Jadi, kita tahu beberapa sastrawan Salihara terlibat politik praktis. Pilpres 2009 lalu ada Catatan Pinggir berbuih-buih untuk mendukung Boediono. Pilpres 2014 kelak sepertinya juga masih akan melibatkan diri (karena Goenawan Mohamad sedang nyiyir sastra-politik pesanan Aburizal Bakrie).
Lalu sekarang, mereka memutuskan untuk menjagokan Faisal Basri dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Dan seperti cara-cara Caping "selamat bertugas Boediono" lalu, kali ini mereka juga menggunakan cara kampanye yang bikin face palm.
Ayu Utami bikin serial tweet tentang "10+1 alasan mengapa cagub indie", semacam pelesetan dari judul artikelnya sendiri yang terkenal itu (yeah rite) "10+1 Alasan Tidak Menikah".
Dalam serial tweet itu argumennya kurang lebih begini: cagub independen itu lebih bisa diandalkan integritasnya karena tidak terikat oleh kepentingan politik dari partai pengusung.
Jadi, saya bikin 2+1 alasan mengapa argumen itu buruk:
1. Cagub independen, meskipun tidak terikat kontrak dengan partai pengusung, tetap terikat semacam 'hutang budi' dengan tim sukses dan pemberi dana. Tetap ada, misalnya, "Oh, para sastrawan itu dulu berkontribusi dalam kampanye saya".
2. Sesat pikir. Argumen itu menghasilkan kesimpulan seolah-seolah siapapun yang tampil sebagai calon independen dengan sendirinya memenuhi kriteria calon gubernur yang baik.
3. Salah sasaran. Semestinya kampanye lebih pada "mengapa Faisal Basri" ketimbang "mengapa cagub independen."
Catatan: lega sekali tidak harus menulis bagian kesimpulan, tidak seperti dalam tradisi akademik sialan itu.
Artikel ini memiliki: 13 Komentar • Keren +3