Beberapa hari ini aku tercenung setelah kematian seorang pemuda. Aku telah sering melihat kematian, sering mendampingi orang sakarat. Tapi berita yang disampaikan teman ini memang membuatku merenung.
Aku pernah melepas kematian seorang perokok berat, yang sangat kecanduan. Permintaan akhirnya adalah rokok. Setelah mendapatkan rokok dia pun melepaskan nafas terakhirnya. Apakah rokok telah menjadi tuhan dalam hidupnya?
Aku pernah mendampingi preman yang sakarat. Dia tetap berkata-kata jorok dalam kondisi tidak sadar. Sehingga aku merasa gak nyaman dan ingin meninggalkannya.
Aku pernah mendampingi seorang ustadz yang sakarat. Dia tetap membaca Alquran dengan suara nyaring dalam kondisi dia tak sadar. Sehingga membuat kita nyaman dan terharu.
Seorang teman pernah mendampingi penjudi yang sakarat. Tangannya bergerak-gerak seperti main kartu saat dia sakarat. Di masa hidupnya dia berjudi dengan main kartu. Apakah judi telah menjadi tuhan dalam hidupnya?
Kali ini teman yang mendampingi kematian seorang pemuda bercerita bahwa saat pemuda ini sakarat dia mengatakan bahwa dia melihat gadis-gadis cantik ramai di atas televisi, berjilbab putih. Tersenyum padanya dan memanggil-manggilnya mengajak pergi. Semua yang mendampingi pemuda ini tak melihat yang dikatakan si pemuda. Tapi sang pemuda membalas senyum rombongan gadis yang dia katakan. Sehingga abangnya menyuruh pemuda itu menutup matanya. "Tutup matanya Bang?", tanya si pemuda. "Iya, tutup aja matanya." kata si abang sambil menutup mata adiknya. Si pemuda pun menutup mata dan pergi menemui Tuhannya. Keluarganya kaget menyadari bahwa si pemuda sudah tak bernafas lagi.
Ibunya menangis melepaskan kepergian putra kesayangannya.
Aku termenung. Apa istimewa pemuda ini sehingga dia dijemput bidadari? Aku mengenal baik pemuda ini. Dia bukan aktivis mesjid, padahal rumahnya di samping mesjid. Bahkan ada yang berkata saat pemuda ini dirawat: aku gak pernah melihatnya ke mesjid. Entah dia shalat atau tidak. Tidak ada yang istimewa dalam hidupnya.
Lalu kenapa dia dijemput bidadari? Kenapa gerimis mengiringi pemakamannya?
Hanya satu hal yang kutau menjadi kelebihannya. Yaitu dia anak yang berbakti pada ibunya. Dia selalu menjaga ibunya. Dia pernah bekerja di kota lain, tapi akhirnya berhenti bekerja karena ibunya gak tahan berpisah dengannya. Dia kembali ke rumah ibunya dengan resiko tak berpenghasilan. Dia tak pernah melukai hati ibunya. Hari-hari dia dirawat dia selalu menanyakan keadaan ibunya. Padahal kondisinya sangat mencemaskan, dia justru mencemaskan ibunya.
Tantenya bertutur dengan menangis :"Dia terlihat sangat tampan saat tante bertemu dia dua pekan yang lalu." Saat itu si pemuda masih segar bugar.
Setelah kepergiannya, kerabat dan orang yang mengenalnya mendapat pelajaran: ternyata benar surga di bawah telapak kaki ibu. **
gambar dicomot disini
(Lihat foto: Kenapa kamu dijemput bidadari? )
Artikel ini memiliki: 30 Komentar • Inspiratif +6