Sawah Baru Untuk Maluku • penulis: sarapan politikana, 05 Januari 2012 11:48:30 • 11 KomentarMenarik +1

 

Selama dua tahun ke depan, Maluku akan menambah luas sawah hingga seribu hektar. Kata Kepala Dinas Pertanian Maluku Syuryadi Sabirin, sawah seluas 3.500 hektar akan dibuat tahun ini, dan sisanya 6.500 hektar pada 2014 nanti.

Sedangkan tujuannya untuk menjadikan Maluku sebagai daerah yang mampu melakukan swasembada pangan.

 

Demi Swasembada, Maluku Cetak 10.000 Hektar Sawah Baru

AMBON, KOMPAS - Dalam dua tahun, luas sawah di Maluku akan bertambah 10.000 hektar. Perluasan itu merupakan bagian dari rencana pemerintah setempat untuk mewujudkan Maluku swasembada beras pada 2014.

Kepala Dinas Pertanian Maluku Syuryadi Sabirin di Ambon, Maluku, Rabu (4/1), menyebutkan, sawah baru seluas 3.500 hektar akan dibuat tahun ini, dan sisanya 6.500 hektar digarap pada 2014. Sawah baru itu berlokasi di empat kabupaten, yaitu Buru, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, dan Seram Bagian Barat, yang selama ini sebagai sentra produksi beras di Maluku.

Kepala Desa Kobi, Kecamatan Seram Utara Timur, Kabupaten Maluku Tengah, Sutrisno berharap pencetakan sawah baru tidak meminggirkan keberadaan sawah yang sudah ada.

Menurut Syuryadi, tahun pertama dan kedua, setiap hektar sawah baru hanya ditargetkan menghasilkan sekitar 2,5 ton gabah kering giling (GKG) per tahun. Selanjutnya, produksi harus sama dengan rata-rata produksi sawah di Maluku, sekitar 4,5 ton GKG per hektar, setiap musim panen.

Bersamaan dengan pencetakan sawah baru, produksi dari sawah yang sudah ada seluas 11.500 hektar diupayakan meningkat hingga 6 ton GKG per hektar setiap kali panen.

Tim lintas sektor

Menurut Syuryadi, semua langkah tersebut untuk mencapai target Maluku swasembada beras pada 2014. Selain itu, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu juga membentuk tim lintas sektor. Alasannya, agar peningkatan produksi beras tidak hanya mengandalkan dinas pertanian setempat.

Saat ini, kebutuhan beras masyarakat Maluku sekitar 120.000 ton beras per tahun. Sebanyak 58.000 ton di antaranya dipasok dari empat kabupaten penghasil beras, dan sisanya dari Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa. (APA)

Meski Dinas Pertanian sudah membuka lahan baru, tapi perlu dipertanyakan apakah sudah koordinasi dengan Dinas Perdagangan. Jangan sampai seperti petani garam. Di satu sisi mendapat dukungan penuh dari Menteri Kelautan dan Perikanan, tapi di sisi lain mendapat hantaman import yang dilakukan Menteri Perdagangan. Alhasil harga garam lokal menurun drastis.

Kalau keduanya belum koordinasi dan Maluku tetap mengambil beras dari luar daerah, pembentukan sawah baru tidak akan ada hasilnya. 

 

 

Foto dari sini.

(Lihat foto: Sawah Baru Untuk Maluku)


Artikel ini memiliki: 11 KomentarMenarik +1

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »