Tembok-tembok putih istana itu semakin kusam saja. Pesan yang keluar dari sana juga menyiratkan kegalauan dan pembelaan diri. Tidak ada yang tegas, semua kembali ke laptop dialog. Langkah yang sudah terlalu mudah dibaca oleh lawan-lawan politik, sekaligus membuat aparat keamanan kebingungan dalam menerjemahkan sikap di lapangan.
Kasus Ahmadiyah bisa menjadi contoh yang menarik. Isu ini dicuatkan di kancah nasional ketika sebuah negosiasi politik sudah disiapkan untuk kasus yang lain. SBY terjebak ada pusaran kebenaran atau ketidakbenaran sebuah mazhab. Hal yang seharusnya berada di luar wilayah negara.
Penyelesaiannya sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Kembalikan saja semua kepada Pancasila. Dasar negara ini memang sudah dilupakan oleh mereka para pelaksana negara. Ia dinafikan dan dimasukan ke laci meja, sendirian. Dengan gampang Pak Beye dapat memberikan perintah bila sekelompok orang menganiaya kelompok yang lain maka mereka tegas melanggar Pancasila, pasal sekian sekian. Perbedaan mazhab silahkan berdebat untuk sebuah kebenaran atau keabsahan siapa masuk surga atau terlempar ke neraka. Negara tidak perlu terlalu repot dengan hal-hal itu. Teapi membakar, menganiaya orang lain, dan bahkan samapai membunuh adalah urusan negara.
Mereka yang melanggar langsung saja di cap melawan Pancasila. Tuduhan ini bermakna jauh lebih dahsyat dari pada sekedar melanggar ketertiban umum bahkan melanggar hukum sekalipun yang merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai luhur Pancasila.
Pak Beye, silahkan dicoba. Saya pikir tidak ada satu organisasi manapun di negeri ini yang mau dicap bertentangan dengan Pancasila apalagi apalagi berdebat tentang itu.
Salam, Laler ...
Artikel ini memiliki: 8 Komentar • Menarik +5