Yang namanya politik tidaklah hitam putih, tidak ada yang pasti, sewaktu-waktu bisa berubah, pagi hitam sore menjadi putih dan terkadang kehitam-hitaman
Tokoh muda yang juga sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy, menyatakan bahwa PPP membuka ruang untuk melakukan konvensi dalam menentukan capres dan cawapres. "Dalam dua tahun ke depan PPP akan meneropong tokoh-tokoh, baik parpol maupun di luar parpol."
Pernyataan sekjen itu mengandung makna bahwa PPP tidak akan mendukung calon Presiden yang diusulkan oleh partai lain, tapi PPP akan mengajukan calonnya sendiri. Namun demikian, PPP belum menentukan siapa calon yang akan diusung, partai berlambang ka'bah ini tidak mau terburu-buru dan bersikap latah dalam menetapkan capres, meskipun dua parpol lain seperti Golkar dan PAN sudah mengumumkan nama calonnya.
Selanjutnya Romy menegaskan bahwa "Konvensi sangat dimungkinkan." Pernyataan ini sangat menarik karena dengan demikian PPP telah menegaskan bahwa pimpinan partai tidak mutlak menjadi capres. Partai ini mengutamakan calon yang memiliki elektabilitas tinggi, tidak perduli apakah itu berasal dari kalangan internal maupun orang diluar partai. Pernyataan itu juga menjelaskan bahwa partai ini akan membuka diri bagi siapa saja yang berpotensi boleh mencalokna diri untuk memipimpin bangsa ini, yang penting mampu dan diterima oleh publik. Untuk menguji apakah calon tersebut memiliki kemampuan dan diterima rakyat diuji lewat konvensi.
Mungkinkah PPP akan melakukannya ?
Inilah yang sulit dijawab, karena yang namanya politik tidaklah hitam putih, tidak ada yang pasti, sewaktu-waktu bisa berubah, pagi hitam sore menjadi putih dan terkadang kehitam-hitaman tapi tak pernah keputihan meskipun politisinya seorang wanita.
Berkaca pada kemungkinan politik yang tak jelas dan berubah-ubah itu pulalah ucapan Romy ini perlu pembuktian. Jika benar, maka menjelang pilpres nanti, PPP akan melakukan penjaringan calon pemimpin bangsa lewat konvensi.Sehingga calon yang diajukan benar-benar teruji, mampu dan diterima, mampu lahir bathin dan diterima karena dikenal berprestasi serta tidak tercela, sebaliknya bukan mengajukan calon yang mampu membayar sewa perahu seperti yang selama ini banyak terjadi pada saat pemilihan kepala daerah.
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Menarik +0