Bulan Agustus-September merupakan bulan dimulainya tahun ajaran baru. Saat dimana akan ramai dengan adanya siswa-siswa baru untuk tiap masing jenjang pendidikan dari sekolah dasar hingga universitas. Siswa-siswa ini kebanyakan berasal dari sekolah-sekolah--pendidikan sebelumnya--yang berbeda. Semisal SMA 5 kota X, maka siswa baru sekolah itu bisa berasal dari SMP yang berbeda-beda, bahkan bisa berasal dari kota yang berbeda. Apalagi untuk tingkat universitas, bisa dipastikan malah bisa berasal dari provinsi yang berbeda. Dengan latar belakang seperti itu, sekolah-sekolah yang menerima siswa baru, akan mengadakan suatu acara yang bertujuan mengenalkan para siswa dengan lingkungan sekolah tersebut--Masa Orientasi Siswa (MOS). Salah satu paket dari MOS adalah mengondisikan agar para siswa baru akan memiliki rasa kebersamaan atau solidaritas.
Solidaritas adalah perasaan yang terbentuk, kebanyakan adalah karena adanya perasaan senasib-seperjuangan. Sebagaimana kodratnya, manusia akan mudah untuk berkumpul dengan manusia lain yang memiliki keadaan yang serupa: pemikiran, latar belakang, kepentingan. Hanya saja untuk tercipta solidaritas dari suatu perkumpulan manusia dibutuhkan lebih dari sekedar pemikiran, latar belakang, dan kepentingan, yaitu ikatan emosi. Itulah sebabnya ketika MOS diadakan, banyak kegiatan yang dikondisikan agar peserta berada pada kondisi emosi yang cukup ekstrim: sangat marah, sangat sedih, sangat bahagia, atau mungkin sangat galau. Dengan kondisi emosi yang ekstrim tersebut, akan sangat mudah terbentuk suatu ikatan emosi yang cukup kuat untuk terbentuknya suatu sikap yang solid antar siswa.
Contoh paling ekstrim adalah pembentukan sikap solidaritas pada pendidikan-pendidikan militer atau semi-militer. Peserta bukan hanya emosinya saja yang dikondisikan dalam keaadaan ekstrim, tetapi juga pada kondisi fisik yang ekstrim pula. Pengkondisian fisik secara ekstrim juga merupakan katalis yang baik untuk mempercepat keadaan ekstrim pada emosi manusia. Hal ini bisa dilihat bahwa semakin elit suatu pasukan, mereka akan melalui pendidikan fisik dan mental yang semakin berat, maka semakin solidlah mereka.
Sikap solidaritas yang lain juga dapat dilihat pada orang-orang partai politik (parpol). Solidaritas ini tumbuh terutama ketika para anggota partai tersebut sedang melakukan kampanye menjelang pemilihan umum (pemilu). Masing-masing calon legislatif akan mengalami kondisi emosi yang sangat ekstrim dengan alasan yang beragam. Ada yang mengalami ketakutan teramat sangat jika mengalami kekalahan karena dia telah mengeluarkan biaya besar untuk menyebar kartu ucapan lebaran ke penjuru daerah pemilihan. Ada juga yang merasa sangat takut karena dana kampanye berasal dari hasil menggadaikan barang atau properti pribadi. Atau mungkin ada juga yang galau karena dana kampanye berasal dari sumber-sumber ilegal, yang tentunya menang atau gagal dalam pemilu, akan sangat rawan untuk menimbulkan masalah di kemudian hari.
Artikel ini memiliki: 21 Komentar • Menarik +4