Engku marah sutan bukanlah org yg sering terdengar dalam cerita-cerita nasionalisme kepahlawanan Indonesia. Ia hanyalah pegawai perjalanan kapal di Teluk Bayur. Seperti banyak orang hebat yang tidak terdengar dalam berita negeri ini, ia menggagas cita-cita untuk sebuah tanah air dengan upayanya sendiri, bahkan sebelum Indonesia terjadi. Ia berusaha mendidik anak-anak di sekitarnya, tanpa bayaran, tanpa pamrih. Dengan ketekunan seorang biasa ia tularkan apa yg ia mengerti. Ia sampaikan pada anak-anak sebuah cita-cita. Cita-cita besar dari seseorang yang bahkan hanya terekam secuil dalam sejarah. Cita-cita agar kelak di kemudian hari, tanah air ini dapat maju. Sebuah cita-cita tanah air yang tetap terkenang oleh anak yang di kemudian hari menjadi besar pengaruhnya dalam mengusahakan angan pegawai perjalanan kapal itu. Anak kecil yang bernama Muhammad Hatta.
Di usia 16, Hatta mulai bersinggungan dengan tokoh-tokoh seperti HOS Cokroaminoto, Abdul Muis, Agus Salim dan pergerakannya lewat koran-koran yang dibeli Marah Sutan. Ide & pemikiran mereka, membawa Hatta muda bersama teman-temannya di Indonesische vereenigging untuk berusaha meleburkan tanah air Marah Sutan, tanah air orang Jawa, Sumatra, Kalimantan, Islam,Kristen, Hindu, Budha dan tanah air-tanah air golongan lain ke dalam satu kata, Indonesia.
Indonesia, bukanlah kata yg orisinal atau penciptaan anak-anaknya, tp Indonesia adalah sebuah kata yg diusahakan & diperjuangkan. Sebuah Indonesia bukanlah usaha mudah, seringkali berujung penjara, pengasingan atau bahkan kematian. Gagasan tentang kemanusiaan yang diperjuangkan banyak orang dalam satu wadah ini sempat manis & hebat, ketika pada tahun 1945, kata ini mulai terdengar dalam sejarah dunia pada sebuah pernyataan kemerdekaan. Indonesia pernah hebat & tak selesai sampai di sini.
Kilas perjalanan waktunya sampai sekarang diwarnai kelam & bopeng-bopeng kemanusiaan anak-anaknya, lewat pengkhianatan & kepahlawanan, penguasaan & perlawanan, yg tercampur dalam ingatan. Indonesia adalah negara yang penuh coreng moreng dari bayi.
Bayi kecil Indonesia telah memakan sendiri bidan-bidan yang membantu kelahirannya, pemuda-pemuda dengan dedikasi terbaik untuk tanah air berakhir di bedil penjajah yg tak rela ataupun sodara kandung yg tak sejalan. Sodara yang hari ini dirangkul, di kemudian hari dibakar karena perbedaan. Pahlawan hari itu, bukanlah pahlawan hari lain. Karena kepahlawan & sejarah Indonesia tak akan pernah bebas nilai. Nilai-nilai dikriyakan penguasa dalam teks-teks wacana rapih & epik. Wacana yg ingin menindih teks Indonesia yg sebenarnya, yg penuh coretan, revisi, dan catatan kaki panjang tentang kepedihan sebuah narasi besar.
Narasi yang memeluk erat Tan Malaka dlm rahasia, narasi yg membuat tuli sebelah Pram, narasi yang mengurung Bung Karno di hari tuanya, narasi yang sempat mengoyak dalam manusia Aceh, Maluku, Papua, Timor, Muslim, Kristen, Minoritas maupun Mayoritas. Indonesia adalah narasi tentang kemanusiaan yang diperjuangkan, sekaligus juga narasi ketidaksempurnaan yang mengandung segala keperihan kemanusian satu atau banyak orang
Indonesia Raya, tak hanya tentang lagu kolosal yang membuat merinding ketika dinyanyikan satu stadion tahun ini, Indonesia Raya juga adalah lagu getir yang dinyanyikan pemuda-pemuda di depan moncong bedil saudaranya yang berbeda ide tentang jalan terbaik mengawal bangsa di tahun awal kemerdekaan. Indonesia bukanlah kebenaran maupun kesalahan di satu waktu. Indonesia tidaklah selalu raya seperti dalam lagu, di lintas-lintas waktu berjalan. Badai akan datang & selalu datang, Indonesia akan menyisakan cuil-cuil perih kecil ataupun nganga besar.
Seperti pada awalnya, Indonesia bukanlah sebuah ide tentang kesempurnaan yang final. Indonesia seharusnya bukanlah bulatan utuh cantik yang dijaga kerapiannya oleh cedera-cedera kelam satu dua orang penguasa. Indonesia adalah ide tentang kemanusiaan & manusia-manusia yang berusaha. Indonesia adalah gagasan banyak orang biasa.
gambar diambil dari sini
Artikel ini memiliki: 3 Komentar • Bagus +6