Judul itu, saya kutip dari sebuah update status dari kawan, seorang muslimah yang terkenal lewat karya bukunya Rich Mom Poor Mom.
Saya sempat terkesima membacanya. Nyaris tidak percaya bahwa kawan yang beranjak mulai terkenal ini, punya kemampuan berucap tidak santun terhadap seorang bunda. Paling tidak, ketidak santunan ini adalah versi saya, telinga Jawa, yang sejak kecil diajarkan soal kesantunan kepada seorang bunda....
Saya petik dialog updating status, pada Rabu, 15 Februari 2011, pukul 11.59 WIB:
Peng_update status:
"Hari gini kok masih ada yg ngucapin met valentine, apa masih kurang jelas kalo saya ini seorang muslimah yg pastinya gak ngerayain yg begituan..?"
Response 1:
Mungkin niat pemberi ucapan adalah menebar spirit positif dari valentine. Menebar kasih sayang terhadap sesama, saling berbagi dan menolong tanpa membedakan SARA, menjauhi anarkisme dan menista sebagaimana diajarkan Islam. Segala perbuatan tergantung dengan niatnya saya kira....
Response 2 (Bunda X):Setuju banget dgn Response 1. Semua tergantung niatnya. Ada yg memanfaatkan valentine utk cari rizki dg jualan bunga, jualan coklat yaa gpp menurut saya. Saya lebih suka melihat orang membagi coklat di hari valentine (atau hari apa aja) dari pada melihat orang saling membunuh atas nama agama. Hidup pluralisme!.....
Peng_update status merespon kembali (dengan nada kethus):
"saya anti pluralisme kalo berhubungan dengan aqidah..."
Ini, mau tidak mau, menginspirasi saya untuk menulis.
Rasanya, bukan hanya kawan saya yang mulai terkenal ini , yang mempunyai prinsip yang amat kuat dipegang teguh di satu sisi tetapi, sedikit lupa bahwa Islam itu Rakhmatan lil Alamin. Merakhmati seluruh umat.
Tidak ada yang salah dengan perayaan kasih sayang, jika itu merupakan kasih anak kepada ayah bundanya dan sebaliknya, dan kasih sayang antar sesama tanpa permusuhan.
Saya sama sekali tidak berani mendefinisikan bahwa perayaan valentines day adalah identik dengan sebuah pesta sex yang dilakukan oleh para remaja atau sejenisnya. Ini adalah salah satu saja ujud ekstrimitas kekhawatiran, tetapi tidak layak untuk men_judgement seseorang bahwa merayakan hari kasih sayang , diluar hal-hal yang menyimpang, adalah sesuatu yang haram.
Bagi saya, Islam akan menjadi jauh lebih indah ketika ia dapat merakhmati seluruh umat, lalu kemudian menjadi menarik bagi siapapun untuk mendatangi dan mengikuti ajarannya dengan cara-cara yang damai pula.
Akan menjadi sangat ironis, ketika saya berjalan menengadah sambil menepuk dada, mengatakan kepada semua orang bahwa Saya ini Islam Tulen, sementara tidak merasa berdosa (dan tidak pula menganggap haram) menggunakan media face book atau pun internet, yang notabene adalah hasil karya kaum non muslim, untuk membangun sebuah brand diri, atau keterkenalan.
Sangat ironis, ketika saya berjalan menengadah sambil menepuk dada, mengatakan kepada semua orang bahwa saya muslim sejati, sementara untuk memberi judul buku saya saja, saya enggan (malu) menggunakan bahasa Arab bahasa yang saya agung-agungkan.
Mengapa? Karena saya tahu betul, seberapa jumlah mereka yang tertarik jika saya memberi judul buku saya adalah dengan bahasa Arab. Saya juga tahu persis, sisi-sisi keuntungan menjuduli buku saya dengan bahasa English, bahasanya orang dari negeri non muslim.
Sangat ironis, ketika saya berjalan menengadah sambil menepuk dada dengan segala keterkenalan saya yang mulai terbangun, mengaku kepada setiap orang bahwa Saya Islam Tulen yang SANGAT ANTI PLURALISME, tetapi di sisi lain, saya dengan diam-diam, meminjam strategi para non muslim "musuh" besar saya itu, dalam rangka menjual karya-karya saya.
Bahkan saya tak malu-malu meminjam judul buku seorang Robert Kiyosaki, warga Amerika yang non muslim, untuk mendongkrak penjualan karya saya.
Saya tidak yakin bahwa karya saya akan laris, jika saya memberinya judul dalam bahasa Indonesia, Ibu Kaya Ibu Miskin.
Itulah sebabnya, saya lebih suka, diam-diam, mengubah saja sebuah karya judul Rich Dad Poor Dad, menjadi Rich Mom Poor Mom.
Saya tidak mampu merasakan bahwa keterkenalan saya dibangun dari cinta kasih orang lain, yang mengijinkan karya-karyanya dibagi kepada banyak orang dan digunakan oleh saya dengan tanpa syarat. Apakah iya, saya harus menolak yang namanya pluralisme?
Ketika pertama kali Allah SWT, hendak menciptakan manusia, bukankah malaikat telah memperingatkan dengan mengatakan:
"Bukankah manusia hanya ingin membuat kerusakan saja di muka bumi ini?" Lalu, Allah SWT menjawab: "Aku lebih tahu dari pada apa yang engkau ketahui".
Mengapa Allah SWT tetap saja merealisasi rencanaNya untuk menciptakan manusia yang sudah diperkirakan akan bermusuh-musuhan dan membuat kerusakan di muka bumi?
Karena Allah SWT punya sesuatu sebagai jawaban kunci atas semuanya. Sesuatu itu adalah Kitabullah. Kitabullah inilah yang merupakan petunjuk, merupakan pedoman, merupakan penuntun untuk hidup, agar solusi atas kekhawatiran soal permusuhan dan pengrusakan itu dapat dipelajari di sana, dan dapat ditemukan dari sana.
Bagi saya, kitab itu bicara tentang betapa pentingnya pemahaman pluralisme. Kalau tidak, mengapa Allah memilih orang-orang yang beragama lain untuk membangun rejeki saya? Mengapa Allah SWT mengijinkan fasilitas yang dikreasi oleh non muslim untuk dapat saya gunakan dalam aktivitas syi'ar saya?
Mengapa saya, sulit untuk mampu melihat hal-hal yang sangat indah ini?
Wallohu'alam bishowab. Saya hanya bisa mengucap istighfar.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin. Salam bahagia....
Artikel ini memiliki: 22 Komentar • Menarik +4