64 Komentar Tulisan

Dua Dunia: Hidup Tanpa Dikotomi Dengan Ulama Muda • penulis: Alex©, 22 April 2009 14:29:47 • Inspiratif +10

Ini, adalah Islam yang kami pahami, yang saya lamunkan pada artikel tentang puisi Mustofa Bisri dan Mohammad Sobary, dalam kehidupan berbudaya, bersosial-politik di negeri ini. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa dibelah ragam dikotomi yang basi...

Menampilkan 61 - 64 dari 64 komentar.
arsyani @alexcobain

hemmm...
semoga malaikat baca juga artkel ini

27 April 2009 15:57:59
Alex© @ancillaysi

Lho? Pernah di Aceh?


@ndaru

....

Absennya kosong :|


@arsyani

> hemmm...
semoga malaikat baca juga artkel ini

=====

:D

Semoga saja, Mas :D
27 April 2009 16:55:28
hamatamu @alexcobain; identifikasi awal, interaksi mereka mungkin cuma ada dalam polarisasi pemikiran khilafah saja.
27 April 2009 17:07:52
adi Alex;

Ente berkata,"Taqlid atau tidak itu darimana saya memandang? Jika saya berasumsi Umar hanya karena takut untuk bertanya lebih jauh, ya...dia taqlid. Tapi ia menerima kebenaran wahyu ketiga karena ia merasa itu benar. Itu pendapat saya lho : )

Wah ente bisa dimarahi nabi dan sahabat2 lain yang tidak mau tanya2 kayak Umar lho...masak nabi dan yang lain disimpulkan taqlid sedangkan Umar seorang saja yang tidak...


Alex, memang bener bahwa kita menanggung sorga dan neraka atas resiko masing-masing. Dan tidak ada paksaan dari Islam untuk menerima suatu jenis pemikiran/mazhab tertentu. Yang ada adalah kewajiban tunduk patuh taat terhadap hukum syara yang pernah ente singgung; wajib, sunah, mubah dll.

Khilafah itu wajib (empat mazhab yang kita kenal mewajibkan itu), riba itu haram, membunuh itu haram . Semua yang saya sebut bukan Rukun Islam. Lalu, rejeki itu Allah yang memberi, haram putus asa terhadap rahmat Allah, ada keharusan cinta kepada Allah dan RasulNya. Itu semua juga bukan Rukun Iman. Namun semuanya tetap kita terima dan jalankan. Artinya, Rukun Iman dan Rukun Islam saja belum cukup kalau kita mau menjalankan Islam.

Coba jawab dengan jujur, apakah Alex dan yang lain merasa dipaksa menerima pemikiran2 dari mereka yang pro syariah dan khilafah? Ane rasa sih tidak. Kalo iya pun toh itu hanya perasaan saja (jangan terlalu perasa lah yauw). Tapi masih bisa menolak, iya khan?

Jadi kalo agama hanya urusan personal ya, konsekuensinya tidak usah bicarakan agama di politikana. Kalo ane sih tidak berkeyakinan begitu.

Satu lagi, siapa sih yang mengklaim dirinya/kelompoknya pemimpin bumi? Jadi pengen tahu....
28 April 2009 16:50:11
 < 1 2 3
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »