Menyesal Terdampar di Negeri Pecundang • penulis: jangdesur, 21 Oktober 2011 10:27:38 • 3 KomentarMenarik +3

Berawal dari kelakar seorang teman saat istirahat usai makan siang, ‘kalau bukan karena pekerjaan, malas betul mengikuti drama perubahan komposisi kabinet yang bergulir sejak beberapa pekan ini'

Dia terang-terangan mengaku bosan dengan rebak riuh ritual bagi-bagi ‘bancakan', berkedok menata kembali struktur kabinet untuk meningkatkan kinerja pemerintah di tiga tahun terakhir kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yuhdoyono, yang eksekusinya diulur-ulur sesuai dengan ganyanya yang terlampau penuh pertimbangan.

Namun di satu sisi, tak kunjung tunainya proses ini terkesan mengelabuhi publik untuk sibuk menonton televisi, membaca koran, dan melupakan sejenak susahnya mencari keadilan, mencari pekerjaan, bahkan mencari buah segar atau garam hasil jerih payah petani lokal di negeri ini.

Ya. Penulis sependapat dengan kawan tersebut, untuk tidak perlu membahas panjang lebar soal reshuffle kabinet. Mungkin, bagi pemilik negeri ini-terlalu rendah jika penulis menyebut penguasa-lebih penting memperkuat dukungan dari kroni-kroni koalisi dengan menukar-nukar kursi menteri, ketimbang membahas tenaga kerja wanita yang kabarnya akan ada lagi yang dipancung oleh pemerintah Arab Saudi, usai Hari Raya Idul Adha mendatang.

Mungkin juga tak terlalu penting menanggapi keluhan buruh Freport yang meminta belas kasihan karena sumber daya tambang yang "dirampok" dari tanah Papua sudah tak lagi sebanding dengan keringat yang mereka cucurkan.

Kendati begitu, masih ada yang sedikit mengganjal ihwal kenapa Presiden mendepak menteri yang menentang impor garam serta ikan dan malah memuja-muja menteri yang konon berprestasi di bidang ekonomi kreatif. Padahal dalam pandangan sejumlah pengamat, kebijakan menteri ini tidak lebih dari menambah kesengsaraan petani, buah lokal salah satunya.

Dengan kebijakan impor besar-besaran, komoditas pertanian dan produk industri kecil secara otomatis terjungkal. Dihajar produk luar, umpamanya saja China, yang harganya jauh lebih kompetitif dibanding produk lokal yang harus terlebih dahulu menghitung mahalnya bahan baku-pupuk bagi petani-sebelum akhirnya diketahui nilai jual barang tersebut.

Terlepas dari persoalan pasar bebas yang menuntut kreatifitas anak negeri untuk berinovasi, kebijakan ini menurut hemat penulis cukup menguras energi petani. Dimana mereka harus berjuang sendiri, nyaris tanpa dukungan pemerintah.

Karena itulah, tanpa bermaksud mengelu-elukan sang menteri demisioner, dalam hal menentang rencana impor 900 ribu ton garam ke tanah air, sikapnya patut diapresiasi. Paling tidak sebagai pejabat negara dia lebih peduli dengan rakyat kecil yang setia membayar pajak, tak banyak menuntut, dan enggak ada yang bisa mereka korupsi.

Selain jika ditinjau dari segi demografis, sangat memalukan menjadi negara kepulauan yang wilayah lautnya lebih luas dari daratan, tapi garam yang berasal dari air laut sekalipun, harus mendatangkan dari negara lain. Menyedihkan.

Sudahkah Indonesia merdeka?

Jawabannya ada di hati dan renungan kita masing-masing. Sudahkah kita terbebas dari pengaruh kolonialisme berbau pinjaman modal dan sudah pulakah kita merdeka dari pesanan negara kuat? Bagaimana sehasta demi sehasta tanah Nuswantara direbut tetangga lantaran kita seperti tak lagi membutuhkannya. Pemerintah juga bagai tutup mata saat masyarakat perbatasan mengancam akan mengibarkan bendara negara lain, jika akses jalan ke kampung mereka tetap lebih buruk dibanding jalan setapak menuju tempat perburuan babi hutan.

Entahlah. Barangkali, tanpa menipiskan penghormatan kepada para pejuang yang sudah mempersembahkan peluh, darah, bahkan nyawa mereka untuk tercapainya kemerdekaan, patutkah kita bergumam lirih menyampaikan penyesesalan terdampar di negeri pecundang. Semoga saja tidak.

Mari kita renungkan lirik lagu Virgiawan Listanto (Iwan Fals)

Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu

Angin genit mengelus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma

Pulau pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu dan jangan malu
Tunjukkan pada dunia
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji

Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan

 

(Lihat foto: Menyesal Terdampar di Negeri Pecundang)


Artikel ini memiliki: 3 KomentarMenarik +3

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »