ARIFIN PANIGORO TERBIASA MENG-AKUSISI • penulis: alfaqirilmi, 24 Oktober 2011 17:13:03 • 0 KomentarMenarik +1

Dalam bisnis yang saat ini sedang semakin berkembang, dalam sosok Arifin Panigoro adalah terbiasa membeli perusahaan yang collapse atau insolvent atau yang sekarang mendekati kebangkrutan. Medco, perusahaan milik Pipin, panggilan akrabnya Arifin Panigoro itu, semakin gagah dan macho - setiap membeli perusahaan minyak yang sedang sekarat bangkrut.

Dalam dunia bisnis seperti Medco, yang sejak awal bergerak dalam dunia pertambangan dan perminyakan, sepertinya sudah sangat fasis jika ada tawaran untuk meng-akusisi sebuah lembaga pertambangan atau perminyakan di belahan dunia mana pun. Arifin Panigoro itu mirip seperti Roman Abromovic, pemilik Chelsea FC - klub elit Inggris dalam 10 tahun terakhir ini.

Untuk urusan jual beli perusahaan minyak bagi Arifin, sudah tidak perlu diajarin atau dikasih ilmu. Karena, masalah akusisi bagi Pipin sudah sangat piawai dan sangat lihai. Nyaris, nama Arifin Panigoro memang sudah mendunia dalam wilayah peminyakan. Hidupnya sudah keliling dunia. Minimal, Negara-negara penghasil minyak di dunia sudah terbiasa dikunjungi rombongan Arifin Panigoro.

Dalam dunia sepak bola, Arifin Panigoro juga bukan orang 'kemarin sore'. Arifin adalah manusia yang gila bola sebagai penonton. Nyaris semua event raksasa EURO atau pun World Cup, tidak pernah absen. Bahkan, kalau Pipin nonton final selalu bersama rombongan gila-gilaan. Beda-beda tipis dengan rombongan Nurdin Halid yang sempat ke Afrika Selatan di World Cup Juli lalu. Bedanya, Arifin nonton bola memakai uang dari keuntungan bisnisnya, sedangkan Nurdin Halid minta uang ke Nirwan Bakrie...hehehehhe

Sayangnya, Arifin Panigoro saat menggagas Indonesia Primer League (IPL) yang kini sedang ditunggu-tunggu komunitas sepak bola nasional, sepertinya 'Salah Langka, Salah Startegi dan Salah Konsep'. Dan, sepertinya terlalu percaya dengan Konsultan FIFA (yang digembar-gembor), serta salah mendapatkan tim suksesnya sendiri.

Tim Sukses Arifin Panigoro, tidak terlalu paham sepak bola nasional. Mereka, rata-rata tidak memahami organisasi sepak bola nasional PSSI, dan sudah pasti tidak paham dan mengetahui seluk beluk organisasi FIFA maupun AFC. Termasuk, politik dan intriknya dari sepak bola dunia. Padahal FIFA itu adalah cermin dari wajah sepak bola dunia saat ini - tentunya beda-beda tipis dengan wajah sepak bola Indonesia.

Jika tim sukses Arifin Panigoro, memiliki pemahaman sepak bola nasional dari segala aspeknya, dari sisi sosial, budaya dan kebiasaan serta tradisi dari kota-kota di Tanah Air (termasuk sifat antropologi dan geografisnya). Maka, sebetulnya tidak perlu dan tidak butuh konsultan dari FIFA atau AFC.

Singkatnya, sebetulnya begini : Arifin Panigoro memang punya ambisi dan punya niat untuk membangun sepak bola modern. Untuk mencetak sepak bola modern, dibutuhkan manusia-manusia profesional yang paham filosofi dan organisasi sepak bola. Untuk bisa mendapatkan manusia-manusia seperti itu, diperlukan workshop maupun mengundang semua jaringan elemen sepak bola nasional yang peduli sepak bola.

Sayangnya, Arifin Panigoro tidak maksimal mendapatkan manusia-manusia profesional di dunia sepak bola nasional. Hanya mengandalkan emosi dan semangat yang menggebu-gebu, tanpa mampu membangun wadah yang mengetahui seluk beluk sepak bola nasional. Maka, tim sukses Arifin Panigoro mencoba membangun image - dengan mengundang konsultan FIFA. Padahal, sebetulnya untuk membangun sepak bola modern - tidak perlu memanggil konsultan 'bule' atau atau konsultan asing, jika tim suksesnya memahami filosofi dan organisasi sepak bola nasional.

