25 Komentar Tulisan

Republik Tanpa Alternatif • penulis: fadjroel rachman, 17 Mei 2009 19:50:29 • Bagus +7

Kalau masalah regenerasi, kemiskinan, ketimpangan sosial dan ketergantungan utang masif diakui sebagai realitas dan rakyat mengiyakannya saja dalam pilpres 8 Juli 2009 (tentu 60-70 juta Golput haruslah bersikap tegas) maka Niccolo Machiavelli benar, ”Mayoritas manusia puas dengan kesan luar, seolah kesan itu adalah realitas.” Kesan luar itulah yang dicitrakan parpol dan capres/cawapres berbiaya triliunan rupiah. Seolah-olah terjadi perubahan, padahal sekadar mempertahankan sebuah republik tanpa

Menampilkan 1 - 25 dari 25 komentar.
Casper Adakah hal positif yg bisa saya dengar, please?
17 Mei 2009 20:25:57
ichanx  @Casper : mungkin mas @fadjroel rachman lebih tertarik sebagai kritikus murni...kayaknya beliau gak tertarik nampilin hal positif, ngasih ide jalan keluar atau solusi sih kayaknya...

tapi semoga aja, tulisan ini bisa jadi semacam cambuk buat "orang-orang di atas" untuk ngebuktiin bahwa mereka gak seburuk yang ditulis disini

:))
17 Mei 2009 20:55:08
heriyadi @fadjroel
Yap jalan keluarnya mana? Kalo cuma teriak-teriak aja mudah, yang sulit itu mana jalan keluarnya. Kalo cuma teriak tanpa solusi apa bedanya dengan yang lain orang-orang yang ada kritik hehehe.
17 Mei 2009 21:28:56
Malem Diwa Sepakat dengan bung ichanx, Bangsa kita kalau saya liat udah kebanyaan profesi tukang tukang kritik, mulai dari olah raga, politik sampe masalah tempat tidur semua di kritik, tapi dari banyak bersileweran di media sangat jarang seseorang yang punya angka-angka dan data-data untuk membangun Bangsa ini lebih baik lagi mencurahkan pola pikirnya dan ide-ide dia untuk kemajuan Bangsa.

Mau nya di buat lomba kelompok pengkritik dan kelompok yang ngasih solusi ya biar bisa berjalan lebih imbang.

Ya mudah-mudah kritikan pedas itu dapat di dengar sama penguasa-penguasa kita.

Maju terus dan di tunggu solusinya...
17 Mei 2009 21:31:47
Retno I Palupi Mas Fajroel, bisa kasih saran siapa diantara 'tiga pasangan sepuh" yang sebaiknya dipilih, setidaknya yang masih ada segi positifnya menurut Anda.

Karena memang hanya merekalah yang terdaftar sebagai pasangan capres cawapres dan rakyat harus menentukan.
17 Mei 2009 21:47:26
Casper Di Indonesia, pemimpin sering dihadapkan pada buah simalakama. Dilakukan salah, tidak dilakukan lebih salah. Contohnya BLBI.

