Pendidikan adalah salah satu kunci kemajuan dan keberlangsungan sebuah bangsa, anda boleh sepakat boleh juga tidak. Apakah peran dan kontribusi pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang menjadikan sebuah bangsa tetap eksis ? Jawabnya : mungkin iya, karena sumber daya manusia (SDM) yang akan berperan dan berkiprah sebagai penggerak pembangunan bangsa, tentu lahir melalui pendidikan. Berbicara tentang kualitas, tentu Kang Botak Sakti dan Mas Nazil yang lebih pas.
Dalam hal pendidikan, so pasti tidak terlepas dari peran guru sebagai salah satu unsur penting yang ada didalamnya. Memang sih bukan satu-satunya elemen penentu, namun tidak berlebihan pula apabila dikatakan, bahwa guru adalah kunci utama pendidikan. Guru tentunya menempati posisi penting dan sentral dalam pendidikan. Berhasil dan tidaknya pendidikan sangat tergantung kepada para guru.
Banyak hal yang dapat kita ungkap, banyak pula aspek yang dapat kita soroti tentang guru, mulai dari masalah kesejahteraan sampai dengan masalah kualitas. Dari dulu sampai dengan saat ini, eksistensi guru selalu penuh dengan ironi yang memprihatinkan, imbalan pas-pasan dan terkadang harus terseok-seok menafkahi diri dan keluarganya, walaupun pemerintah sudah mengalokasikan anggaran negara untuk sektor pendidikan termasuk didalamnya sertifikasi guru yang masih amburadul.
Tak cukup rasanya hanya penghargaan batin saja buat para guru, penghargaan materi pun harus pula diperhatikan tentunya. Sehingga tak ada lagi cerita, guru yang jadi sopir angkot, guru jadi tukang ojek, guru merangkap buruh pabrik, bahkan jadi pemulung. Kapan mereka bisa berkonsentrasi terhadap perkembangan anak didiknya (menyiapkan generasi baru bangsa ini), kalau kondisinya masih tetap seperti itu.
Padahal tugas yang harus mereka emban sangatlah penting diantaranya, yaitu mengajarkan ilmu, membentuk karakter pribadi yang mulia, menanamkan optimisme, semangat juang dan cita-cita positif. Kapankah untuk menjadi guru, bukan lagi menjadi pilihan yang dilematis melainkan sebuah pilihan yang prestisius ? Selamat HARI GURU yah ..................
Inilah Contoh seorang Guru sebagai pilihan dilematis :
Samsul, Guru Nyambi Tukang Becak
sumber termasuk gambar : disini
MEDAN - Di tengah berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengangkat derajat guru, ternyata masih banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang bernasib kurang beruntung. Seorang guru hidup memperihatinkan dan bahkan harus bekerja menjadi tukang becak.
Mengajar bahasa Indonesia menjadi keseharian yang dilakoni Samsul Simbolon. Dia mengabdi di sebuah sekolah dasar negeri di desa Gunung Tua, Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Dengan tampilan sederhana, lengkap dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya, Samsul selalu bersemangat memberi pengetahuan kepada anak didiknya.
Namun siapa sangka, di balik semangatnya itu, ternyata Samsul masih hidup dalam keprihatinan.
Meski menyandang guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS), tak serta merta membuat hidup Samsul Simbolon mapan.
Ayah empat anak ini masih harus bekerja membanting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Seluruh gaji yang didapatnya sebagai guru telah habis digadaikan ke bank lantaran ingin mendapatkan pinjaman uang untuk biaya sekolah mereka.
Untuk mencari tambahan, selepas mengajar Samsul menyambi berprofesi sebagai tukang becak motor. Pendapatan dari profesi sampingannya ini cukup lumayan, dan mampu memenuhi kebutuhan makan keluarganya sehari-hari.
Samsul memang bisa dikatakan sosok guru sekaligus ayah yang bertanggung jawab kepada anak didik maupun keluarganya. Dia hanya berharap, nasib guru lebih diperhatikan karena pendapatan sebagai guru masih terlampau minim, bahkan tidak cukup untuk biaya sekolah anak-anak mereka.
(Ahmad Husein Lubis/Sindo TV/rfa).
(Lihat foto: Guru Nyambi Tukang Becak)
Artikel ini memiliki: 16 Komentar • Menarik +3