16 Komentar Tulisan

Kesaksian • penulis: gunawanrudy, 03 April 2009 14:45:19 • Bagus +6

 

Menampilkan 1 - 16 dari 16 komentar.
Shouen Akhirnya @gunawanrudy menulis teman2! Tepuk tangan prok prok proook! :))

*spirit bercanda melulu hari ini, maklum, long weekend, komentar serius menyusul*
03 April 2009 14:50:11
gunawanrudy Heh, dasar kamu Chris! Pas aku nulis artikel, baru muncul sifat gak seriusmu. [-(
03 April 2009 15:51:22
Kopral Bambang Mengapa dikau curi nama "Telefoon Boentoeng"? :(

*ikutan tak serius*
03 April 2009 16:03:57
gunawanrudy Telefoon Boentoeng itu tribute to Kwee Thiam Tjing aka Tjamboek Berdoeri, kisanak. :|

*lanjut OOT*
03 April 2009 16:05:26
Lantip oh apakah hubungan Anda dengan Tjamboek Berdoeri sedemikian dekat? sepeminuman teh jaraknya?

*ini apaan to?*
03 April 2009 16:07:24
GaraMata lah, tempat OOT toh *ikutan*
03 April 2009 16:11:54
kang tutur akhirnya...! :D
03 April 2009 17:50:36
Po' Tulisan bagus, komen gak ngerti..:)
03 April 2009 20:33:33
Shouen *serius mode on*
Di Indonesia apakah tidak ada yang namanya program perlindungan saksi mata sehingga kesaksian yang diberikan tetap konsisten dan tidak dipengaruhi oleh pihak manapun?
Saya hanya bisa optimis menunggu perbaikan sistem peradilan kita. Di mana keadilan bukanlah kebohongan publik dan hanya merupakan plain truth.
03 April 2009 21:45:12
Lemon S. Sile *joget pisang*

Perlindungan saksi di Indonesia saya kurang tahu. Tapi kalaupun ada saya masih ragu akan seberapa terjaminnya keselamatan saksi itu.

Saya agak bingung mau komentar apa karena sepertinya yang dibicarakan terlalu luas. Dari awal tulisan begini, lalu begitu, dan begini. Tapi tulisa ini inspiratif. Terutama bagian akhir.
Seberapapun pintarnya manusia kalau Ia tak menulis Ia hanya akan tenggelam dalam sejarah. ;)
04 April 2009 01:04:53
hamatamu @gunawanrudy; cieee yang Indonesia dalem api dan bara ... :D
04 April 2009 02:34:20
Lantip *saya akhirnya merasa berdosa gak komen serius di tulisan bagus ini :D*

-----------quote
Kesaksian para pemenang adalah kebenaran yang mau tak mau harus diterima mereka yang kalah, namun hanya hingga saat di mana pemenang itu tumbang nantinya. Dan adakah usaha para pemenang saat ini untuk bersikap adil terhadap kesaksian yang takut untuk muncul ke permukaan karena tak terlindunginya mereka dari ancaman-ancaman?

--------------endofquote

kalau sejarah yang non-pemenang dilindungi oleh pemenang, itu malah ancaman bagi status menangya si pemenang dong :)

justru para pencatat sejarah, musti cerdas bertindak dalam menyelamatkan catatannya. kalau orang dulu (jaman syekh siti jenar misalnya) menyelamatkannya melalui suluk (tembang). nah, itulah mengapa divisi kebudayaan rakyat itu penting *lho kok jadi inget lekra hihi*
04 April 2009 05:17:50
gunawanrudy  @Shouen:
Tulisan ini lahir salah satunya setelah kasus tewasnya saksi kunci kasus pencurian arca dari museum Radyapustaka Solo yang melibatkan Hasjim Djojohadikusumo (adik kandung Prabowo Subianto). UU Perlindungan Saksi pun munculnya sangat telat, baru tahun 2006. Kelemahannya banyak sekali, antara lain perlindungan cuma diberikan untuk saksi non pelaku (baik fisik, pidana dan perdata), dan perbedan yang jauh antara pelapor dan saksi, yaitu nggak melindungi pelapor atau whistleblower yang membongkar kejahatan di luar proses pengadilan.

@Lemon S. Sile:
"Seberapapun pintarnya manusia kalau Ia tak menulis Ia hanya akan tenggelam dalam sejarah."
Ini kutipan fundamental bagi mereka yang baca karya Pram. :P

@hamatamu:
Lha cah iki malah nyambung ke Tjamboek Berdoeri.
Kalo punya buku itu mbok ya dipinjami, aku kehabisan je.

@Lantip:
Ya, mengamcam. Namun itu sangat mengancam di negera yang totalitarian atau lebih keras.
Tapi ada banyak cara yang dilakukan untuk membungkam suara-suara minor seperti itu, misalnya dengan kesejahteraan dan kemajuan di bidang ekonomi (kok jadi deja vu ya, hehehee), Lee Kuan Yew dan keturunannya sukses melakukannya di Singapura. Negara kita negara yang ngakunya demokrasi, namun UU Perlindungan Saksi baru disahkan 8 tahun setelah runtuhnya Orde Baru. Itupun masih banyak celah.

Demokrasi negara kita "terpaksa" membuat penguasa untuk melindungi sejarah mereka yang kalah. Tapi, sudahkah kita menyaksikannya? Mungkin sudah, toh tendensiusnya si Ibu dalam menghadapi rivalnya yang sedang berkuasa bisa sering kita saksikan. ;))

Dan akhirnya, zaman sekarang, kita menyelamatkan catatan sejarah kita lewat internet.

Btw, soal hubungan itu....ahsudahlah. :D
04 April 2009 07:39:47
hamatamu @gunawanrudy; punya. tapi saya cari dulu di tumpukan :)

masalah penguasa melindungi sejarah, ah kau sudah tahulah terusannya, toh akan berulang :)
04 April 2009 07:50:23
gunawanrudy Bagaimanapun, harus bersepakat juga dengan itu akhirnya. Hampir ada di tiap sistem, hanya saja cara penerapannya berbeda. ;))
04 April 2009 09:42:44
arsyani akhirnya memulai berfilsuf...
05 April 2009 01:19:15
Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »