Di Solo, ada sebuah toko buku yang mungkin sudah dilupakan orang. Letaknya sekitar 1 kilometer dari Stasiun Purwosari. Dekat perempatan gedung SE, yang hangus terbakar saat kerusuhan Mei 98.
Namanya Budi Laksana. Dari jalan, toko buku itu terlihat lusuh dan renta di tengah kota yang semakin menyilaukan. Kaca-kaca etalase telah berkerak. Rak-rak bukunya membuat saya khawatir sewaktu-waktu akan rubuh.
Jika saya ke sana, biasanya akan berakhir dengan rasa bersalah: kenapa kota berubah?
Saya ingat lagi toko buku itu saat kemarin teman-teman, dan kebanyakan warga Solo, gerah karena wali kota Joko Wi dikatai bodoh oleh Gubernur Jateng Bibit. Konon karena Joko Wi tidak mau menuruti Bibit membangun mall.
Joko Wi adalah selalu tentang pertentangan pasar modern versus pasar tradisional. Ia berkali-kali mengatakan berpihak ke pengusaha, tapi pengusaha kecil.
Tetapi ihwal kemarahan banyak orang, saya curiga itu karena mereka terlanjur bersimpati pada Joko Wi saja. Bukan lantas benar-benar berada dalam satu gerbong ide yang sama.
Kalau mau jujur, banyak di antara kita yang pasti lebih memilih berbelanja di mall ketimbang di pasar tradisional. Kalaupun tidak jujur, toh mall memang semakin ramai, hypermart dipenuhi, Tony Jack's tak pernah sepi.
Teman saya, yang bahkan sudah setahun di Pontianak karena penempatan kerja (siapa sih yang bisa menolak pekerjaan di DJP), masih terus mengeluh karena tidak ada Pizza Hut atau J.Co. Dan teman-teman yang lain ikut mendramatisasi (APA? J.Co aja nggak ada?!)
Ke mana Anda akan pergi saat Minggu Pagi, memenuhi parkir Solo Square? Ke mana Anda mengadakan pesta ulang tahun anak Anda, McD? Siapa yang berebut grand opening Paragon? Siapa yang memacetkan jalan di depan SGM?
Jadi, sebelum Anda berteriak marah pada Bibit, kenapa tidak melihat ke diri sendiri dulu.
Atau sekedar mengingat Budi Laksana, sebelum Anda menggesek kartu kredit untuk memuaskan hasrat intelektual Anda di Gramedia.
Artikel ini memiliki: 34 Komentar • Menarik +8