Pada pembukaan Pekan Konstitusi di Kantor ICIS, Jl Dempo, Matraman, Jakarta, Senin (30/1/2012). Jusuf Kalla mengatakan bahwa tindakan anarkis dinegeri ini sudah sampai pada taraf membahayakan, hampir setiap aksi protes selalu berujung pada tindakan anarkis.
Kecemasan kita hari ini bukan semata karena kerugian material yang diakibatkan oleh aksi anarkis itu, tapi kita sekan kehilang sebuah nilai kehidupan. Tindakan anarkis yang dulunya kita jauhi kini seakan merupakan bagian dari hidup kita sendiri, hampir setiap tuntutan disertai dengan aksi beringas dan anarkis. Aksi tanpa kekerasan seakan kurang bermakna.
Kita kehilangan Adab dan sopan santun, padahal itulah milik kita yang paling berharga. Kita seakan sudah tidak bisa lagi bersikap ramah terhadap sesama. Dan itulah kecemasan kita, kecemasan sebagai bangsa yang beradab, sudah mulai bergeser menjadi bangsa yang biadab.
Mengapa demikian ?
Karena rakayat sudah merasa tidak mampu lagi memeliahara adab dan sopan santun dan inilah produk dari rasa ketidakadilan yang mereka alami. Rasa keadilan itu terganggu oleh ulah penegak hukum itu sendiri. Maling jemuran, maling kakao, maling sandal jepit diganjar dengan hukuman maksimal, sementara koruptor dihukum ringan dan masih pula mendapat fasilitas dengan menempati kamar khusus, mendapat remisi dan diperingan lagi dengan bebas bersyarat. Alhasil maling jemuran masih meringkuk dalam bui sementara sang koruptor bebas melenggang diluar.
Jurang pemisah antara sikaya dan simiskin semakin menganga, Sepanjang hari rakyat kesulitan mencari sesuap nasi, sementara itu wakilnya didewan merenovasi ruang rapatnya dengan menghamburkan uang milyaran rupiah.
Rakyat duduk berhimpitan dalam bis kota, bergantungan seperti monyet, mencium amisnya bau ketiak penumpang lainnya, sementara wakilnya di DPR duduk diatas kursi yang diimpor dari Jerman seharga Rp. 24 Juta.
Rakyat mengeluh karena kursi penumpang Kereta Api yang tak pernah cukup, berdesak-desakan hingga naik keatap gerbong, dijawab pemerintah dengan bola beton, artinya kalau mengeluh kepalamu akan benjol.
Rakyat yang datang menuntut haknya yang dirampas oleh pengusaha dihadang oleh petugas dengan senjata, maka bergelimpanganlah mayat di Mesuji dan Papua. Rakyat mengaduh kesakitan karena berobat dirumah sakit harus menyediakan uang muka sementara Program penjaminan Sosial tidak jelas ujung pangkalnya.
Rakyat dituntut agar taat membayar tagihan listrik, sementara listrik yang byarpet tak pernah diberi sanksi apapun, setelah itu TDL naik terus tanpa pernah ada perubahan dan peningkatan pelayanan terhadap pelanggan. Dalam hal ini nampaknya PLN sungguh menikmati sekali monopoli arus listrik yang diberikan kepadanya.
Berbagai ketimpangan dan ketidak adilan inilah yang melahirkan sikap anarkis itu, karena hanya dengan sikap itulah barangkali rakyat Indonesia bisa menunjukkan eksistensinya. Dan jika ini dibiarkan bukan tidak mungkin kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab.
Artikel ini memiliki: 0 Komentar • Bagus +0