kalangwan Inilah.com ya? Hihihihi.... Ga aneh sih kalo situs satu itu syahwatnya emang kenceng kalo udah omongin blunder-blundernya SBY.
Sependek ingatan saya membaca statement SBY itu, yang lebih presisi sebenarnya bukan SBY suka "blackmagic", tapi SBY "suka zikir untuk menghindari sihir".
Timses SBY sebenarnya punya celah untuk "membelokkan" ini jadi SARA --seperti yang sudah dilakukan tim JK dalam isu Bugis kemarin-- dengan mengatakan: "Orang rajin zikir kok dijelek-jelekin." :D
Tapi arus propaganda memang sedang tidak berada di tangan timses SBY.
-------
OOT:
Gaya karikutur inilah.com macam itu mengingatkan saya pada gaya karikatur di era 1950-an sampai pertengahan 1950-an. Semuanya ga basa-basi, langsung tunjuk hidung, dan ga ada "eufemisme" ala GM Sudarta.
Coba simak buku "Prahara Budaya" susunan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufik Ismail, karikatur-karikatur karya perupa Lekra bener-bener edan-edanan buat orang yang terbiasa menyimak coretan pensil GM Sudarata.
Di kontrakan saya di Jogja, saya masih menyimpan beberapa copy karikatur politik yang tayang di media massa dari era itu.
Beberapa karikaturis utama waktu itu adalah Ramelan (bekerja untuk koran Suluh Indonesia), Sibarani si pelukis potret Sisimangaraj (bekerja untuk Bintang Timur yang berhaluan kiri), Mieke Sd. (yang bekerja untuk koran Masyumi Abadi), dan S. Soeharto (bekerja untuk koran Indonesia Raja pimpinan "si galak" Mochtar Lubis).
Hampir semuanya sama: gayanya lugas, langsung tembak, termasuk pasang sketsa potret tokoh yang diserang.
Binatang pun bahkan sering dipakai tanpa tedeng aling-aling. Golongan Islam sering digambarkan sebagai unta, nasionalis itu banteng, komunis macam beruang, politikus dibrongsong macam anjing, Simbolon kaya monyet, Rasuna Said macam kucing garong, Wilopo menyembunyikan kepala seperti burung unta, dan Hatta mirip serigala induk Romulus Remus pendiri Kota Roma.
hihihihi
05 Juli 2009 03:39:39