Mencari hal negatif tidak akan pernah ada habisnya. Mental solutif lebih layak dikedepankan. Orang - orang sudah lelah dengan kritik tanpa solusi.
17 Mei 2009 21:48:24
Jeka fadjroel rachman melakukan copy paste????
17 Mei 2009 22:07:57
dodi artikel ini kan ditulis sebagai jawaban artikel lain di Kompas. yah, komentator pun harus betul2 membaca sebelum komen busa-busa.
17 Mei 2009 23:15:18
Casper Yg ngebantah cuma yg kebijakan hutang aja...
17 Mei 2009 23:48:42
Miss Q kritikus itu biasanya mati kalo gak ada lagi yang dikritik ato tak mau menerima kritik dan tak bisa melakukan otokritik.... semoga aja mas fadjroel tidak menjadi kritikus yang mati...
18 Mei 2009 00:19:35
boiga BudiTyas: Di Indonesia, pemimpin sering dihadapkan pada buah simalakama. Dilakukan salah, tidak dilakukan lebih salah..
__
betul tu.. ini emang paling kentara sekarang-sekarang ini.. yang lebih buruk lagi, media massa juga ikut jadi kompor, dengan jargon "berita buruk adalah berita bagus" mereka ramai2 mengejar borok2 pemerintah, sedangkan prestasi-prestasi baik sangat minim ditampilkan..
yah.. inilah negeri kita.. susah, mendingan menyendiri dan berbaik2 dengan lingkungan sekitar deh.. siapa tau bisa membangun komunitas yang berkualitas tanpa perlu dicampuri kerumitan dunia pemerintahan..
18 Mei 2009 00:34:53
odiboni Kalo memang ga ada hal yg positif, ya mau apa lagi? Masa harus nyari2 yg positif?

Dan soal solusi? CMIIW tp saya belum nemu artikel yg ngasih solusi di politikana

18 Mei 2009 01:04:13
aditya sani fadjroel rachman itu cuma robot ya? apa mungkin dia cuma diset sebagai kritikus, tapi gak diset untuk memberi respon?
18 Mei 2009 01:15:21
pico yang positif adalah kebenaran dari kutipan Niccolo Machiavelli: "Mayoritas manusia puas dengan kesan luar, seolah kesan itu adalah realitas". Sebuah pembelajaran buat semuanya bahwa begitulah proses itu berjalan..

Jadi bisa dipahami bahwa tidak akan ada satu konsepsi solusi yang akan lahir dalam waktu dekat ini.. yang ada hanya jargon-jargon tanpa konsepsi kuat.. Karena tuntutan pragmatis untuk memenangkan Pilpres adalah memperkuat pencitraan di depan publik dan bukan dengan membangun konsepsi solusi/alternatif untuk memperbaiki keadaan.

begitu dech..
18 Mei 2009 01:31:41
Striding Cloud Orang hebat tidak instan.

Mau jadi presiden, merangkak lah dari dalam partai, jadilah teruji dari skala kecil dulu. Jangan kalah dengan roy suryo, atau budiman sudjatmiko.

2014 nanti, jangan-jangna roy suryo yang jadi capres dari PD VS budiman dari PDI VS tifatul dari pks.
18 Mei 2009 05:03:48
babyloniamaria knapa anda tidak jadi wapres aja?..kan buanyak yang dukung dari republik mimpi
18 Mei 2009 09:17:45
aroon hmm... kenapa ya capres/cawapres itu dibilang sepuh semua??? apa sih kriteria penyebutan sepuh? apakah umur? (50an, 60an, 70an...) apakah warna rambut? (masih hitam, sudah beruban, beruban semua,... ) apakah bentuk fisik (masih tegap, gagah, atau sudah bongkok dan lemah...)

tak jelas kriterianya. Saya pun bisa mengatakan bung Fajroel ini adalah orang sepuh, kan suka-suka saya dong mengatakannya. hehehehe....
18 Mei 2009 11:57:53
liamjonas JK pro amandemen tuh Mas,mungkin ada kesamaan agenda seperti Capres Independen. neolib kan cuma di SBY-Boediono, JK atau Mega udah "bertobat" ke ekonomi kerakyatan (semoga konsisten). untuk 2014 mas fadjroel sbg icon perubahan bisa memanfaatkan dukungan golputers, buat bairgain dgn parpol yg relatif lbh ga banyak dosa, jgn lupa tranparansi dan akuntabel.

ttg iklan SBY-Boediono mmg sudah masuk kebohongan publik,bahkan pembodohan publik.
18 Mei 2009 23:08:07
lat SBY-ber-Boedi dikatakan NEO-LIBERALISM...
Mega-Pro dikatakan berke-RAKYAT-an...
JK-Win dikatakan berke-RAKYAT-an...

