Wacana Tinggal Wacana, Bulan Madu Hanya Mimpi • penulis: LCFR, 15 Juni 2011 19:28:06 • 25 KomentarPenting +9

Jadi di tengah gerimisnya hujan di Langsat (a bit of understatement there) dan kesumpekan obsat yang dipenuhi kaum socialitweet, gw melipir digeret ke kantor dan ngobrol-ngobrol singkat sama Si Om mengenai #IndonesiaJujur dan segala macam spesies sejenisnya.

Gw pribadi duluuuuu banget pernah ngomel mengenai gerakan semacam ini dan well, itu berakhir menjadi sebatas omelan. Tidak ada yang terlalu istimewa selain nyinyir-nyinyiran yang nggak keluar situs ini juga. Setelah agak tuaan (dikit) dan ngobrol-ngobrol lagi, I look back and think: "what good can I make out of talking or writing?".

Yes, it raised awareness and make some people see from different point of view. But then? Nothing we can really change. Kind of the same thing with say... #IndonesiaJujur or #IndonesiaUnite or several others campaign.

No, gw nggak berencana menyerang siapa-siapa di sini. Tapi kalo ada yang merasa diserang, salahkan hormon anda, it's not my fault. Yang gw pengen sampaikan adalah bahwa seperti yang sudah-sudah, terkadang kita bergerak tanpa rencana atau bahkan tanpa tujuan. Dan ketika tujuan itu ada, dear Lord, muluknya nggak nanggung-nanggung.

Let's be realistic, sebuah hashtag dan pengutukan satu kampung tidak akan membuat negara ini jadi jujur. Dan ketika kita melakukan hal tersebut, adalah sangat wajar jika ada yang bersikap sinis, nyinyir dan semacamnya karena itu terdengar sangat naif, bahkan agak hipokrit.

Remember, "whoever is innocent, may throw the first stone".

Begitu pula ketika bicara nasionalisme. Ya, ada penaikan kesadaran bahwa kita harus lebih mencintai negara ini. Tapi apakah itu efektif? Melihat dampaknya kepada keseharian kita sekarang, well I gotta say it's not that effective. Bukannya nambah orang pinter, yang ada malah nambah massa sok pinter.

But then again, I appreciate the effort.

Dan ini kembali ke "gerakan" itu sendiri. Ketika tujuan kita membuat gerakan untuk membangkitkan awareness tanpa tindakan konkrit dan tujuan yang jelas, bersiaplah untuk berhenti di titik tersebut. Titik di mana orang akan berkomentar "setidaknya kita menghargai usahanya" dan hanya sampai situ saja.

Au contrarie, jika kita setidaknya menyiapkan tindakan konkrit dan terget yang masuk akal maka kita dapat melakukan sesuatu yang lebih, baik secara faktual memperbaiki keadaan atau setidaknya merubah sesuatu menjadi sedikit lebih baik.

Omongan jadi muter-muter gini sih, udahlah, gue laper -_-.


Artikel ini memiliki: 25 KomentarPenting +9

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »