Saat Gong Perdamaian akan diresmikan di Negeri ini, dalam hati kami, ada sedikit kegundahan, sedikit ketidakrelaan sebuah simbol perdamaian diletakkan di Propinsi Ini, bukan karena kami tidak mau simbol damai dunia itu berada disini. Tapi lebih banyak melihat kenyataan tentang sisa-sisa tragedi masa lalu masih terus dibiarkan, dipelihara dan tidak dipedulikan oleh Pemerintah. Tak perlu panjang lebar mengulas siapakah dalang dibalik tragedi 12 tahun lalu itu, karena itu hanya membuat capek pemikiran kita sendiri, berputar dalam lingkaran setan dan tidak tau jalan keluarnya. Cukup melihat pengungsi kerusuhan Maluku yg masih bertebaran di pelosok Negeri ini, bahkan didalam kota pun sendiri masih ada Pengungsi-pengungsi dan sampai sekarang ditahun ke-2 Gong Perdamaian itu berdiri serta hampir 12 tahun kerusuhan itu terjadi. Mereka tetap ada mengisi tempat-tempat pengungsian.
Karena itu pulalah, tak semua warga kota kecil ini sepakat & bangga akan Simbol itu, tapi tak sampai harus berdemo besar-besaran untuk menolaknya, di hati mereka terucap janji untuk tidak menginjakkan kaki di Gong itu sampai masalah pengungsi tuntas, sampai saudara-saudara kami itu kembali ke tempat dimana mereka dilahirkan. Sebagaimana sebelum tragedi itu terjadi disini.
Tak terasa dua tahun berjalan, lalu muncullah rentetan tragedi-tragedi atas nama agama meluluh lantakkan Negara ini. Ahmadiyah mungkin jadi sorotan terbesar selain pembakaran Gereja timur pulau jawa itu. Ahmadiyah menjadi tragedi kemanusian atas nama agama yang memakan korban jiwa. Media saling berlomba-lomba mengabarkan dengan sukacita dibelahan bumi sana tentang tragedi tersebut, entah televisi, koran bahkan you tube pun bisa diakses demi informasi itu.
Sedang kami disini, sungguh tersentak hati kami setiap menonton berita-berita itu. Seakan-akan mimpi buruk 99 kembali menghampiri kehidupan kami yang mulai tenang. Masih terngiang ditelinga bunyi desingan peluru, letusan Bom, asap hitam yg menghanguskan seluruh kota ini. Kami seperti dipaksa untuk melihat kebelakang, saat kami "Acang & Obet" saling berhadap-hadapan dengan penuh kemarahan, saling membedakan dengan atribut2 kelompok masing-masing, sedang pedang ditangan atau senapan rakitan siap mencari mangsa saudara kami sendiri.
Dari rasa tersentak dan bayangan buruk masa lalu itu, akhirnya kami pun berkumpul beberapa saat lalu dihalaman Gong Perdamaian, beberapa komunitas di kota kecil ini menggalang "Suara damai dari Timur untuk Indonesia". Sebelum acara itu, kami sempat ragu-ragu untuk masuk ke halaman Gong itu, rasa ragu akibat janji yang pernah diikrarkan. Tapi kata seorang teman "Hidup adalah pekerjaan memberi makna pada setiap peristiwa" mungkin dia benar, hari itu saya pun memaknai sebuah simbol dengan pikiran berbeda, makna yang tersendiri bahwa kami harus memberi makna terhadap Simbol Perdamaian ini, simbol yang diletakkan di kota kami. Seperti celetukan seorang teman saat diskusi di depan pintu masuk waktu itu :
"Katong su rasa saki! katong su dapa pait! Jang sampe Indonesia rasa akang lai!"
Terjemahan bebas : kita pernah merasakan sakitnya kerusuhan itu, kita pernah mendapatkan pahitnya, jangan sampai Indonesia merasakan tragedi itu juga.

-----------------------
Terima kasih buat Ambon Bergerak, Blogger Arumbai, Maluku Photo Club, Molucca Hiphop Community, Sageru, D'Embalz, Semang, Bengkel Sastra Maluku, Bengkel Seni Embun, Opa Bing Leiwakabessy, Amadeus, Ipeh, Rere, Bung Glen Fredly, Anana "Ambon Damai" dll.
(Lihat foto: Gong Perdamaian, Pengungsi & Indonesia)
Artikel ini memiliki: 15 Komentar • Penting +6