pradaksina Karena SD adalah pendidikan dasar, dan pemerintah wajib memberikan pendidikan kepada rakyatnya.
karena praktek di lapangan selalu jauh dari indahnya teori dan peraturan.
Pada prakteknya SD melakukan tes, bahkan tes bahasa inggris.
Pada prakteknya, ada uang yang ditarik oleh sekolah kepada murid-muridnya, dengan berbagai alasan.
Pada prakteknya, SBI (SMA) di sebuah kabupaten pelosok jawa timur memberlakukan uang masuk sebesar 20 juta, dan hanya menyediakan 10% kursi untuk orang miskin.
Pada prakteknya, keponakan saya yang baru lulus SD dengan NEM tertinggi nomer.2 di sekolahnya tidak berani daftar di SMP terbaik, karena SMP itu SBI. Berharap beasiswa? yang bener aja.....
Kondisi nyata di luar jakarta, biasanya hanya ada 1 SMP dan SMA yang bagus (anak2 yg masuk univ negeri, 90% berasal dari SMA ini), dan jika anak pintar tidak termasuk yang dapat jatah kuota 10% dari sekolah, maka musnahlah kesempatan masuk univ negeri.
Skenario bagusnya sih, sekolah nomer 2 di kabupaten itu akan menampung anak2 pintar tapi miskin ini, sehingga, dengan input yg baik, outputnya pun meningkat, sehingga kualitas sekolah nomer 2 ini mendekati sekolah nomer 1.
Skenario jeleknya, anak2 berpotensi ini akan hilang potensinya, karena kurangnya kompetisi dan jeleknya kualitas sekolah nomer 2 ini.
Namun, sepertinya, sekolah2 akan berlomba-lomba menjadi SBI. Dan semakin kecil-lah kesempatan anak miskin pintar untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
29 Juni 2009 12:40:19