Diky Candra : Catatan Sang Bayangan • penulis: alfaqirilmi, 23 September 2011 09:09:05 • 0 KomentarMenarik +4

Catatan Sang Bayangan by Diky Candra

Para Tokoh Garut datang ke Gubernur minta supaya jangan ada pengangkatan Wakil Bupati baru. Tapi yang lucu Bupatinya ter kesan malah setuju. Inimah benar-2 dagelan. Memang tepat sekali tidak perlu ada Wakil Bupati, biar kalau ada kahayang lebih bebas tidak ada yang mengingatkan dan ngawasi. Yang lebih tidak ngerti lagi para Tokoh kenapa tidak protes dan paksa Diky utk memberikan keterangan dia mundur krn melihat ketidak beresan dibi rokrasinya (penyelewengan ? seperti tersirat dalam puisi Diky Chandra “Catatan Sang Bayangan“) , jelaskan ketidak beresannya apa ? Biar rakyat Garut tahu apalagi Diky dipilih langsung oleh rakyat. (Agus Sugandhi)

Catatan Sang Bayangan

Saat ini aku hanyalah bayangan

Yang kadang muncul namun lebih sering tidak
Yang kadang diperlukan namun sering terlupakan
Yang kadang diperhatikan namun lebih banyak diabaikan

Saat ini aku hanyalah bayangan

Yang sering melihat keindahan namun tak mampu menjamah
Yang sering melihat kemunkaran namun tak mampu melawan
Yang sering merasakan kepalsuan namun tak mampu meluruskan

Saat ini aku hanyalah bayangan

Yang tak banyak ulah namun tetap kena makian
Yang coba mengalah namun tetap kena cercaan
Yang telah berkorban namun lantas terkorbankan

Walaupun aku bayangan

Pantang bagiku mundur sebelum waktunya
Sedahsyat apapun badai menghadang
Sekeras apapun ombak menyapu
Aku pantang mundur sebelum waktunya

Namun Bayangan punya Harapan
Namun Bayangan punya Keinginan
Namun Bayangan punya Harga diri
Harapan yang sulit terwujud karena aku hanya bayangan

Keinginan yang terhenti pada pengharapan panjang karena aku hanya bayangan

Bahkan sering harga diriku jatuh karena ulah”nya” yang tahu ada bayangan diri”nya” namun seringkali lupa kalau “ia” punya bayangan.... atau bahkan sengaja melupakan

Aku sang bayangan banyak mendengar tangisan

Aku sang bayangan banyak merasakan napas kemarahan

Aku sang bayangan banyak melihat ketidak adilan

Namun bayangan hanyalah bayangan
Yang tak bisa disentuh dan tak mampu menyentuh
Aku harus lepaskan diri dari”nya”
Aku harus menjadi manusia

Aku putuskan untuk mundur dengan harapan :

“Ia” tak merasa dibayang – bayangi
“Ia” tak lagi ragu melangkah
“Ia” tidak terlena pada hawa nafsu dan
“Ia” tak lagi memikirkan dirinya sendiri

Semoga “ia” sadar, bahwa banyangan”nya” bisa setiap saat bicara
Bisa setiap saat marah bila “ia” tak merubah langkahnya
Karena kini bayangan”nya” telah menjadi manusia
Yang mampu bicara, yang akan mengawasi”nya” sebagai manusia..

bukan sebagai bayangan”nya” yang bisa ia acuhkan
bukan sebagai bayangan”nya” yang bisa ia lupakan
bukan sebagai bayangan”nya” yang bisa ia bodohi

Garut, 2011
Dicky chandra

http://is-is.facebook.com/notes/dick...50444123299256

(Lihat foto: Diky Candra : Catatan Sang Bayangan)


Artikel ini memiliki: 0 KomentarMenarik +4

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »