Kami Ingin Perubahan, Kami Ingin Berubah • penulis: boiga, 12 Juni 2011 06:17:59 • 62 KomentarBagus +10

Ah, ya, kita suka memprotes, kita suka mengkritik. Memang pantas kita demikian, terlalu banyak yang bisa diprotes hingga untuk berhenti pun kita bingung. Dengan protes perubahan kita harapkan, dengan protes kehidupan lebih baik kita dambakan.

Namun, sepertinya kita perlu sedikit rem. Ini negeri ajaib dimana hampir semua kombinasi yang dibangun adalah salah. Banyak kasus membuktikan itu.

Ya, ini negeri ajaib. Negeri dimana pemimpin tidak lagi dihargai dengan layak, dengan produknya yang selalu mengundang kecaman. Ulama disini banyak yang gemar menerima bayaran atau bicara hanya dari satu sisi dunia sehingga tidak lagi dipercaya dan diikuti omongannya. Disini yang jujur diusir, yang bicara lurus diasingkan. Guru dan murid berkonspirasi tentang bocoran ujian. Orang tua banyak tersesat dalam kesibukan, memandang materi semata mampu mendidik anak-anaknya. Anak muda sesat dalam pergaulan, jauh dari orang tua, jauh dari moral. Ormas satu berperang dengan ormas lain. Mahasiswa saling melemparkan batu, berkelahi antara sesama. Aparat Hukum pemalas dan berjiwa sogokan. Pengusaha saling jegal demi lahan bisnis, hajar sana-sini tanpa sadar imbas meluas kemana-mana. Birokrasi tanpa ujung yang dikawal oportunis-oportunis kecil dan besar dari mulai tingkat RT, Kelurahan, kecamatan dan seterusnya. Penjahat? Penjahat sudah di negeri seberang, jauh dari jangkauan. Terlalu banyak untuk disebut. 

Kritik dan protes tetap merupakan elemen penting bernegara. Di masa lalu, seorang diktator besar terpaksa turun karena kita sepakat untuk bersuara dan memprotes. Kita sepakat menjadi pihak yang rewel dan menyebalkan bagi mereka. Diktator besar yang puluhan tahun tak bergeser dari kursi kebesaran bersama lingkaran setan di sekelilingnya bisa kita turunkan bersama. Kita berhasil membuka pintu perubahan.

Tapi satu hal kita lupa. Kita tidak bercermin. Protes selalu difokuskan pada pihak penguasa di atas. Protes selalu diarahkan pada mereka yang kita posisikan sebagai pihak seberang. Kita tidak pernah berkaca dan memprotes diri sendiri. Akhirnya hanya putaran tanpa henti yang kita jalani; satu penguasa turun, satu penguasa naik, kondisi kembali ke awal dimana semua tetap sama dan kembali protes-protes bertebaran dimana-mana. Semua kembali ke titik awal dimana yang di bawah mencap pihak di atas sebagai diktator rakus tanpa hati.

Lingkaran ini lalu menumbuhkan skeptisisme. Banyak ragu, banyak pesimis, banyak sinis. Dan semua ini tidak akan berakhir tanpa peran semua pihak.

Setiap kita perlu mengambil peran positif dalam membentuk negara ini; apapun itu. Bila kita tidak dapat melakukan perubahan besar, kita bisa kembali ke asal kita. Kita perbaiki keluarga, kita perbaiki lingkungan. Jadilah contoh yang baik, beri peringatan sekali-sekali. Satu keluarga yang baik bisa menjadi model bagi keluarga lain, hingga terbentuk lingkungan yang baik. Satu lingkungan yang baik jadi contoh bagi lingkungan lain. Begitu terus dan teruslah begitu. Di negeri yang sakit ini, di segala keruwetan yang setiap hari menghabisi kita, toh kita masih bisa pulang ke tempat yang nyaman bila kita bulatkan tekad. Kita pulang ke tempat yang nyaman.

Akhirul kalam (wow), bijak rasanya bila kita bisa anut kata-kata John F. Kennedy, siapa-pun-dia-dari-mana-pun-dia, "Ask not what your country can do for you. Ask what you can do for your country". Jangan terlalu mudah menuntut pihak lain memenuhi keinginan kita. Tanyakan diri sendiri, apa yang telah kita perbuat untuk memperbaiki situasi yang ada.

Life is a nightmare and we still refuse to wake up..

(Lihat foto: Kami Ingin Perubahan, Kami Ingin Berubah)


Artikel ini memiliki: 62 KomentarBagus +10

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »