Sebuah peristiwa yang tak pernah benar-benar terkuak
Saat berumur 16 tahun, saya pernah berteman dengan seorang mantan aktivis mahasiswa 1978. Suatu senja, ia membongkar dokumen-dokumen tua, sisa-sisa pemberontakan gagalnya kepada Soeharto. Salah satu dokumen lantas ia berikan kepada saya. Judulnya: Manifesto Mahasiswa ITB atas Kekuasaan Soeharto.
Saya baca dengan rakus, berbagai informasi langka dari kertas-kertas yang sudah berwarna kuning itu. Salah satu hal yang membuat saya tertarik adalah tentang suatu kejadian di tahun 1950, saat Soeharto digampar oleh Kolonel Alex Kawilarang. Pasalnya, sesepuh Siliwangi itu tak suka melihat kelakuan pasukan Soeharto yang alih-alih bertempur dengan prajurit-prajurit KNIL Andi Azis, malah merampoki harta orang-orang Bugis.
Bertahun-tahun kemudian saya pernah mengomfirmasi soal ini kepada seorang jenderal tua. Alih-alih membantah peristiwa penggamparan legendaris itu, ia malah memberi saya versi lain mengapa Soeharto sampai digampar Kawilarang. Katanya, kejadian itu berawal dari laporan Soeharto (saat itu berpangkat Letnan Kolonel dan memimpin Brigade Garuda Mataram) yang melaporkan kepada Kolonel Kawilarang bahwa posisi Makassar "aman dan terkendali".
Kolonel Kawilarang lantas meneruskan laporan bawahannya itu kepada Presiden Soekarno. Namun bukannya sumringah, dengan wajah kesal Soekarno malah menunjukan radiogram: Makassar sudah jatuh ke tangan para pemberontak Andi Azis. Tentu saja, Kawilarang malu besar. Saat itu juga ia terbang menemui Soeharto dan langsung menggamparnya saat mantan prajurit PETA itu menyambutnya di Lapangan Terbang Mandai. "Sirkus apa-apaan ini?!" katanya sambil menunjukan salinan radiogram tersebut kepada Soeharto.
Versi lain soal musabab penggamparan itu juga pernah dilontarkan oleh almarhum Rosihan Anwar. Wartawan senior tersebut menyebut penggamparan itu bermula dari kekesalan Kawilarang yang mengetahui Soeharto berusaha menyelundupkan sebuah mobil rampasan via pelabuhan setempat. Saat dikonfirmasi langsung oleh Rosihan, tentara anti politik itu hanya tersenyum.
Misteri penggamparan itu mulai terkuak pada tahun 1999. Kepada Majalah Tempo, Kawilarang menyatakan kebingunannya terhadap rumor tersebut. Menurutnya, yang melakukan penggamparan justru bukan dirinya tapi Soeharto. Korbannya adalah Letnan Parman, salah seorang anak buah Kawilarang.
Ceritanya, saat itu Soeharto berusaha menyelundupkan tujuh mobil hasil rampasan. Upaya itu diketahui Letnan Parman (saat itu bertanggungjawab atas keamanan Pelabuhan Makassar) dan langsung dicegahnya. Mengetahui "upaya bisnisnya" terjegal, Soeharto berang dan langsung menggampar sang letnan di pelabuhan.
Apa yang lantas dilakukan oleh Kawilarang saat mengetahui "kenyinyiran" Soeharto tersebut? Tak ada yang tahu pasti. Selain tak pernah berusaha menceritakan soal itu, Kawilarang pun terlanjur meninggal pada tahun 2000. Tapi apa pun, menurut saya, wajar saja jika saat itu Kawilarang menggampar balik Soeharto yang sejak perwira menengah memang kadung dikenal sebagai "tentara nakal". (hendijo)
(Lihat foto: BENARKAH SOEHARTO PERNAH DIGAMPAR?)
Artikel ini memiliki: 42 Komentar • Menarik +5