apa mereka bukan rakyat...jangan2..mereka telah membuat dirinya kaum politisi, pegamat, pengusaha, makelar, pemerhati dosen itu Rakyat (dgn huruf besar)..dan petani, buruh nelayan (dgn huruf kecil)...

pernah suatu hari temen saya LSM di yogja diundang membahas pemampuan masyarakat peternak sapi ( karean dia memang lagi mengolah urine sapi jadi pupuk organik, saya telah membuktikan emang bagus), tapi begitu makan di hotel dan dia tanya dan dikasih tahu harga rata2 makan 1 orang Rp. 400 rb, bliau langsung angkat kaki dan menyatakan duit segitu sudah bisa ngidupi 2 keluarga di sleman sana... saya sih mau neo-lib, post lib atau bahkan neo-lips pun gak peduli yg penting... jangan banyak ngomong deh klo taunya teori...dan daari teori itu pengin hidup enak.. betul yg dikatakan comentator sebelumnya...kenapa bung anas, bung mimin, bung tifatul gak berani maju, ...paling tidak dulu klo gak salah inget bung fadjroel rachman pernah menyatakan mau nyalonin capres walau itu diluar mekanisme partai...mana janjimu..

19 Mei 2009 16:12:26
salim ndobol alias bohong semua kalau masih berharap pada demokrasi,demokrasi itu membawa sengsara tauuuuuuuuuuuuuuuuu//////////??????????????
sengsara dunia akhirat
19 Mei 2009 22:36:16
crackedhead Hai semuanya.
untuk Bu Tyas: emang ada yang positif? Please deh ah.

untuk Fajrul Rachman: keterlibatan anda dengan Komunitas Utan Kayu dan antek-antek liberalnya, yang jelas-jelas dijejali duit sebuanyak-buanyaknya (yeah, baby, mo money mo money!) dari Ford Foundation dan the Asia Foundation, anda definisikan sebagai apa?
20 Mei 2009 09:39:39
hamatamu kenapa ya selalu ada kalimat main tuding seperti yang ditulis @crackedhead? alih-alih beropini dan berpendapat dengan apik, ini malah menancapkan belati pada muka orang dengan main hardik :)
20 Mei 2009 10:04:49
crackedhead Kenapa ya Pedy selau main tuding bahwa semua orang lain (in this case me) main tuding.

Komentar ini dari Pedy Senin, 18 Mei 2009 05:03.

"Orang hebat tidak instan.

Mau jadi presiden, merangkak lah dari dalam partai, jadilah teruji dari skala kecil dulu"

bukankah ini tudingan bahwa Fajrul Rahman mau main pintas saja. Implikasinya si Fajrul ini memang gak layak jadi presiden karena gak teruji. (btw, Pedy anda orang parpol ya?) Kayaknya ini juga masuk kategori " menancapkan belati pada muka orang dengan main hardik" ya nggak, ya nggak?
Yang saya ungkapkan fakta kok malah dituduh main tikam, ke muka lagi! (plis deh ah, jangan lebai. Emang ada main tikam ke muka a.k.a wajah?)
20 Mei 2009 13:34:01
aku lanang yah bang fajroel kan pernah mau nyalonkan diri jadi capres, kalo emang punya solusi yang bagus untuk bangsa kita, meski gak jadi capres, alangkah baeknya kalo solusi atau pemikiran bang fajroel emang layak untuk diterapkan di bangsa ini yah tinggal sodorkan proposal aja ke presiden yang berkuasa, kalo emang bisa menjadi solusi yang baek, kemungkinan juga bisa diterima siapapun presidenya.
22 Mei 2009 08:44:00
veri8891 solusinya:
pilih MFR sebagai capres...
gitukan bung fajroel.?

sayangnya..bagai punguk rindukan bulan...
23 Mei 2009 14:27:59
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »