KAPITALIS MENGINTIP, PSSI TAK SIAP • penulis: alfaqirilmi, 24 Oktober 2011 16:21:08 • 1 KomentarMenarik +1

Dunia olahraga di pelosok bumi, sudah menjadi industri. Salah satu cabang olahraga yang selalu memiliki daya tarik luar biasa, adalah sepak bola. PSSI yang kini mengelola cabang terpopuler di kolong langit ini, masih 'malu-malu kucing' atau justru tidak menguasai cara-cara menjual dengan value yang sebenarnya.

Pernah ditulis di majalah MATARI, majalah advertising itu pernah memberi analisis risetnya, bahwa PSSI dalam menggelar Liga Indonesia saat diriset 2006, bahwa nilai value kompetisi tesebut antara Rp 300 sampai 400 miliar. Artinya, jika manajemen PSSI jeli melihat potensi bisnis yang terkandung dalam kompetisi tersebut, mampu meraup dana segar sebesar nilai tersebut.

Namun, analisis tersebut hanya di atas kertas. Karena, jika melihat kenyataan - dengan mengukur sistem sosial, budaya serta aspek yang terkait dengan budaya bisnis di Indonesia, sepertinya semua yang terkait dengan dunia sepak bola belum siap, belum mencapai stabilitas yang mapan.

Contohnya, ketika Liga Indonesia 1994-95 digelar pertama kalinya, hanya dihargai Rp 5 miliar oleh Dunhill dan Kansas. Tahun 1999 ketika pasca kekacauan di republik ini, Bank Mandiri berani menjadi sponsor utama dengan nilai Rp 7,5 miliar, dan puncaknya sampai Bank Mandiri berhenti - nilai yang digelontorkan mencapai Rp 25 miliar pada musim 2003-04.

Selanjutnya, saat masuk sponsor utama PT Djarum musim 2005 juga dengan nilai yang sama yaitu 25 miliar, dan musim terakhirnya 2010-2011 PT Djarum sudah menggelontorkan nilanya mencapai Rp 37,5 miliar. Artinya, kalau musim 2011-2012 ada yang mau masuk ke kompetisi liga profesional - nilainya kisarannya tak bisa lebih dari Rp 50 miliar.

Sponsorship kompetisi tertinggi itulah yang kini sedang digadang-gadang, oleh rezim Djohar Arifin untuk mencoba menawarkan kepada para sponsor di luar rokok. Namun, sampai hari ini, ternyata marketing PSSI belum bisa mendapatkan sponsorship yang diinginkan, walaupun telah menyeleksi agensi yang kini barpartner dengan PSSI telah terpilih agensi bernama Grup MNC.

Hanya saja, setelah PSSI punya agensi Grup M sebagai pemenang, justru tidak mampu menjanjikan sponsor yang diinginkan PSSI - dimana sudah gembar-gembor untuk meraup dana segara dari Coca Cola. Nyatanya, PSSI sampai hari ini wira wiri menjajakan program andalannya, kembali ke PT Djarum dengan nilai Rp 200 miliar jika ingin kembali terlibat.

Idealnya, kompetisi tertinggi Indonesia saat ini, memang bisa dinilai tak akan lebih dari Rp 100 miliar. Bahkan, diprediksi antara Rp 50 sampai 75 miliar saja sudah sulit untuk mendapatkannya. Mengapa? Karena, value yang di atas kertas, berbeda dengan kenyataan yang ada dalam atsmosfir bisnis sponsorship di wilayah Indonesia.

HAK SIAR yang LAYAK

Jika mengacu kepada nilai kontrak ANTV selama 10 tahun, dengan nilai totalnya Rp 100 miliar, yang berarti setiap tahunnya dihargai Rp 10 miliar. Sepertinya ANTV memiliki alasan, mengapa nilainya hanya sebesar itu.

Hitung-hitungan pemasukan ANTV untuk satu pertandingan. Jika televisi mensiarkan di pukul 15.30, harga rata-2 spot commercial adalah tidak kurang dari Rp 15 juta per spot (satu spot iklan 30 detik). Jika, sebuah televisi memasukan lima menit untuk preview pertandingan, berarti ada 10 spot iklan commercial jadi sudah ada Rp 150 juta. Sedangkan, di jam istirahat babak pertama, televisi menjual 10 menit waktunya untuk commercial berarti ada 20 spot maka jumlahnya Rp 300 juta, dan kalau setelah pertandingan selesai, televisi kembali menjual lima menit spot iklannya maka total mendapat Rp 150 juta. Artinya, satu pertandingan pihak televisi meraih iklan grand total Rp 600 juta.

Sementara itu,biaya produksi plus satelit untuk siaran langsung, ANTV mengeluarkan anggaran sekitar Rp 50-75 juta. Artinya, televisi akan meraih untung bersih Rp 500 juta.

Jika, televisi berani siarkan di primetime (jam tayang paling bergengsi antara pukul 17.30 - pukul 22.30), maka jika pertandingan pukul 19.00, nilai spot commercialnya Rp 40 juta bahkan ada yang Rp 50 juta per spot iklan. Artinya kalau harga spot iklannya Rp 40 juta (dikalikan 20 menit - sama dengan 40 spot iklan), maka total televisi akan meraih Rp 1, 6 miliar per pertandingan.

Jika, perhitungannya, 18 tim ikut kompetisi, maka ada sekitar 300 pertandingan yang bisa dilakukan secara siaran langsung. Maka, sebuah televisi bisa meraih dana segar sekitar 300 miliar untuk satu musim. Hitungnya kotor, jika televisi hanya meraih 50% dari target yang diraih, maka ANTV setiap musim masih mampu meraup dana Rp 150 miliar.

Prediksi seperti inilah yang kira-kira sangat menggiurkan bagi siapa saja, termasuk MNC Grup - mengapa ngotot dan berani ambil hak siar liga Indonesia dengan nilai Rp 100 miliar per musim. Selain MNC Grup, punya kekuatan channel-nya juga MNC Grup mestinya sudah bisa menghitung laba ruginya.

Bahkan, ketika ribut-ribut yang membuat ANTV berang dan murka, justru berani menantang PSSI untuk bisa membeli hak siarnya sebesar Rp 115 miliar, agar tetap berada di ANTV.

BIAYA PRODUKSI PSSI

Jika PSSI jeli dan komunikatif, seharunya lembaga tersebut berani umumkan berapa jumlah anggaran produksi yang seharusnya dikeluarkan oleh PSSI setiap tahun dalam mengolah dan mengeksekusi program-programnya.

saya, coba mem-breakdown berapa yang seharusnya PSSI harus wajib keluarkan dana segara untuk melaksanakan semua program.

Untuk tim nasional senior, U-23, U-21, U-19, U-17 dan U-15 baik melakukan seleksi, talent scouting, pelatnas, ujicoba dan uang saku pemainnya, diperkirakan PSSI harus mengeluarkan dana sekitar Rp 70 miliar. Ini sudah termasuk membangun tim nasional Futsal dan sepak bola Wanita.

Untuk memutar roda kompetisi profesional dan amatir se-Indonesia, sekaligus memutar turnamen nasional - seperti Piala Indonesia, dan juga memutar roda kompetisi Divisi Utama, Divisi I, II dan III - diperkirakan PSSI harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 35 miliar. Sudah termasuk menggulirkan kompetisi Futsal dan Wanita.

Sedangkan untuk membangun pembinaan, workshop dan kursus-2 pengawas pertandingan, wasit dan pelatih-2 yang ingin memiliki serifikat, serta menganggarkan wadah organisasi PSSI yaitu membayar SDM-nya bisa mengeluarkan dana sekitar Rp 15 miliar.

Total, PSSI wajib memiliki anggaran setiap tahun sebesar Rp 120 miliar.

DUA HAL TERPISAH

lembaga sepak bola, wajib mengikuti aturan main yang bernama Sports Law dan Entertaint Law. Jika, Sports Law wajib mengikuti semua aturan dan statuta FIFA dan AFC yang diterjemahkan ke dalam Statuta PSSI. Sedangkan, Entertaint Law, lembaganya wajib inpendent yang didirikan oleh PSSI. Yang tugasnya meraih dana sebanyak mungkin, agar bisa menyusui semua kegiatan PSSI, khususnya untuk persiapan tim nasional.

Jika PSSI sebagai Sports Law, maka dana yang aling besar bisa diraih dari partnership Appereal. Selama ini, di sepak bola, ada sekitar 4 sampai 5 produk yang memiliki tradisi menjadi partnership tim nasional negara-negara se dunia.

Biasanya, yang dominan adalah ADIDAS - dimana, negara-negara maju yang punya prestasi di level World Cup, EURO Cup dan Asian Cup sudah terbiasa kontrak jangka panjang antara 5 sampai 10 tahun. Disusul NIKE, DIADORA, PUMA dan MITRE. Kalau di Indonesia, ada dua produk dalam negeri yang selalu berkompetisi, yaitu SPECT dan LEAGUE. Keduanya ingin eksis di sepak bola nasional saat ini.

Salah satu kelemahan sistem bisnis di organisasi sepak bola nasional - PSSI dewasa ini, yaitu lemah dalam negosiasi nilai kontrak kerjasamanya, akibat manajemen PSSI tak memiliki marketing dan programmer yang handal dan akurat, sehingga programnya jarang yang bisa terukur dan sangat menguntungkan.

Jika memiliki program-programyang ciamik dan sangat terukur jadwalnya, sebetulnya setiap produk appereal tidak hanya memberi barter item-item produk yang diinginkan tim nasional Indonesia, melainkan juga memberi anggran uang yang menggiurkan. Misalkan, tim nasional Indonesia ujicoba dengan negara lain, sesama produk NIKE, maka semua biaya produksinya dibiayai oleh NIKE, sedangkan PSSI bisa mendapatkan uang fresh dari income tiket penonton.

Sedangkan Entertaint Law, bisa meraih dana yang sangat menggiurkan, jika mengikuti rambu-rambu etika, sekaligus nilai tawar yang tidak seenak jidatnya. Jika, lembaga Entertaint Law menawarkan Liga Indonesia sebesar Rp 50 miliar, Piala Indonesia Rp 20 miliar, Hak Siar sebesar Rp 100 miliar, Suratin Cup Rp 5 miliar, Haornas Cup Rp 5 miliar, turnamen antar negara Rp 20 miliar. Maka, lembaga Entertaint Law sudah meraih total Rp 200 miliar. Maka jika setiap klub dapat saham sesuai yang sudah digariskan dari angka Rp170 miliar (hak siar, liga Indonesia dan piala Indonesia), maka Entertaint Law bisa subsidi kebutuhan PSSI dalam membangun pembinaan dan tim nasional.

Analisis dan prediksi seperti inilah yang seharusnya dijadikan patokan dan referensi para pengelola PSSI dalam membangun program sekalgus membangun konsep bisnisnya.

Untuk bisa mendapatkan dana segara yang ratusan miliar saat ini, seharusnya PSSI tidak perlu merobohkan semua instrumen yang sudah ada, cukup hanya memperbaiki semua elemen yang selama dihuni regim Nurdin Halid, benar-benar bobrok - misalnya perbaikan wasit, pengawas pertandingan - serta membangun pembinaan klub-2 amatir agar bisa kembali memutar roda kompetisi seperti dulu lagi, agar pembinaan berjenjang dalam membangun prestasi tim nasional, berada di trek yang sesungguhnya.

Namun, kalau masih memaksakan kehendak individu-individu para pengelolanya, akibat orang-orang di luar PSSI ikut terlibat mengatur organisasi PSSI, maka perjalanan prestasi masih akan tetap 'jalan di tempat'. Dampaknya, PSSI juga akan keuslitan mendapat dana segar.

(Lihat foto: KAPITALIS MENGINTIP, PSSI TAK SIAP)


Artikel ini memiliki: 1 KomentarMenarik +1

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »