Orang bilang, kepercayaan dan agama itu ada supaya manusia tidak menghancurkan kaumnya sendiri.
Sejak awal peradaban dimulai, dari masa prasejarah sekalipun di mana tulisan belum dikenal, manusia sudah mengenal adanya kekuatan atau entitas di luar manusia yang jauh lebih berkuasa dan jauh lebih kuat dibandingkan manusia. Kalau kaum sekarang menyebutnya dengan Tuhan, Allah, YHWH, Cthulhu dan sebagainya, mungkin bisa dibilang seperti sebuah pemahaman yang kemudian diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.
Begitu halnya dengan sesuatu yang disebut kepercayaan. Seperti yang disinggung di artikel ini, kepercayaan dan agama itu sesuatu yang bergulir, silih berganti. Buktinya banyak, bisa dilihat di sekeliling kita. Indonesia sendiri mengenal pergantian kepercayaan, meskipun transisi tersebut tidak pernah benar-benar mulus. Dari animisme-dinamisme, kerajaan Nusantara berganti menjadi Hindu dan Buddha untuk kemudian berganti lagi menjadi bercorak Islam, dan kemudian pengaruh Kristiani dari Eropa masuk dan menambah corak identitas di Indonesia. Atau dengan tegaknya reruntuhan kuil dewa-dewi kuno di Yunani sana, yang mayoritas penduduknya kini menganut Kristen Orthodox.
Begitulah roda waktu berputar. Sekitar satu-dua dekade belakangan ini juga mulai tumbuh gerakan-gerakan spiritual baru yang mendasarkan ajarannya entah dari kepercayaan yang sudah ada atau malah membuat sebuah ajaran baru. Apakah kepercayaan-kepercayaan ini nantinya akan mendompleng apa yang sudah ada? Entahlah, saya bukan peramal. Tetapi ada satu hal penting yang harus diingat.
Bahwa agama dan kepercayaan ada bukan untuk mengingkari nurani manusia.
Apa gunanya puasa penuh sepanjang Ramadhan ketika nanti selepas puasa berbuat dosa lagi? Apa gunanya berceramah tentang ayat panjang-panjang, berbagi pengetahuan mendalam, ketika kemudian pada prakteknya bolong? Apa gunanya ketika melantunkan doa panjang-panjang, indah-indah, ketika pada kenyataannya untuk memaafkan saja tidak bisa? Apa gunanya mengenakan pakaian luar yang menunjukkan si pemakai beragama, beradab dan ber-Tuhan ketika apa yang dikatakan dan dilakukan berbeda dengan apa yang dikenakan? Apa gunanya?
Even so faith, if it has no works, is dead in itself. -James 2 : 17
Apa gunanya sebuah iman, sebuah kepercayaan, ketika pelakunya berkelakuan tak selayaknya seorang manusia? Bukankah kepercayaan dan agama itu ada supaya manusia itu lebih tinggi derajatnya daripada hewan, dengan akal dan budinya yang katanya diturunkan dari Adam? Kalau manusia menggunakan akal dan budinya yang superior itu hanya untuk menjatuhkan sesamanya manusia, untuk apa beragama dan ber-Tuhan?
Itu umpamanya tidak lebih daripada slogan kampanye para elit politik. Munafik.
Terinspirasi dari sini dan sini.
Artikel ini memiliki: 66 Komentar • Menarik +7