Ada hal yang menarik pasca peristiwa penyerangan Pesantren Syi’ah di Sampang, Madura Kamis (29/12/2011) yang lalu. Yaitu pendapat pucuk pimpinan dua ormas utama kelompok Sunni dan Syi’ah di Indonesia, keduanya sama-sama berpendapat ada aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, yang bermaksud mengadu domba pengikut Sunni dan Syi’ah. Hal itu sama-sama diungkapkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Agil Siraj, dan juga oleh Ketua Dewan Syura Ikatan Jama'ah Ahlulbait Indonesia (IJABI), organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.![]()
Menanggapi kejadian itu, KH Said Agil Siraj menduga bahwa ada skenario besar di balik aksi penyerangan terhadap pesantren penganut Syiah tersebut. Menurut Kiyai Said, mustahil peristiwa tersebut terjadi tanpa ada pihak yang sengaja membuatnya. Karena kerukunan hidup beragama antara warga Sunni dan Syi’ah di daerah itu sebelumnya baik-baik saja.
Tindakan penyerangan dan pembakaran pesantren Syiah itu diduga kuat dilakukan oleh sekelompok orang yang sudah diprovokasi oleh pihak tertentu dengan tujuan merusak kondisi damai tersebut. "Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia," ujar Kiyai Said di Jakarta, pada hari Sabtu (31/12/2011).
Selanjutnya Kiyai Said mengatakan, indikasi lain dari dugaan tersebut adalah latar belakang tindakan penyerangan pesantren Syi’ah di Sampang yang bermula dari perselisihan dua keluarga pimpinan dua pondok pesantren (ponpes) di daerah itu yang masih bersaudara. Menurut Kiyai Said, Sunni dan Syi’ah di Madura, baik di masa lampau maupun sekarang, sama sekali tidak pernah terlibat perselisihan.
"Artinya jelas, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan," papar Kiyai Said menegaskan.
"Artinya jelas, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan," papar KH Said Agil Siraj menegaskan.
Oleh karena itu Pemerintah dan aparat keamanan diminta untuk bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. Lebih lanjut lagi Kiyai Said meminta semua pihak agar bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. "Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari," ungkapnya.
Namun ketika ditanya tentang pihak lain yang diduga sengaja mengadu domba masyarakat di Madura, Kiyai Said enggan membeberkannya secara berterang. Dia hanya meminta Pemerintah dan aparat penegak hukum bekerja lebih keras agar aksi serupa tidak meluas dan terulang lagi. "Kalau saya yang mengatakan nanti dikatakan fitnah. Tapi kalau saya saja sudah tahu, polisi dan Pemerintah harusnya lebih tahu. Mereka harus bekerja lebih keras mengatasi permasalahan ini," pungkasnya.
Senada dengan sinyalemen Ketua Umum PBNU di atas, pucuk pimpinan ormas Syi’ah di Indonesia pun berpendapat sama, yakni ada aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, yang bermaksud mengadu domba pengikut Sunni dan Syi’ah. Dalam hal ini, Jalaluddin Rakhmat, selaku Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), yaitu organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia, menengarai adanya unsur politik di balik penyerangan pondok pesantren penganut Syi’ah tersebut. Dugaan itu, menurutnya, jelas tergambar di media-media sosial di internet. "Ada kepentingan politik, kita lihat di internet aliran politik mana yang berkepentingan. Kita lihat blog-blog juga begitu," cetus Jalaluddin kepada para wartawan di kantornya, di Jalan Kemang, Jakarta, pada hari Sabtu (31/12/2011).
Lebih lanjut lagi Jalaluddin mencurigai bahwa konflik Sunni-Syi’ah di Indonesia sengaja dimunculkan karena ada kepentingan politik yang berasal dari konflik di Timur Tengah.
"Saya ingin berikan beberapa contoh, konflik Syiah memuncak di Sampang, ada aufmerk action atau action getting, mengungkapkan perseteruan Syi’ah-Sunni, kenapa muncul belakangan ini di Timur Tengah, ada penjungkalan pimpinan yang berawal dari konflik seperti di Tunisia, Mesir, lalu ke Libya, dan sekarang Syria," paparnya.
Menurut Jalaluddin, konflik Sunni-Syi’ah sepanjang sejarahnya juga dipicu adanya kepentingan politik. Ia mencontohkan peristiwa konflik yang terjadi di Irak dimana Amerika Serikat ikut campur dalam pertikaian tersebut. "Kita bisa berguru dari orang-orang Sunni-Syi’ah di Irak, mereka sepanjang jalan di kota hidup damai. Sampai datang Amerika, pertentangan pun dimulai, dikirim satu kelompok khusus dari Arab Saudi di bawah pimpinan Zartowi, kemudian muncul pembunuhan Syi’ah. Mereka melakukan serangan-serangan, hampir akan terjadi kehancuran Irak, supaya Syi’ah tidak melakukan perlawanan," pungkasnya.
"Kita bisa berguru dari orang-orang Sunni-Syi’ah di Irak, mereka sepanjang jalan di kota hidup damai. Sampai datang Amerika, pertentangan pun dimulai, dikirim satu kelompok khusus dari Arab Saudi di bawah pimpinan Zartowi, kemudian muncul pembunuhan Syi’ah. Mereka melakukan serangan-serangan, hampir akan terjadi kehancuran Irak, supaya Syi’ah tidak melakukan perlawanan," ungkap Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jama'ah Ahlulbait Indonesia (IJABI), organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia.
Sebelumnya diberitakan, bahwa kompleks pesantren milik warga Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, telah diserang dan dibakar oleh sekelompok orang pada hari Kamis (29/12/2011) yang lalu. Dugaan yang muncul saat peristiwa terjadi, penyerangan tersebut dilakukan karena warga tidak terima dengan keberadaan kelompok Syi’ah di daerah itu. Sementara Mabes Polri berpendapat bahwa pembakaran tersebut dipicu oleh konflik keluarga antara pimpinan Ponpes Syi’ah, Kiyai Tajul Muluk, yang beseteru dengan saudara kandungnya sendiri bernama Kiyai Rois, pimpinan sebuah pondok pesantren Islam-Sunni di daerah tersebut.
Kini timbul sebuah pertanyaan yang masih belum terjawab. Kalau dugaan Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siraj, dan juga dugaan Ketua Umum IJABI, Jalaluddin Rakhmat, tersebut benar adanya, maka… Siapakah pihak yang berkepentingan mengadu domba kelompok Sunni dan Syi’ah di Indonesia?
(Lihat foto: Siapa Adu Domba Sunni Syi'ah?)
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Menarik +3