Setelah ajukan rencana renovasi toilet seharga Rp 2 miliar, pembangunan parkir motor senilai Rp 3 miliar, kini anggota dewan sibuk memilih mebel incaran untuk ruang kerja mereka. Untuk mendapatkannya, penghuni gedung DPR itu tidak perlu bingung bagaimana cara pembayarannya. Toh mereka sudah menodong negara sekitar Rp 20 miliar untuk mempercantik ruang kerja tersebut.
Karena itu, dipilihlah mebel import, seperti dari Jerman. Cukup merogoh uang "kas", mereka sudah dapat barang berkualitas bagus.
Penggunaan Mebel Import DPR Dikritik
JAKARTA --Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) mengecam penggunaan mebel impor di ruang rapat Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat. "Mebel buatan lokal harganya bisa seperdua puluh harga mebel impor," ujar Ketua Umum Asmindo, Ambar Tjahyono, kepada Tempo kemarin.
Dia menjelaskan, kursi kerja berkualitas buatan dalam negeri harganya sekitar Rp 6 juta."Itu harga kualitas kelas satu, kalau mau lebih bagus lagi, harganya Rp 10 jutaan," ujarnya. Adapun sofa berkualitas tinggi buatan lokal dibanderol Rp 25 juta.
Kecaman dari asosiasi pengusaha mebel mengemuka karena renovasi ruang rapat Badan Anggaran DPR menggunakan mebel impor. Proyek ruang rapat itu kini menjadi sorotan karena menelan biaya Rp 20 miliar.
Penggunaan mebel impor untuk ruang kerja wakil rakyat, kata Ambar, melukai kalangan pengusaha. Sebab, harga mebel impor yang jauh lebih mahal tak menjamin kualitasnya lebih baik daripada produk lokal.
"Produk kami diakui di Eropa, Amerika, Jepang, dan banyak negara lain." Namun, dia melanjutkan, "Justru di tempat wakil rakyat malah digunakan furnitur impor."
Penggunaan barang impor menunjukkan anggota Dewan tak memiliki kecintaan pada produk dalam negeri. "Ini seperti penyakit orang kaya mendadak, apa pun dari luar negeri dinilai lebih bagus,"kata Ambar. Dia menambahkan, kampanye mencintai produk dalam negeri tak disertai tindakan konkret.
Selain itu, penggunaan barang impor ini menunjukkan para wakil rakyat tak mengetahui kemajuan usaha mebel dalam negeri. "Mereka tidak pernah lihat kondisi pengusaha mebel. Saya undang tak pernah hadir."
Renovasi ruang rapat Badan Anggaran senilai Rp 20,3 miliar oleh Sekretariat Jenderal DPR menuai kritik dari berbagai kalangan. Kalangan pengusaha mebel menyatakan keprihatinannya atas penggunaan furnitur impor.
Menurut sumber Tempo itu, harga sebuah kursi yang akan digunakan anggota Dewan Rp 10 juta. Kursi bermerek Vitra dengan tipe D Trim itu kabarnya diimpor dari Jerman. Sementara itu, kursi untuk empat Ketua Badan Anggaran Rp 12 juta per buah.
Cendekiawan Komaruddin Hidayat mengatakan gaya baru wakil rakyat ini menjadi alat untuk mendongkrak citra. "Merasa sebagai orang (pemerintah) pusat, penampilan menjadi kebutuhan baru," tuturnya kemarin.
ALI NY | ANGGRITA DESYANI | M SYAIFULLAH | TRI SUHARMAN
Sebetulnya anggota DPR itu bukan tidak tahu kalau produk Indonesia sudah diakui dunia internasional. Tapi ya, namanya juga aji mumpung, mumpung ada yang bayarin.
Ndak salah tho...
Gambar dari sini, berita dari situ.
(Lihat foto: Tak Keren Tanpa Mebel Impor )
Artikel ini memiliki: 13 Komentar • Penting +2