pada masalah sosial yang turun temurun

btw coba quote lebih lengkap dari leksa [...asal musalah kerusuhan ini dimulai dari konstelasi politik dan sosial yang mau meleduk saat itu. Istilah nya jaman orde lama "Ibu Pertiwi hamil tua"]

sebagai gambaran, dalam konteks hukum pidana ada yang namanya dasar pemaaf dan penghapus kesalahan, harus dilihat kenapa dia melakukan itu...misal seseorang mencuri ayam untuk makan keluarganya tetapi seseorang yang lain maling duit negara atau tidak membayar pajak demi memperluas jaringan bisnisnya, keduanya sama-sama maling tetapi hukumannya tentu haruslah berbeda...

kalau mau bijak kita harus melihat latar belakangnya juga, tetapi jangan lupa menyatakan kalau itu salah

jadi harus diakui dalam satu paket dan ini bukan opsional
1. harus diakui bahwa ada sentimen SARA dalam kerusuhan Mei
2. harus diakui pula bahwa hal tersebut disebabkan permasalahan-permasalahan sosial yang tidak terselesaikan
06 Juli 2009 16:00:10
Chairman Mao  @mendoan: ya memang, 1998 memang masalah multi dimensional.

Adalah beda sebab (permasalahan sosial) dengan akibat (penjarahan/pembunuhan/penyiksaan etnis Tionghua... among others), namun sebab dan akibat tersebut adalah bagian dari Peristiwa Mei 1998.. tidak bisa kita mengambil kesimpulan sebuah incident adalah soal sebab, tanpa memikirkan akibat. jadi memang seperti yang anda bilang: adalah dalam satu paket.

namun statement wapres tercinta kita JK: "peristiwa kerusuhan Mei 1998 silam bukanlah sebuah kerusuhan rasial terhadap kelompok Tionghoa _______ Peristiwa tersebut justru merupakan peristiwa sosial____" . Beliau mengakui sebab tanpa mau mengakui akibat yang sudah jelas dan nyata.
06 Juli 2009 16:47:23
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »