Interpelasi – Minimalisme Politik • penulis: Harlan Eryandi, 13 Desember 2011 16:55:38 • 32 KomentarMenarik +5

 

Provokasi untuk mengusung semangat bela koruptor di-inisiasi oleh dua orang politisi Golkar yaitu Aziz Syamsudin (Asyam) dan Bambang Soesatyo (Bangsat). Mereka sebagai vokalis Komisi III DPR mempersepsikan bahwa ada pelanggaran HAM dalam pengetatan syarat remisi dan pembebasan terpidana kasus korupsi. Ternyata wakil rakyat itu lebih mementingkan konco, ketimbang HAM rakyat yang sangat dirugikan oleh kelakuan bejat para koruptor. Manuver politik dengan memanfaatkan interpelasi sebagai hak konstitusional DPR, yang digulirkan oleh fraksi Golkar itu, menuai sinisme dan reaksi keras dari para penggiat perang melawan korupsi.

Diantaranya, Febri dari ICW dan Erry Riyana mantan pimpinan KPK mengecam keras upaya interpelasi "bela koruptor" itu, menurutnya : ini sangat berbahaya, apalagi diusulkan oleh politisi dari partai yang terganggu karena para kader partainya terjerat korupsi, jangan sampai model-model corruptor fight back juga terjadi disini. Hak konstitusional itu jangan sampai disalah gunakan untuk membela koruptor, yang semestinya digunakan untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah yang berakibat secara luas, sekali gus sebagai fungsi pengawasan agar kebijakan pemerintah tidak merugikan masyarakat banyak, tambah mereka.

Politisi yang punya akal sehat seharusnya menolak ide interpelasi itu, karena disana sama sekali tidak ada nuansa untuk membela kepentingan rakyat. Namun ternyata dukungan untuk menggulirkan hak interpelasi atas dikeluarkannya pengetatan syarat remisi tersebut, terus melebar, bahkan 7 fraksi dari 9 fraksi sudah mendukungnya. Mereka yang mendukung hak interpelasi adalah PPP, PDIP, PKS, Gerindra, PAN, Hanura dan Golkar sendiri sebagai inisiatornya. Hebat tenan, ini benar-benar interpelesetan.

Kalau kita mau menelisik lebih jauh lagi, tak heran memang hampir semua partai adalah sarang koruptor, sarang terbesarnya bandit itu adalah Golkar, itu sejak zaman orde baru sampai zaman orde gayus. Benar apa kata Jefferson "Jika masuk surga harus melalui partai politik, maka aku memilih untuk tidak masuk surga" (Thomas Jefferson).

Gambar dapet dari sini

 

(Lihat foto: Interpelasi – Minimalisme Politik)


Artikel ini memiliki: 32 KomentarMenarik +5

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »