Walikota Surakarta memilih mobil esemka sebagai mobil dinas, sebuah keputusan yang terkesan berani dan tidak populer, karena sebagian besar pejabat /pemimpin negeri ini lebih cenderung memilih mobil mewah buatan bangsa lain dan enggan memakai produk dalam negeri. Sebaliknya Jokowi malah mengganti mobil dinasnya dari mobil bermerk dan bergengsi dengan buatan anak sekolah, meskipun menurut atasannya Gubernur Jateng Bibit Waluyo "itu perbuatan sembrono."
Seakan mendukung pernyataan Bibit Waluyo, Bupati Wonogiri, Danar Rahmanto mengungkapkan syarat kendaraan dinas pejabat yakni harus dilengkapi dengan sertifikat resmi lulus uji kelaikan dan memenuhi standar keselamatan, namun Danar tak menyebutkan bahwa pembelian mobil dinas juga harus bebas dari mark up anggaran, karena keselamatan dan pemborosan anggaran untuk kegiatan belanja pegawai dinegeri ini sama rawannya.
Selain dari Jateng (Bibit dan Danar) terdengar pula nada sumbang dari Senayan, adalah Anis Matta, wakil ketua DPR dari PKS ini menilai memakai mobil Esemka sebagai "Gaya-gayaan" .
"Nggak perlu seperti itu (membeli mobil Esemka) kan ada peraturan protokolernya. Nggak perlu kita gaya-gayaan. Tapi bahkan kita beli untuk kebutuhan rumah tangga kan bisa," kata Anis di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2012).
Tidak dijelaskan lebih lanjut apa yang dimaksudkannya dengan istilah "gaya-gayaan" , apakah wakil rakyat yang satu ini beranggapan bahwa memakai mobil buatan bangsa sendiri adalah sikap gaya - gayaan , sementara memakai produk asing adalah pola hidup yang benar, wallahu'alam.
Sesungguhnya Anis Matta, Bibit Waluyo dan Bupati Wonogiri Danar Rahmanto telah keliru menyikapi langkah Jokowi yang memilih Esemka sebagai mobil dinasnya. Kebijakan Jokowi itu bukan sekedar ingin memakai mobil baru, tapi lebih dari itu merupakan pesan moral yang ingin disampaikannya kepada seluruh pejabat yang ada di negeri ini, agar meninggalkan pola hidup mewah dan menghargai karya anak bangsa sendiri, dipilihnya mobil Esemka sebagai mobil dinas juga menjadi promosi yang sangat berarti dan terbukti kini Esemka lebih dikenal dari masa sebelumnya.
Akan halnya produk ini masih terdapat kelemahan dan kekurangannya, maka menjadi kewajiban kita untuk memperbaikinya, bukan sebaliknya mencibir seperti yang dilakukan oleh Bibit dan Danar, sementara mobil mewah dengan merk dan memiliki sertifikat bukanlah jaminan keselamatan bagi pengemudi dan penumpangnya, justeru itu alangkah baiknya jika langkah walikota Surakarta ini diikuti oleh pejabat lainnya, sehingga ungkapan "Mencintai Produk Dalam Negeri bukan hanya sekedar penghias bibir belaka.
(Lihat foto: Jangan Cibirkan Esemka)
Artikel ini memiliki: 16 Komentar • Menarik +2