Melihat perkembangan politik indonesia pada satu dekade belakangan ini muncul sebuah tren baru yang mengerucutkan peta politik indonesia kepada unsur yang cenderung sangat sensistif yaitu unsur Religi.
Dengan munculnya banyak parpol yang mengusung dan mengaku berlatar belakang agama tertentu, mereka tidak kesulitan dalam menggalang massa dan juga menggalang dukungan politik untuk menyukseskan tujuan mereka. pada awalnya tren ini terbilang positif sekali di kalangan umat. banyak sekali dukungan yang datang dikarena dianggap partai politik ini mampu untuk mewakili masyarakat dalam pemerintah. karena mungkin terkenal akan kesalehannya dan juga citra mereka yang baik dalam masayarakat.
dengan tumbangnya orde baru yang mewariskan mosi ketidakpercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat, kemunculan parpol jenis ini diharap dapat menjadi harapan baru masyarakat akan suatu era pemerintahan yang baru yang lebih bersih dan lebih dapat dipercaya karena menganut suatu paham dan aliran agama tertentu. Terutama jika kita membicarakan tentang Islam, agama mayoritas penduduk Indonesia.
namun belakangan ini, romantisme lama tersebut tampaknya pelan-pelan mulai meruntuh dan menimbulkan keraguan akan kredibilitas partai tersebut dalam mewakili suara rakyat indonesia. dengan munculnya kasus-kasus yang melibatkan wakil dari parpol tersebut seperti keterlibatan dalam supa dan korupsi sepertinya seketika kepercayaan masyarakatpun mulai goyah dengan wakil yang telah mereka pilih.
apakah ini wakil rakyat yang mengaku perwakilan dari rakyat dan agama saya?
sungguh ironis, bahkan dengan tertangkap basahnya seseorang wakil rakyat yang sedang menonton video porno di gedung DPR semakin mengindikasikan bahwa ternyata Agama hanya sebagai label saja tidak lebih. label yang digunakan untuk menggalang massa dan juga meyakinkan pemilih akan wakil rakyat yang dipilih oleh partai tersebut untuk mewakili rakyat indonesia di kursi DPR. sungguh sangat memalukan. dengan label agama yang diusung selain memalukan diri mereka sendiri, partai dan juga pemilih mereka. mereka juga mempermalukan Islam sebagai agama mereka secara tidak langsung.
mau dikemanakan bangsa ini jika pembimbing masyarakatnyapun berperilaku yang tidak baik? apalagi menyangkut-nyangkutkan agama dalam parpolnya.
saya sendiri masih bingung dengan tatapolitik yang dimaksudkan dalam argumentasi mereka dalam setiap kesempatan penggalangan massa dalam pemilihan. mereka bilang mereka berlandaskan Politik Religius, Islam, tapi kenapa perilaku mereka tidak Islami setelah terpilih?!
ini berpolitik dengan tatacara Islam atau Islamnya yang dipolitisasi hanya untuk menggalang dukungan??! Ironis sekali jika opsi terakhir yang dianut.
maka, diharapkan untuk 2014 nanti akan ada banyak perbaikan bagi partai politik khususnya bagi pemilihan para kader yang akan mewakili rakyat banyak dalam pemilu depan. karena bagaimanapun, seseorang yang telah kita pilih baik moral kelakuan dan juga keputusannya adalah beban kita juga sebagai pemilih.
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Terkini +0