Menurut Cocomeo News - konsep yang ditawarkan tim sukses Pipin ini sangat fatal, dan akhirnya kasihan Arifin Panigoro. Mereka, mencoba mengikuti gaya dan karakter serta kharismatik Arifin Panigoro yang terbiasa meng-akusisi setiap perusahaan minyak yang mau bangkrut. Namun, di sepak bola sangat berbeda, karena memiliki banyak elemen yang ada di dalam sepak bola. Hal seperti inilah yang tidak dihitung atau diantisipasi tim suksesnya Arifin.

Misi dan visi membangun lembaga sepak bola yang serba baru dan serba modern. Salah satunya harus membangun image baru, dan membuang masalah yang paling akut dalam sepak bola. Misalnya, Cocomeo News sudah memberi dua saran kepada Arifin Panigoro. Bahwa, lebih nyaman membangun dan membuat klub baru (New GALATAMA), ketimbang meng-akusisi tim lama, yang terlalu ruwet masalahnya.

Misalnya, Jika Indonesia Primer League - masih ngotot menginvestasi Persebaya Surabaya, Persis Solo, Persija Jakarta, Persib Bandung atau PSIS Semarang. Mampukah, IPL menyelesaikan masalah 'klasik' peninggalan sepak bola 'primitif' sejak berwadah Perserikatan hingga sekarang di Indonesia Super League?

Memang nantinya, wadah sangat anyar gress - IPL (bukan lagi ISL). Apakah polisi dan lembaga IPL mampu mengantisipasi perang suporter yang sudah sangat "BebuyutaN"? antara Persib vs Persija, atau Persebaya vs Persis Solo, atau antara Persis Solo vs PSIS Semarang. Bahkan, luka lama di perserikatan antara Persebaya vs PSIS yang tidak tertutup kemungkinan akan tersulut kembali.

Maksud Cocomeo News sebetulnya itu. Bahwa, dari awal harusnya nama-nama 'primitif' seperti Persija, Persib, Persipura, PSIS, PSMS atau Persis adalah nama-nama sakral sebagai alat perjuangan saat republik ini lahir dan akan merdeka. Maka, alangkah baiknya, nama-nama tersebut tetap dipelihara sebagai 'heritage' sepak bola nasional. Namun, untuk membangun sepak bola modern yang katanya bisa profesional - wajib hukumnya menggunakan nama-nama yang baru.

Alasannya Pertama : Dengan nama baru akan mengubur perang saudara dari Sabang Sampai Merauke - sebagai Bhineka Tunggal Ika', yang selama ini tak pernah bisa diselesaikan oleh Negara atau Polisi RI, bahkan SBY sekali pun.

Alasan Kedua : Mindset (cara pikir) masyarakat bola dari semua elemen ikut dirubah wawasannya. Bahwa sepak bola modern itu serba wah - serba luar biasa - glamour. Sementara, masyarakat kita itu masih phobia dan kagetan (maaf kalau salah).

Alasan Ketiga : Jika tim sukses dan konsultan FIFA sebagai bagian dari Arifin Panigoro, masih menggunakan nama-nama 'primitif' dalam membangun kompetisi baru di sepak bola nasional. Maka, kemungkinan besar, akan mundur dan akan melahirkan masalah terus menerus, dari sisa peninggalan sepak bola kuno (ISL).

Alasan Keempat : Mengakusisi perusahaan minyak dan sapak bola sangat berbeda filosofinya. Cara, gaya dan karakternya tidak boleh disamakan atau disamaratakan. Sepak bola sangat unik, apalagi sepak bola Indonesia - aneh tapi nyata. Sedangkan meng-akusisi lembaga minyak tak banyak masalah.

Alasan Kelima : Jangan sekali-kali tetap 'ndableg' membangun sendiri sepak bola versi Arifin Panigoro. Saatnya, semuanya legowo jika ingin masuk 100% dalam sepak bola nasional. Atau IPL hanya sebagai angan-angan. Padahal, awalnya gagasan sangat menggiurkan.

(Lihat foto: ARIFIN PANIGORO TERBIASA MENG-AKUSISI)


Artikel ini memiliki: 0 KomentarMenarik +1

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »