Perjuangan dari seorang manusia adalah perjuangan melawan lupa..." (Milan Kundera)
Pahlawan bagi saya seperti sebuah masa lalu. Ia ada hanya untuk dirayakan sesaat kemudian dilupakan lagi.Begitu seterusnya. Setidaknya itu yang saya pikirkan ketika suatu pagi yang ranum, saya berdiri di depan sebuah tugu kecil yang bersanding dengan sebuah bak sampah, tempat para serdadu Belanda menembak mati seorang pejuang lokal di tanah tumpah darah saya: Cianjur.
Apa yang dipikirkan oleh si pembuat bak sampah itu? Atau apa yang dipikirkan oleh orang-orang Cianjur yang tiap hari melewati tugu kusam itu? Sepertinya tak ada. Mungkin bagi mereka, tugu itu tak lebih hanya seonggok batu bata laiknya trotoar, jalan aspal dan ketidakingintahuan kronis yang mereka idap sepanjang sejarah hidup.
Ya memang tak ada yang ingin tahu. Termasuk sekelompok anak-anak muda yang saya temui tengah berkumpul di sebuah gang yang tak jauh dari tugu itu berada. Mereka hanya tersenyum. Menggeleng dan sebagian terlalu asyik dengan telepon-telepon genggam canggih mereka, berkomunikasi dengan seorang teman yang mungkin jaraknya hanya sepelemparan batu.
Saya ingat sebuah adegan dalam Lion of the Desert, ketika pejuang bangsa Libya, Omar Mochtar akan menemui kematian di tiang gantung. Graziani,jenderal Italia yang bengis, mengejeknya dengan sebuah pertanyaan: " Apa yang akan kau lakukan dengan melawan tank-tank dan senjata-senjata hebat kami?" Mochtar menjawabnya dalam nada lirih namun tegas: "Yang paling penting kami telah melawan! Yang paling penting kami telah membuktikan kepada generasi setelah kami bahwa kami bukan bangsa pengecut dan melupakan warisan leluhur kami!"
Hari ini di depan tugu kusam itu, saya ingin kembali bertanya kepada diri saya dan kepada anda semua: Bukankah hari-hari ini kita justru yang telah melupakan mereka? Bukankah hari-hari ini kita selalu memperlihatkan sikap pengecut, dengan bersikap tak mau tahu tentang apa yang terjadi dengan leluhur kita? Persis seperti kata seorang pujangga Prancis: "Sejarah selalu berulang untuk dilupakan oleh seorang yang tak tahu malu..."(hendijo).
Artikel ini memiliki: 11 Komentar • Keren +7