Pelajar, Kekerasan, dan Budaya Maskulinitas yang Sakit • penulis: Kaboel, 23 September 2011 00:43:59 • 12 KomentarMenarik +4

Menurut essai karya Anais Nin 'In Favor of The Sensitive Man', ketertarikan para perempuan akan tipe lelaki ideal kini telah mengalami transisi. Perempuan tidak lagi mengidamkan lelaki konvensional yang mencirikan maskulinitas: tampilan fisik berotot, penuh arogansi, serta obsesif akan kuasa. Namun, sebaliknya, para perempuan pada masa sekarang banyak menginginkan lelaki yang 'sensitif', penuh perasaan, serta berpihak pada nilai kemanusiaan dan bukan ambisi serta terobsesi akan kekuatan. Ketika menjalin sebuah hubungan, tidak akan ada yang satu mendominasi yang lain atau sebaliknya akibat timpangnya relasi kuasa.

Essai ini menarik perhatian saya terutama saat mendengar kasus kisruh tawuran siswa SMA 6 yang berbuntut pemukulan serta aksi kekerasan terhadap beberapa fotografer dari media cetak, televisi, serta online yang mengakibatkan luka cukup serius. Saya kemudian melayangkan ingatan ke sepuluh tahun lalu, ketika pertama kali menginjakkan kaki menjadi salah satu siswa SMA 70, sekolah yang berada tepat di belakang SMA 6 dan menjadi musuh bebuyutan sekolah ini dalam hal tawuran. Memasuki sekolah dengan harapan bisa belajar banyak hal demi menembus perguruan tinggi idaman serta menemukan romansa  dari para siswa lelaki yang mampu merealisasikan fantasi novel romansa yang sering saya baca.

Saat pertama kali masuk ke SMA 70, saya sudah mendengar kalau sekolah ini mempunyai tradisi senioritas yang cukup parah. Adanya penghormatan yang berlebihan berujung pada ketakutan atas kakak kelas serta intimidasi menjadi salah satu bukti bahwa tradisi itu memang masih dijalankan. Namun, yang paling membuat saya kaget adalah proses inisiasi yang juga berlangsung dengan metode militarisme. Tidak hanya serangan verbal seperti bentakan tetapi serangan fisik juga seringkali  dilakukan.

Banyak siswa lelaki menjadi korbannya. Mereka dikumpulkan di suatu tempat untuk kemudian 'dikerjai' oleh para senior. Sementara siswa perempuan lebih sering diserang secara verbal oleh para senior perempuan mereka. Misalnya saja, disemprot di depan muka, dikatai dengan cacian hina dina, hanya karena membawa pinset, berkaoskaki selutut, ataupun mengenakan rok diatas lutut. Saya pernah menjadi salah satu korbannya. Saya disuruh menggulung kaoskaki berbentuk donat hingga pulang sekolah setelah disemprot tepat di muka.

Bagi sebagian besar siswa yang mengenal sekolah ini sebagai sekolah 'gaul', kegiatan gencet menggencet serta proses inisiasi ala militarisme itu dianggap sebagai sebuah hal yang keren. Terlebih ketika mereka dihadapkan pada fakta, tradisi tawuran antar sekolah di daerah Blok M menjadi sebuah ajang pertunjukkan kekuatan, kekuasaan, yang juga merupakan gejala budaya maskulinitas yang sakit, tak terhindarkan. Para junior lelaki 'dididik' dan 'ditempa' oleh senior mereka untuk bisa memiliki mental baja dan berani 'melawan'. Melawan siapa? Melawan sekolah lain saat tawuran. Kalau berhasil, ya keren. Begitu pemikiran para siswa.

Dulu, salah satu senior yang saya taksir setengah mati juga termasuk ke dalam mereka yang senang menggencet dan 'mendidik' juniornya. Biasanya siswa yang 'menonjol' sering dijadikan sasaran. Menonjol di sini merujuk ke pengertian fisik serta finansial. Mereka yang tampan, mereka yang terlihat kuat, mereka yang punya duit banyak. Namun, dari bincang-bincang yang saya dengar, kadang yang lemah pun dijadikan sasaran tindakan 'bully' oleh para senior. Pernah seorang teman lelaki asmanya sampai kumat karena proses ospek tersebut. Tak heran jika beberapa siswa lelaki yang tak tahan dengan budaya kekerasan itu memilih hengkang dari sekolah ini dibalik 'kecakapan' sekolah ini mencetak produk unggul untuk perguruan tinggi negeri favorit nasional.

Rasa suka serta hormat saya terhadap sang senior perlahan berubah menjadi sebuah penolakan. Membayangkan lelaki itu bermain basket dan berprestasi, muka saya bisa bersemu merah. Tetapi membayangkan lelaki tersebut -meski ganteng setengah mati- berlari di barisan depan membawa batu, golok, ikat pinggang duri, ataupun samurai untuk membacok siswa lainnya demi sebuah pertunjukkan kekuatan? Saya langsung ilfil. Apa hebatnya. Kuat dan berkuasa? Dunia sudah penuh dengan ajang adu kekuatan dan kekuasaan yang berujung pada penindasan terhadap mereka yang lemah dan para siswa perempuan muak dengan hal itu. Saat itu saya mikir bisa-bisa saya yang jadi korban berikutnya.

Keren? Melukai orang lain itu sebuah tindakan yang keren? Bodoh sekali berpikiran seperti itu. Jika ingin keren, lebih baik gunakan kelebihan energi untuk melakukan kegiatan sosial atau ikut kegiatan pecinta alam, supaya tahu masih banyak hal penting di Indonesia membutuhkan bantuan dari mereka yang memang memiliki energi berlebih. Indonesia terlalu berharga hanya untuk diacuhkan demi kepentingan tawuran serta pertikaian. Pemulung, pengemis, pengamen yang semakin banyak berkelibatan di jalan, remaja-remaja putus sekolah akibat mahalnya biaya pendidikan yang membutuhkan bantuan, sampai gua-gua cantik ataupun taman nasional yang bisa dieksplorasi bagi pemuda pemudi yang senang tantangan dan petualangan.

Siswa perempuan juga akan bertekuk lutut dengan siswa lelaki yang terang-terangan berani dan mampu menerapkan nilai-nilai kemanusiaan secara bersahaja. Tanpa adu kekuatan, tanpa tawuran, tanpa upaya menunjukkan bahwa mereka 'berkuasa'.

Budaya kekerasan yang sudah terlanjur tercipta di Indonesia, dan sangat disayangkan masuk ke dalam lingkup sekolah, merupakan suatu contoh dari tidak sehatnya perilaku obsesif akan kekuatan serta kekuasaan yang merupakan representasi dari budaya maskulinitas yang sakit. Lingkaran ini mesti disadari oleh para pemangku dan mereka yang bergerak di bidang pendidikan untuk kemudian memberikan pemahaman secara terus menerus untuk memutus rantai serta bibit kekerasan yang dibawa dari sekolah.

Saya yakin 'kekerasan' tidak tercipta begitu saja melainkan tumbuh melalui pola pikir yang bermuasal dari internalisasi nilai yang salah dari para siswa akan budaya tersebut. Sama halnya seperti konflik yang sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Ketika ada pemicu, pertikaian, dalam hal ini tawuran, lebih mudah untuk terjadi karena lemahnya pemahaman nilai-nilai kemanusiaan dalam diri siswa yang berguna menjadi benteng bagi siswa sendiri.  Siswa hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaknya faktor pemicu budaya tawuran dan kekerasan di sekolah. Dalam kasus siswa SMA 6, meski telah berbuat kekerasan, kesalahan terbesar bukan berada di pundak siswa, melainkan mereka yang membina sistem baik nilai ataupun pendidikan.

Sistem nilai serta pendidikan mesti dievaluasi kembali terutama bagi penyelenggara ataupun partisipan pendidikan yang berada dalam lingkup pergaulan sekolah di kawasan rentan tawuran. Para guru, kepala sekolah, yang juga didukung oleh orangtua pelajar mesti berupaya keras mengupayakan  hal ini. Mengutip Komaruddin Hidayat dalam Wisdom of Life, agar terwujud pendidikan untuk manusia bukan manusia untuk pendidikan. Dengan demikian, sekolah kiranya bisa benar-benar mencetak pribadi-pribadi yang tidak hanya berprestasi tetapi juga memiliki seperti yang diungkapkan dalam buku Teori-Teori Kebudayaan sebagai pribadi fajar budi dan bening nuraninya. 

 

 

Sumber: Di sini

(Lihat foto: Pelajar, Kekerasan, dan Budaya Maskulinitas yang Sakit)


Artikel ini memiliki: 12 KomentarMenarik +4

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »