--- On Wed, 4/27/11, liemsioklan@yahoo.com <liemsioklan@yahoo.com> wrote:
Munculnya Tommy Soeharto cermin kegelisahan TNI atas kegagalan SBY
Beberapa wartawan mengejar Justiani, salah satu tokoh DEPAN (DEWAN PENYELAMAT NEGARA), yang dikenal sabagai Fund Manager HMP (Hutomo Mandala Putra), dan juga Pakar Timses HMP menuju PG1. Demikian cuplikannya.
Berita santer soal Partai Nasional Republik yang didirikan Tommy Soeharto, apa benar?
Justiani: Setahu saya, yang meminta HMP setelah tidak jadi PG1 kan banyak sekali partai. Saya rasa Mayjen Edi Waluyo meluncurkan Partai Nasional Republik ini saatnya tepat. Saling menguntungkan. Intinya mau memanfaatkan untuk jualan. HMP juga tidak keberatan untuk mengetes tawaran Pak Edi bahwa rakyat rindu Pak Harto krn SBY mau meniru pak Harto tapi tidak mampu malah negeri dibawanya amburadul. Ini kan sebagian kecil dari cermin kegelisahan para Jenderal purnawirawan atas kegagalan SBY lalu mencari berbagai alternatif.
Mengapa Mas Tommy Soeharto tidak bersedia diwawancarai? Jarang sekali muncul di media?
Justiani: Karena dia cerdas. Kekuasaan itu adalah ilusi. Kalau dia jawab sendiri, "hantu" alias "siluman" dari kekuasaan itu jadi nyata, HMP yg misterius jadi mengecilkan diri sendiri. Apakah dalam bentuk partai atau pencitraan yang jadi jelas dari kata-katanya atau kalimatnya. Jadi kayak SBY donk yang kelasnya masih politik salon, politik murahan, semakin ngomong semakin kelihatan aslinya, kelihatan bohongnya. Ingat gak dulu, Pak Harto juga misterius. Yang banyak ngomong Harmoko dengan istilah "petunjuk bapak presiden".
Mengapa tidak menerima tawaran partai-partai yang sudah ada dan sudah jelas status hukum serta sudah teruji dalam Pemilu, daripada mulai dari baru?
Justiani: HMP tidak cuma pasang satu partai. Dia sudah meta politik. (Semacam meta fisika). Ical saja juga diam-diam hotline sama HMP. Pasti soal pengamanan aset dari penjarahan penguasa boneka IMF. Grup HMP n Ical kan anti IMF. Sementara SBY Boediono SMI adalah boneka IMF.
Kalau partai2 lama kan maunya bisnis didepan. Cash and Carry. Ada dana ada pengumuman berpihak ke Cendana. Tanpa itu gak jalan. Krn partai yg sudah ada tdk mau "coba-coba" krn sudah ada jelas segmennya. Kalau partai baru ini justru kayak bisnis baru jadi jualannya hrs bisa menarik perhatian dan saya rasa dg slogan "Rakyat Rindu Pak Harto" ditengah amburadulnya pemerintahan SBY pasti lebih layak jual daripada partai2 yang sudah ada yang "ragu2".
Maksudnya "ragu-ragu" bagaimana?
Justiani: Semua tahu bahwa SBY mau mencontoh Pak Harto. Yaitu mengontrol aliran dana lewat satu pintu. Itu juga yang bikin Koalisi pecah karena PKS akhirnya berhasil menjebol sumber dana sendiri dengan impor daging ratusan kaleng yang sebelumnya dimonopoli pihak tertentu. PG juga sudah lama tidak bisa dikendalikan oleh SBY karena semua tahu bahwa Ical punya sumberdana sendiri yang tidak tergantung SBY melalui pasar modal dan minyak. Kemarin soal hak angket, PD diselamatkan oleh GERINDRA, itu karena SBY menekan Prabowo dengan mengancam. Mas Bowo sendiri mengaku bagaimana bisa aset dia yang lebih dari cukup mengajukan kredit dengan bisnis plan yg sangat menguntungkan ditolak oleh semua bank dalam negeri.
Nah, partai2 lama yang ada di DPR sekarang "ragu2" mau ikut SBY atau lawannya. Intinya mau ikut yang menang. Tapi perhitungannya bagaimana? Feelingnya SBY bakal masuk jurang atau bertahan? Kan ini yang harus diputuskan. Harus bersikap. Jangan ragu2. Penciuman kudu tajam. Kemarin TK sudah mulai keliling menemui jenderal purnawirawan satu per satu. Ini orang penciuman tajam sama sikon politik.
Jadi SBY mengontrol keuangan agar partai2 lain tunduk patuh atau mati?
Justiani: Kok baru tahu sih. Itu kan strategi sejak rekayasa kemenangan PD yg dikatrol dg segala cara juga pilpres satu putaran kan senjatanya pengontrolan kekuasaan uang, baik century, restitusi pajak, hutang LN jadi BLT BOS Bansos Jamkesmas dll itu yg dimainkan. Coba perhatikan TK dg PDIP yg partai besar pun tunduk patuh. Kalau gak bisa dihabisin perolehan suara PDIP melalui permainan IT KPU. Cuma kan terlalu menyolok. PD dapat diatas 20% saja sudah menyolok banget. Itu nyolongya dari partai kecil-kecil.
Nah, PG bagaimanapun lebih cerdas dari PDIP. Ical segera merapat ke HMP. Win2 solution. PG dapat kekuatan. HMP dapat pengamanan aset yang dimainkan Ical.
Setidaknya PG adalah latar belakang sejarah Cendana. Sementara PDIP sejarahnya berseberangan shg benar2 terjepit. Paling banter sinetronan. TK merapat, Mbak Mega yang ngambek2 ke SBY keras bicaranya. Yg bingung Pramana Anung, akhirnya ngegrup aja sama-sama ITB dengan Hatta Rajasa. Nunggu bola liar.
Kemunculan HMP dengan partai baru ini bagaimana petanya?
Justiani: Seru. Karena tidak ada sekutu abadi. Lihat saja Prabowo krn dijegal SBY, dan tidak berkutik, dana dikunci, bisnis dikunci, sekarang manuver merangkul SMI di IMF dengan harapan PRABOWO-SMI diusung di 2014. Sementara SMI meniti buih. Kalau angin menghantam SBY dia siap membuka century sekalian menyelamatkan diri. Kalau SBY masih aman, dia jual mahal supaya jadi rebutan antara kubu TNI, kubu SBY dan Kubu Prabowo. Pokoknya cari pasangan TNI.
Kalau dari pertemuan dengan DEPAN jelas sekali bahwa Ical sudah tidak mempedulikan SBY (sudah tidak ngreken SBY). Yang jadi perhitungan Ical adalah IMF skenario. Maka Ical berusaha merayu SBY agar PD tidak mencalonkan SMI. Demikian pernyataan Ical.
Nah, inilah yg saya sampaikan kpd Mas Bowo dan Bang Ical, bahwa elite kita termakan permainannya IMF. Ical merayu SBY. Prabowo (ditindas SBY) merayu SMI. Lha kan SBY-SMI punya kedekatan pribadi yg bisa-bisa hasilnya Ical n Prabowo gigit jari. Kalau SBY-SMI teklek kecemplung kalen, ketimbang golek wani balen (daripada cari pasangan baru lebih baik bersatu kembali).
Apa kaitan dengan Partainya HMP yang baru?
Justiani: Nah itu dia. Pertanyaan bagus. Mengapa Ical yg sudah pegang kekuatan penuh hari ini tidak menurunkan SBY yang sudah tidak berkutik. Mengapa? Siapa yang mengendalikan Ical? Apakah HMP dibalik semua ini? Politik kan yg pasti-pasti aja seperti bisnis. Nah biasanya Ical gesit yang seperti ini, kok malah tidak? Malah teracuni bayang2 ketakutan kepada SMI-IMF shg merayu SBY? Kan sesat itu Ical.
Lho kok malah tidak menjelaskan. Sebenarnya bagaimana? Apa kepentingan HMP dibelakang semua itu?
Justiani: Ya kalau saya buka semua lain hari koran mu ndak laku. Lagian yang misterius jadi gak ada. Jadi dilanjut lain waktu ya.......
(DEPAN NEWS)
(Lihat foto: Munculnya Tommy Soeharto cermin kegelisahan TNI atas Kegagalan SBY)
Artikel ini memiliki: 37 Komentar • Menarik +4