Seseorang nampaknya perlu segera mengingatkan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, kalau bahkan dalam Al Qur’an sekalipun dengan jelas menyatakan “tak ada paksaan dalam agama”.
Ini penting, sebab jika berita di Antara hari Jumat bisa dipegang, sang gubernur nampaknya ingin menyatakan kalau dia dan orang-orang yang pemikiran keislamannya sama dengan dia saja yang berhak untuk hidup di Aceh; sebuah sesat pikir dosis tinggi yang mungkin dengan segera membangkitkan memori kengerian banyak Muslim pada tingkah pola rezim jumud Taliban di Afghanistan dulunya.
Berita Antara hari Jumat merilis, Irwandi alergi dengan mazhab di luar Ahlussunnah Wal Jamaah. Katanya: “Kami tidak pernah menolerir jika ada aliran-aliran sesat atau agama ciptaan baru berkembang di Aceh.”
Dengan pernyataan itu, sang gubernur mendudukkan semua aliran keagamaan, mazhab dan sekte dalam Islam di satu pekarangan yang sempit lalu membuldozernya dengan sebutan “aliran sesat”.
“Kita bangga,” katanya lagi, “umat Islam di Aceh bagian dari Ahlussunah Waljamaah yang menurut keyakinan merupakan satu-satunya golongan yang selamat di dunia dan akhirat."
Tidak boleh ada paham Syiah, Khawaru, Mu`tazilah, Bahaiyyah, Ahmadiyah, Karimiyah, Nasiriah, Druz, Qaramithah dan aliran lain di luar Sunni di Aceh, kata dia.
Ironis!. Gubernur di Serambi Mekkah, yang semestinya menjadi pengayom dan wali negeri, justru bertingkah layaknya agen intelejen Amerika, CIA, yang tahu betul cara menaikkan dosis ekstrimisme dan menanak perpecahan di kalangan Muslimin.
Lupakah Irwandi kalau keinginannya menyeragamkan paham keislaman di Aceh sebenarnya tak ada beda dengan rezim Orde Baru yang pernah dia lawan dengan nyawanya, sebab telah memaksakan keseragaman, sentralisme dan kepatuhan massal – lewat kekuasaan dan senjata?
Lupakah dia kalau semasa berhaji dulunya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau berjuta-juta Muslimin dari berbagai penjuru dunia hadir di Baitullah dengan cara pandang, pola pikir, bahkan cara bersedekap yang berbeda-beda?
Lupa pula kah dia kalau semua agama Samawi, mau itu Kristen atau Yahudi, punya banyak percabangan dan sekte? Jika dia mau pasang badan untuk Ahlussunah, mana kiranya di antara sekte Kristen yang bakal dia pilih dan izinkah hidup di Aceh dan mana sekte yang bakal dinyatakan haram dan bakal diberangus?
Gubernur Irwandi nampaknya sedang sukar berdamai bahkan dengan bayangannya sendiri; jutaan rakyat Aceh yang di setiap kepalanya punya pemahaman dan pandangan keagamaan yang berbeda.
Tapi apa kira yang membutakan begitu rupa? Adakah ini karena bisik-bisik berbisa satu dua orang bule yang menjadi penasehat utamanya, seperti santer terdengar di Jakarta, dalam beberapa tahun terakhir? Ataukah ini lebih karena dia sebenarnya sedang mencoba memainkan ‘kartu Saudi’, berharap aliran fulus Dinasti Saud di Arab Saudi yang kerap ‘membayar mahal’ mereka yang gemar menyesatkan mazhab Islam di luar mazhab resmi kerajaan Saudi Arabia?
Apapun itu, Irwandi semestinya malu. Terlebih, sebab dia memutuskan hadir dalam apa yang digambarkan oleh Antara sebagai kegiatan “pensyahadatan kembali 139 orang pengikut aliran sesat komunitas "Millata Abraham" di Banda Aceh, Jumat kemarin.
Tidakkah acara itu mengingatkan dia pada tingkah pola ‘tentara Jawa’ yang kerap mempropagandakan serdadu Gerakan Aceh Merdeka yang ‘turun gunung’ di tahun-tahun pergolakan yang lewat, via sebuah acara yang ditonton orang banyak – sesuatu yang dengan itu tokoh-tokoh GAM seperti Irwandi dulunya muak dan jijik bahkan sekadar untuk mendengar kabarnya? Sumber gambar
(Lihat foto: 'Jubah Taliban' ala Gubernur Aceh)
Artikel ini memiliki: 78 Komentar • Menarik +5